Covid-19

5 Makanan yang Harus Dihindari saat Terinfeksi COVID-19

December 21, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Bagi orang yang terinfeksi COVID-19, daya tahan tubuh kuat diperlukan agar bisa mempercepat penyembuhan. Selain diet atau pola makan bergizi, beberapa makanan sebaiknya dihindari untuk sementara waktu. Sebab, ada makanan tertentu yang justru dapat memperparah keadaan.

Lantas, apa saja makanan yang harus dijauhi ketika sedang terinfeksi COVID-19? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Sekilas tentang COVID-19

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2, salah satu jenis dari virus Corona. COVID-19 yang merupakan kependekan dari Coronavirus Disease 2019 merupakan penyakit yang menyerang dan memengaruhi saluran pernapasan, terutama paru-paru.

Penyakit ini sangat menular, karena virus pemicunya bisa menyebar ke udara. Transmisi dari orang ke orang membuat kasus COVID-19 terus meningkat. Pada kasus yang parah, seseorang bisa mengalami berbagai komplikasi serius yang dapat membahayakan nyawa.

Badan Kesehatan Dunia, WHO menjelaskan, Corona merupakan virus yang bersifat zoonosis. Artinya, virus tersebut pertama kali berkembang pada hewan sebelum ditularkan ke manusia.

Begitu virus berada di dalam tubuh manusia, SARS-CoV-2 bisa menyebar ke orang lain melalui percikan air liur (droplet) ketika bersin, berbicara, atau batuk.

Makanan pantangan pengidap COVID-19

Orang yang terinfeksi COVID-19 disarankan untuk menerapkan pola diet bergizi, termasuk menghindari beberapa makanan tertentu. Makanan tersebut dikhawatirkan bisa memperparah keadaan dan memperlambat proses penyembuhan.

Berikut sejumlah makanan yang sebaiknya dihindari oleh para pengidap COVID-19:

1. Makanan dan minuman tinggi gula

Makanan atau minuman tinggi gula merupakan hal pertama yang sebaiknya dijauhi. Menurut sebuah penelitian yang terbit di American Journal of Clinical Nutrition, gula adalah salah satu zat yang bisa memicu inflamasi.

Gula olahan misalnya, dapat meningkatkan proses sekresi sitokin yang bisa menyebabkan peradangan. COVID-19 sendiri merupakan penyakit yang diawali dengan peradangan di saluran pernapasan bagian atas.

Lalu, bagaimana untuk memberi rasa manis pada makanan atau minuman? Cobalah untuk menggunakan pemanis alami non-gula yang lebih sehat, seperti sari buah, molase, atau madu.

Baca juga: 5 Pemanis Alami Pengganti Gula yang Lebih Menyehatkan

2. Lemak tak sehat

Makanan tinggi lemak. Sumber foto: Zapnito.

Makanan berikutnya yang harus dihindari oleh orang terinfeksi COVID-19 adalah lemak tak sehat, terutama lemak jenuh dan trans. Dikutip dari The Gourmet Journal, lemak tak sehat bisa memicu dan memperparah aktivitas peradangan di dalam tubuh.

Pada orang sehat pun, konsumsinya benar-benar harus dibatasi, apalagi yang sudah terkena COVID-19. Saat tidak terserang penyakit, asupan lemak tak sehat yang disarankan adalah maksimal 10 persen dari total kalori harian yang masuk.

Lemak jenuh biasanya terkandung secara alami pada beberapa makanan, seperti susu dan olahannya, daging (termasuk unggas), dan kuning telur. Sedangkan lemak trans merupakan hasil dari proses kimiawi yaitu hidrogenisasi pada makanan.

Proses tersebut hampir selalu terjadi pada pengolahan makanan yang menggunakan minyak goreng. Molekul pada minyak yang telah dipanaskan mengontaminasi dan mengikat partikel lemak pada makanan.

3. Makanan tinggi garam

Meski kerap dijadikan bumbu andalan di hampir setiap masakan, ternyata garam merupakan salah satu zat yang bisa memperparah aktivitas peradangan, lho.

Tak hanya itu, menurut sebuah studi yang baru-baru ini terbit di Journal of Translational Medicine, asupan tinggi garam bisa melemahkan fungsi kekebalan tubuh. Padahal, saat terinfeksi COVID-19, sistem imun sangat dibutuhkan untuk melawan keberadaan SARS-CoV-2.

4. Alkohol

Alkohol bisa melemahkan sistem imun. World Health Organization (WHO) menjelaskan, konsumsi alkohol dapat merusak kemampuan tubuh dalam mengatasi penyakit menular, termasuk COVID-19.

Alkohol juga bisa memperlama durasi infeksi SARS-CoV-2 di dalam tubuh. Sebab, zat tersebut berpotensi merusak fungsi dari obat yang diminum. Bahkan, yang terparah, alkohol dapat mengubah efek obat-obatan medis menjadi zat yang bersifat toksik atau racun.

WHO menegaskan, dalam keadaan apapun, kamu tidak boleh mengonsumsi semua jenis alkohol dalam hal pencegahan dan pengobatan terhadap COVID-19.

5. Daging merah

Menurut Harvard School of Public Health, konsumsi daging merah dapat meningkatkan beberapa penyakit seperti kanker, gangguan jantung, dan diabetes. Beragam gangguan kesehatan itu bisa menjadi penyakit pendamping yang akan mempersulit penyembuhan COVID-19.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menjelaskan, pada orang yang belum terinfeksi pun, ketiga penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko terkena COVID-19 dengan gejala yang lebih parah.

Nah, itulah daftar makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi oleh orang yang terinfeksi COVID-19. Sebaliknya, asupan makanan peningkat daya tahan tubuh ditingkatkan untuk mempercepat proses penyembuhan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. World Health Organization (WHO), diakses 18 Desember 2020, Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report – 94.
  2. World Health Organization (WHO), diakses 18 Desember 2020, Food and nutrition tips during self-quarantine.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 18 Desember 2020, People with Certain Medical Conditions.
  4. Harvard School of Public Health, diakses 18 Desember 2020, Healthy swaps key to reducing red meat intake during the COVID-19 pandemic.
  5. American Journal of Clinical Nutrition, diakses 18 Desember 2020, Effect of sucrose on inflammatory markers in overweight humans.
  6. The Gourmet Journal, diakses 18 Desember 2020, What to Eat (and What to Avoid) in Times of Coronavirus.
  7. Food Navigator, diakses 18 Desember 2020, High-salt intake bad for the immune system: study.

    Berita Terkait
    register-docotr