Covid-19

Cuaca Dingin Disebut-sebut Bisa Meningkatkan Penyebaran COVID-19, Benarkah?

December 21, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Baru-baru ini seperti dilansir Healthline, diketahui bahwa cuaca bukan hal yang penting dalam penyebaran COVID-19. Panas ataupun dingin bukan hal yang berpengaruh besar. 

Diyakini bahwa perilaku manusia adalah faktor terbesar dalam penyebaran COVID-19. Tapi seperti apa sebenarnya penjelasan kaitan antara penyebaran COVID-19 dengan cuaca dingin?

Penelitian terbaru tentang cuaca dingin dan penyebaran COVID-19

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Texas, Austin, cuaca memang tidak memberikan dampak signifikan pada penyebaran COVID-19. Penelitian yang dipublikasikan akhir Oktober 2020 itu juga menegaskan cuaca panas atau dingin tidak berpengaruh pada penularan COVID-19. 

“Cuaca dingin memberikan dampak yang lebih rendah dalam penyebaran (COVID-19) dibandingkan hal lain seperti mobilitas,” kata Dev Niyogi, PhD, professor T Austin’s Jackson School of Geosciences and Cockrell School of Engineering dalam penelitian tersebut.

Penelitian itu bisa menjawab banyaknya pertanyaan tentang benar atau tidaknya cuaca dingin berpengaruh pada penyebaran COVID-19. Mengingat sebagian negara dengan empat musim sudah mulai memasuki musim dingin. 

Meski tidak berpengaruh, apakah masih perlu dilakukan pencegahan? 

Pencegahan COVID-19 tetap harus dilakukan. Terlepas dari tidak berpengaruhnya cuaca dingin pada penularan COVID-19, namun cuaca dingin juga bisa menyebabkan berbagai penyakit lainnya. Flu adalah salah satu penyakit yang paling umum terjadi sepanjang musim dingin. 

Sementara itu, di Inggris tetap memusatkan perhatian pada kondisi kesehatan penduduknya selama musim dingin. Dilansir Medical News Today, penyakit pernapasan memang banyak terjadi di musim dingin dan ini dapat mendorong orang untuk melakukan tes COVID-19. 

Oleh karena itu, meskipun tidak memiliki kaitan langsung tapi di beberapa tempat, COVID-19 di musim dingin tetap mendapat perhatian khusus. Termasuk salah satunya seperti yang terjadi di Inggris. 

Ada berbagai alasan mengapa penyakit pernapasan bisa mengakibatkan angka kematian lebih tinggi di musim dingin, hal ini dapat disebabkan oleh kemiskinan, ketidakmampuan untuk menghangatkan rumah.

Pencegahan COVID-19 dan ancaman penyakit lainnya

Untuk mencegah angka penyakit akibat cuaca dingin meningkat dan berusaha tetap melalui masa pandemi, pemerintah Inggris mengajak penduduk untuk menjaga mereka yang memiliki faktor risiko tinggi, seperti:

  • Penduduk lanjut usia yang rentan pilek dan COVID-19
  • Orang dengan kondisi medis tertentu seperti penyakit pernapasan dan kardiovaskular
  • Penderita diabetes
  • Ibu hamil

Memastikan orang-orang berisiko tetap aman selama musim dingin adalah hal yang diperlukan. Apalagi selama pandemi sebagian besar pengobatan dilakukan virtual, sehingga bagi lansia atau orang yang hidup dalam kemiskinan akan memiliki kendala untuk mengaksesnya.

Selain masalah kesehatan langsung, pemerintah juga memerhatikan dampak lain, yaitu masalah kesehatan mental. Musim dingin membuat isolasi pandemi semakin menantang. Rasa sepi dan terisolasi dapat menyebabkan gangguan mental termasuk depresi dan kecemasan.

Maka dari itu, akses kesehatan, fisik ataupun mental diharap dapat bersiap memenuhi kebutuhan yang mungkin datang selamam usim dingin tahun ini. Demikian informasi tentang pengaruh musim dingin dan penyebaran COVID-19. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline, diakses 17 Desember 2020
Weather Doesn’t Matter: COVID-19 Can Spread in Warm or Cold Temperatures
GOV.UK, diakses 17 Desember 2020
Health Matters: Cold Weather and COVID-19
Medical News Today, diakses 17 Desember 2020
How does weather affect COVID-19?

    register-docotr