Covid-19

Air Kelapa Disebut-sebut Bisa Mengobati COVID-19, Cek Dulu Faktanya!

July 16, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Pesan berantai WhatsApp kembali diramaikan dengan informasi seputar ‘racikan obat’ penyembuh COVID-19. Konon campuran air kelapa muda dengan jeruk nipis dan garam bisa menyembuhkan infeksi virus berbahaya ini.

Dalam narasinya, para penyebar pesan berantai itu mengatakan bahwa air kelapa sangat manjur.

Pesan ini juga meminta setiap penerimanya untuk menyebarkannya agar bisa membantu mengatasi virus COVID-19. Pertanyaannya adalah, apakah informasi ini benar?

Baca juga: 3 Tips Jalan Santai sambil Berjemur agar Lansia Terhindar dari Osteoporosis

Kandungan air kelapa

Dilansir Mayo Clinic, air kelapa adalah cairan bening yang terdapat pada kelapa, jangan salah paham dengan santan ya. Air kelapa rasanya manis dan mengandung karbohidrat yang mudah dicerna.

Air kelapa memiliki elektrolit alami seperti kalium, natrium, dan mangan, yang bisa memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Itulah mengapa ini umum digunakan untuk rehidrasi setelah aktivitas fisik atau penyakit seperti diare.

Manfaat air kelapa untuk kesehatan

Dilansir Healthline, berikut adalah beberapa manfaat meminum air kelapa untuk kesehatan:

1. Bersifat antioksidan

Ketika ada terlalu banyak radikal bebas, tubuh akan memasuki keadaan stres oksidatif, yang dapat merusak sel-sel dan meningkatkan risiko penyakit.

Satu studi menemukan bahwa tikus dengan kerusakan hati menunjukkan perbaikan yang signifikan ketika diobati dengan air kelapa, dibandingkan dengan tikus yang tidak menerima pengobatan.

2. Berdampak baik pada diabetes

Penelitian menunjukkan bahwa air kelapa dapat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan penanda kesehatan lainnya pada hewan diabetes. Namun, studi terkontrol diperlukan untuk mengonfirmasi efek ini pada manusia.

3. Menjaga kesehatan jantung

Minum air kelapa dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung. Dalam sebuah penelitian, tikus yang mengonsumsi air kelapa mengalami penurunan kolesterol darah dan trigliserida. Mereka juga mengalami penurunan lemak hati yang signifikan.

4. Mengurangi tekanan darah

Air kelapa juga bagus untuk mengontrol tekanan darah. Dalam satu penelitian, air kelapa diketahui berperan dalam perbaikan tekanan sistolik (jumlah pembacaan tekanan darah yang lebih tinggi) pada 71 persen peserta.

Baca juga: 3 Alasan Lansia Tidak Diprioritaskan Mendapat Vaksin COVID-19

Benarkah air kelapa bisa menyembuhkan COVID-19?

Klaim ini tidak benar. Menurut Dekan Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, ramuan obat berbahan air kelapa yang disebut-sebut bisa menjadi obat COVID-19 adalah hoax alias berita bohong.

“Sampai sekarang, belum ada obat modern atau herbal yang efektif membunuh COVID-19,” ujar Prof Ari, dikutip dari AFP.

Klaim dalam unggahan tersebut juga disebut ‘tidak berdasar’ oleh profesor farmakologi Universitas Gadjah Mada, Zullies Ikawati.

Dengan demikian, narasi yang beredar melalui Whatsapp yang mengatakan bahwa campuran air kelapa, jeruk nipis dan garam dapat menyembuhkan COVID-19 adalah tidak benar dan masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.

Cara terbaik mengonsumsi air kelapa

Air kelapa cukup rendah kalori dan karbohidrat. Airnya paling segar jika berasal langsung dari kelapa. Cukup tekan sedotan ke bagian lembut kelapa hijau dan mulailah meminumnya.

Kamu juga bisa menyimpannya di lemari es dan mengonsumsinya dalam waktu dua minggu setelah pembelian.

Kamu dapat membeli air kelapa dalam kemasan di sebagian besar toko kelontong. Namun, pastikan untuk membaca bahan-bahannya untuk memverifikasi bahwa kamu mendapatkan 100 persen air kelapa karena beberapa merek botolan mengandung tambahan gula atau zat penyedap.

Masih punya pertanyaan lain? Ayo konsultasi secara lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Web MD diakses pada 15 Juli 2021

Healthline diakses pada 15 Juli 2021

Mayo Clinic diakses pada 15 Juli 2021

AFP diakses pada 15 Juli 2021

VOI diakses pada 15 Juli 2021

    register-docotr