Perkembangan Janin

Viral: Kisah Bayi Meninggal dalam Kandungan, Apa Penyebabnya?

September 1, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Baru-baru ini viral di media sosial mengenai kisah seorang ibu yang melahirkan. Pasalnya, bayi yang dilahirkan ternyata sudah dalam kondisi tak bernyawa. Kisah ini awalnya dibagikan oleh sebuah akun Tik Tok yang mana merupakan kakak dari ibu sang bayi.

Menurut akun tersebut, sang bayi sudah tidak ada pergerakkan selama 3 hari. Kemudian, diketahui bahwa bayi sudah meninggal di dalam kandungan.

Terkait dengan pemberitaan tersebut, sebenarnya apa penyebab bayi meninggal di dalam kandungan? Untuk mengetahui informasi selengkapnya, simak ulasannya di bawah ini.

Baca juga: Apa Saja Tanda-tanda Keguguran yang Tidak Boleh Disepelekan?

Apa penyebab bayi meninggal di dalam kandungan?

Bayi meninggal dalam kandungan atau stillbirth adalah suatu kondisi di mana bayi meninggal dalam kandungan setelah minggu ke-20 kehamilan. Bayi mungkin saja telah meninggal dalam rahim beberapa minggu atau jam sebelum persalinan.

Perlu diketahui bahwa stillbirth dan keguguran merupakan dua kondisi yang berbeda. Sebab, keguguran biasanya terjadi sebelum memasuki minggu ke-20 kehamilan.

Dilansir dari laman Cleveland Clinic, penyebab bayi meninggal dalam kandungan tidak selalu diketahui, namun ada beberapa faktor yang dikatakan sebagai faktor penyebab, di antaranya adalah:

1. Masalah dengan plasenta atau tali pusar

Plasenta adalah organ yang melapisi rahim ketika hamil. Melalui plasenta dan tali pusar, janin bisa memperoleh oksigen dan nutrisi. Maka dari itu, ketika terdapat masalah dengan plasenta ataupun tali pusar, janin berisiko tidak berkembang dengan baik.

2. Preeklampsia

Preeklampsia dalah tekanan darah tinggi dan pembengkakan yang seringkali terjadi pada akhir masa kehamilan. Memiliki preeklampsia dapat meningkatkan risiko stillbirth.

3. Kondisi kesehatan ibu

Kondisi medis lain yang dialami oleh ibu juga dikatakan dapat menyebabkan stillbirth, ini termasuk diabetes, penyakit jantung, penyakit tiroid, atau bahkan infeksi virus ataupun bakteri.

4. Cacat lahir

Satu atau lebih cacat lahir adalah penyebab sekitar 25 persen dari bayi meninggal dalam kandungan.

5. Infeksi

Infeksi yang terjadi antara minggu ke-24 dan minggu ke-27 dapat menyebabkan kematian janin. Biasanya, ini merupakan infeksi bakteri yang menyebar dari vagina ke rahim.

Bakteri yang umum dapat meliputi, group B streptococcus, E. coli, klebsiella, enterococcus, Haemophilus influenza, chlamydia dan mycoplasma atau ureaplasm. Masalah lainnya, dapat meliputi rubella, flu, herpes, penyakit Lyme, atau bahkan malaria.

Baca juga: Hamil Kembali saat Menyusui, Mungkin Tidak Ya?

Biasanya sering terjadi di usia kehamilan berapa?

Bayi meninggal dalam kandungan lebih sering terjadi sebelum persalinan. Namun, sebagian kecil terjadi selama persalinan dan kelahiran. Stillbirth sendiri menurut sebuah studi umumnya terjadi di usia kehamilan trimester 3.

Meskipun demikian, dikutip dari laman Centers for Disease Control and Prevention, stillbirth diklasifikasikan sebagai awal, akhir, atau cukup bulan.

  • Stillbirth awal (early stillbirth): Kematian janin yang terjadi antara 20 dan 27 minggu kehamilan
  • Stillbirth akhir (late stillbirth): Kematian janin yang terjadi antara 28 dan 36 minggu kehamilan lengkap
  • Stillbirth: Kematian janin yang terjadi antara 37 atau lebih minggu kehamilan

Berapa lama bayi yang meninggal dalam kandungan harus dikeluarkan dari rahim?

Menurut, National Health Service, apabila bayi meninggal dalam kandungan, ibu dapat menunggu persalinan dimulai secara alami atau persalinan dapat diinduksi. Akan tetapi jika kesehatan sang ibu terancam, bayi perlu dilahirkan sesegera mungkin.

Apakah jika sudah lebih dari 3 hari berbahaya bagi ibu?

Pada dasarnya, kapan dan bagaimana prosedur mengeluarkan bayi dari dalam kandungan bergantung dari seberapa jauh kehamilan hingga kondisi medis.

Sebagian wanita mungkin saja perlu segera melahirkan karena alasan medis, namun sebagian lainnya dapat menunggu sampai kelahiran secara alami. Persalinan sendiri biasanya dimulai dalam kurun waktu 2 minggu setelah bayi meninggal dalam kandungan.

Apakah jika sudah lebih dari 3 hari berbahaya bagi ibu? Kembali lagi, ini tergantung dari kondisi medis sang ibu. Jika kondisi medis ibu tidak memungkinkan, ini dapat berisiko bagi sang ibu.

Pada dasarnya jika sang ibu tidak melakukan apa-apa, persalinan akan dimulai dengan sendirinya dalam kurun waktu beberapa minggu.

Pilihan lainnya adalah dengan menginduksi persalinan. Induksi persalinan segera mungkin akan disarankan jika sang ibu memiliki masalah kesehatan tertentu.

Itulah beberapa informasi mengenai penyebab bayi meninggal dalam kandungan dan informasi lainnya. Jika kamu memiliki pertanyaan lain seputar kehamilan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diakses pada 01 September 2021. What is Stillbirth? 

Cleveland Clinic (2020). Diakses pada 01 September 2021. Stillbirth 

Detik.com (2021). Diakses pada 01 September 2021. Cerita Haru Ibu Melahirkan Bayi yang Sudah 3 Hari Meninggal dalam Kandungan 

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Galuh (2019). Diakses pada 01 September 2021. GAMBARAN FAKTOR RISIKO PADA IBU DENGAN BAYI LAHIR MATI (STILLBIRTH) DI KABUPATEN TASIKMALAYA 

Healthline (2018). Diakses pada 01 September 2021. Understanding and Recovering from Stillbirth 

March of Dimes (2020). Diakses pada 01 September 2021. STILLBIRTH 

NHS (2021). Diakses pada 01 September 2021. Stillbirth

    register-docotr