Melahirkan

KB Suntik 1 Bulan Atau 3 Bulan, Manakah yang Lebih Baik?

March 18, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Salah satu metode kontrasepsi yang banyak dipilih oleh masyarakat adalah program Keluarga Berencana (KB). Selain pil, jenis kontrasepsi juga tersedia dalam bentuk injeksi. Wanita yang aktif secara seksual bisa menggunakan jenis kontrasepsi tersebut, termasuk ibu menyusui.

Lantas, jenis KB suntik apa yang cocok untuk ibu menyusui? Apa ada efek samping yang bisa muncul? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Sekilas tentang KB suntik

KB suntik adalah salah satu metode kontrasepsi yang diyakini memiliki efektivitas tertinggi. Menggunakan injeksi hormonal depo medroxiprogesteron asetat (DMPA), KB suntik yang dipakai hanya mengandung hormon progesteron, bukan estrogen.

Efektivitas KB suntik DMPA sangat tinggi, dapat memberikan perlindungan yang hampir sempurna untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Secara umum, baik pil maupun KB suntik memiliki tujuan untuk mencegah ovulasi, mengentalkan lendir serviks, dan menurunkan kemampuan gerak sperma setelah memasuki vagina.

Hormon yang disuntikkan bekerja pada kelenjar pituitari di otak agar mengirim sinyal ke ovarium untuk tidak melepaskan sel telur. Seperti diketahui, tanpa adanya sel telur, kehamilan tidak akan bisa terjadi.

Baca juga: Ciri-ciri Tidak Cocok Pakai Suntik KB 3 Bulan, Apa Saja?

Amankah ibu menyusui menggunakan KB?

Untuk langkah pencegahan agar tak hamil, banyak ibu menyusui memilih untuk menggunakan pil atau KB suntik. Penggunaan pil atau injeksi KB saat menyusui dinilai aman, apalagi jika memakai suntikan yang hanya mengandung progesteron.

Kandungan progesteron dari KB suntik mungkin bisa masuk ke dalam air susu ibu (ASI). Namun, tidak ada efek berbahaya yang akan terjadi pada bayi. Bahkan, pada beberapa kasus, produksi ASI mengalami peningkatan setelah KB suntik tersebut diberikan.

Kapan bisa disuntik KB?

Sebenarnya, saat menyusui, peluang seorang wanita untuk hamil akan menurun. Tapi, bukan berarti peluang itu tidak ada sama sekali. Setelah melahirkan, proses ovulasi akan ditekan, memungkinkan sedikit atau tidak ada sel telur yang dilepaskan dari ovarium.

Mengutip NHS UK, Moms bisa menerima KB suntik kapan saja setelah melahirkan jika tidak sedang menyusui. Namun, jika sedang menyusui, KB suntik biasanya diberikan pada 6 minggu setelah proses persalinan.

KB suntik yang diberikan setelah hari ke-21 pascamelahirkan mengharuskan wanita menggunakan kontrasepsi tambahan, misalnya memakai kondom saat berhubungan seks.

KB suntik 1 bulan atau 3 bulan, mana yang lebih baik?

Sebenarnya, tidak ada aturan khusus dalam memilih injeksi KB setelah melahirkan. Artinya, baik KB suntik 1 bulan atau 3 bulan sama-sama boleh dipilih. Asalkan, injeksi dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu setelah minggu ke-6 persalinan.

Namun, Moms patut mempertimbangkan untuk memilih KB suntik 3 bulan saat sedang menyusui. KB suntik 3 bulan dipercaya dapat memberi perlindungan ekstra dalam mencegah peluang kehamilan.

Dikutip dari Healthline, wanita yang menerima suntikan setiap 12 minggu (3 bulan) secara tepat waktu mempunyai kemungkinan lebih rendah untuk hamil ketimbang jenis KB suntik yang lain. Efektivitasnya juga mencapai 97 persen.

Namun, jika Moms ingin hamil lagi, dibutuhkan waktu setidaknya 10 bulan setelah berhenti menggunakan KB suntik untuk mengembalikan proses ovulasi dan kesuburan.

Baca juga: Telat Minum Pil KB? Ini Dampaknya & Langkah yang Harus Dilakukan!

Waspadai efek samping

Meski relatif aman digunakan pada saat menyusui, baik KB suntik 1 bulan maupun 3 bulan tetap memiliki risiko efek samping yang perlu diwaspadai. Menstruasi mungkin akan berhenti setelah dan selama penggunaan KB suntik, tapi ada beberapa dampak lain yang bisa muncul, yaitu:

  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Penurunan gairah seks
  • Peningkatan berat badan
  • Muncul jerawat
  • Kembung
  • Mual
  • Mengalami gangguan tidur, salah satunya adalah insomnia
  • Rasa nyeri atau sakit di area persendian
  • Payudara sakit
  • Rambut rontok
  • Perubahan suasana hati

Selain itu, wanita yang menggunakan KB suntik DMPA juga dapat mengalami penurunan kepadatan tulang. Tapi, efek itu hanya muncul jika KB suntik dilakukan dalam jangka waktu atau periode yang sangat lama.

Beberapa efek samping di atas dikategorikan sebagai dampak ringan. Meski jarang, masih ada sejumlah efek samping serius yang bisa terjadi, yaitu:

  • Muncul luka bernanah di area bekas suntikan
  • Perdarahan vagina berkepanjangan padahal tidak sedang haid
  • Perubahan warna menjadi kekuningan pada kulit dan bagian putih mata
  • Benjolan di payudara
  • Migrain

Nah, itulah ulasan tentang penggunaan injeksi KB pada ibu menyusui. Agar tepat dalam memilih jenis KB suntik, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter lebih dulu, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Healthline, diakses 17 Maret 2021, Depo-provera.
  2. Healthline, diakses 17 Maret 2021, Which Forms of Birth Control Are Safe to Use While Breastfeeding?
  3. NHS UK, diakses 17 Maret 2021, The contraceptive injection.
  4. Verywell Health, diakses 17 Maret 2021, The Safety of Taking Hormonal Birth Control While Breastfeeding.
  5. Litbang Kementerian Kesehatan, diakses 17 Maret 2021, Gambaran efek samping pada akseptor kb suntik 3 bulan di bpm bidan n kota bogor.
  6. Neliti, diakses 17 Maret 2021, KB suntik 3 (tiga) bulan dengan efek samping gangguan haid dan penanganannya.

    register-docotr