Kamus Penyakit

Serba-serbi Penyakit Buta Warna: Ketahui Penyebab, Gejala dan Cara Pemeriksaannya

March 18, 2021 | Anisya Fitrianti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Apakah kamu atau kerabat dekatmu sulit membedakan warna tertentu? Hati-hati karena bisa jadi ini adalah pertanda dari penyakit buta warna. Bahkan sebagian besar penderita buta warna tidak menyadari mereka memiliki gangguan ini.

Yuk, kenali lebih lanjut tentang penyakit buta warna pada ulasan berikut ini.

Apa itu penyakit buta warna? 

Penyakit buta warna yakni ketidakmampuan untuk memahami warna secara normal atau melihat perbedaan antara warna-warna tertentu. Istilah buta warna sebenarnya merujuk pada kondisi saat penglihatan seseorang semuanya dalam nuansa hitam dan putih tetapi kondisi ini jarang terjadi. 

Baca juga: Ciri-ciri Mata Minus: Faktor Risiko dan Cara Mengatasi yang Lebih Efektif

Tipe penyakit buta warna

penyakit buta warna
Perbandingan penglihatan pada orang normal dan buta warna. (Foto:researchgate.net)

Umumnya ada tiga tipe penyakit buta warna:

  • Tipe pertama. Buta warna tipe ini menyebabkan penderitanya kesulitan membedakan warna hijau dengan warna merah. 
  • Tipe kedua. Buta warna tipe kedua ditandai dengan ketidakmampuan penderitanya untuk membedakan warna biru dengan warna kuning.
  • Tipe ketiga. Tipe ketiga disebut juga sebagai monokromasi, yang merupakan bentuk buta warna yang paling tidak umum. Penderitanya tidak dapat melihat warna sama sekali, sehingga semuanya tampak abu-abu atau hitam dan putih.

Buta warna parsial

Untuk tipe pertama dan kedua, biasanya disebut juga dengan buta warna parsial. Penderita buta warna parsial umumnya memiliki kesulitan untuk membedakan sebagian warna.

Buta warna parsial dapat dibagi ke dalam beberapa tipe lagi sesuai gangguan yang terjadi pada mata penderitanya. Tipe buta warna parsial, antara lain sebagai berikut:

Buta warna merah-hijau

Penyakit buta warna merah-hijau terjadi ketika pigmen pada sel kerucut merah atau sel kerucut hijau tidak berfungsi dengan baik. Bahkan tidak berfungsi sama sekali. Buta warna merah-hijau dapat dibagi kembali ke dalam beberapa jenis, yakni: 

  • Deuteranomaly

Deuteranomaly adalah bentuk paling umum dari buta warna yang memengaruhi 5 persen laki-laki, tetapi jarang terjadi pada perempuan.

Kondisi ini terjadi ketika ada gangguan pada sel kerucut hijau. Penderita buta warna tipe ini akan melihat warna kuning dan hijau menjadi lebih merah, serta sulit untuk membedakannya dari warna biru ke ungu.

  • Protanomali

Protanomali terjadi ketika ada gangguan pada sel kerucut merah. Warna oranye, merah, dan kuning akan terlihat lebih hijau, dan warnanya kurang cerah.

Biasanya buta warna tipe ini tergolong ringan dan tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pada perempuan kasus ini jarang ditemukan tetapi pada laki-laki ditemukan sekitar 1 persen. 

  • Protanopia

Protanopia terjadi ketika seseorang tidak memiliki sel kerucut merah yang berfungsi sama sekali. Warna merah terlihat abu-abu gelap. Beberapa warna oranye dan hijau terlihat kuning. Pada perempuan kasus ini jarang ditemukan tetapi pada laki-laki ditemukan sekitar 1 persen. 

  • Deuteranopia

Deuteranopia terjadi ketika seseorang tidak memiliki sel kerucut hijau yang berfungsi sama sekali. Warna merah mungkin terlihat menjadi kuning kecoklatan, dan hijau mungkin terlihat krem. Pada perempuan kasus ini jarang ditemukan tetapi pada laki-laki ditemukan sekitar 1 persen. 

Buta warna kuning-biru

Penyakit buta warna kuning-biru terjadi ketika sel kerucut biru dalam retina hilang atau tidak berfungsi dengan benar.

Tipe buta warna ini merupakan tipe kedua yang paling umum, dan mempengaruhi perempuan maupun laki-laki secara merata. Buta warna kuning-biru dapat dibagi kembali ke dalam beberapa jenis, yakni: 

  • Tritanomaly

Buta warna jenis ini terjadi ketika sel kerucut biru bekerja dengan cara terbatas. Sehingga para penderitanya akan melihat warna biru agak lebih hijau. Namun kondisi ini sangat jarang terjadi. 

  • Tritanopia

Tritanopia juga dikenal sebagai buta warna biru-kuning. Kondisi ini terjadi ketika mata tidak memiliki sel kerucut biru sama sekali. Sehingga warna biru akan tampak hijau, dan warna kuning terlihat abu-abu muda atau ungu.

Buta warna parsial merupakan masalah umum yang memengaruhi sekitar 1 dari 12 pria dan 1 dari 200 wanita. Kebanyakan orang mampu beradaptasi dengan kekurangan penglihatan warna dan jarang menjadi kasus yang serius.

Buta warna lengkap 

Buta warna lengkap atau yang dikenal sebagai monokromasi membuat penderitanya tidak melihat warna sama sekali. Ada dua jenis monokromasi yang dapat terjadi.

  • Cone monochromacy

Kondisi ini terjadi ketika 2 dari 3 sel kerucut yang berisi warna merah, hijau biru tidak berfungsi. Bila hanya satu jenis kerucut yang berfungsi, sulit untuk membedakan satu warna dari yang lain.

Selain itu, bila yang rusak adalah sel kerucut biru, kamu bisa kehilangan penglihatan yang tajam atau mungkin mengalami rabun jauh. Penderita buta warna jenis ini juga berpotensi mengalami gerakan mata yang tidak terkendali atau nystagmus.

  • Rod monochromacy

Jenis buta warna yang satu ini disebut juga sebagai achromatopsia. Ini merupakan bentuk kebutaan warna paling parah karena tidak ada satupun sel kerucut yang berfungsi di dalam mata. 

Akibatnya, penderita buta warna jenis ini hanya dapat melihat warna hitam, putih, dan abu-abu. Di samping itu, mereka cenderung sensitif terhadap cahaya terang dan mungkin memiliki gerakan mata yang tidak terkendali (nystagmus).

Gejala penyakit buta warna

Tidak sedikit orang yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan penglihatan warna.

Terkadang mereka baru menyadarinya ketika mengalami kebingungan saat melihat benda dengan warna tertentu, misalnya lampu lalu lintas. Sehingga butuh tes khusus untuk mengetahui penyakit buta warna. 

Buta warna sering terdeteksi pada usia muda, lebih tepatnya saat anak-anak mempelajari perbedaan warna. Namun pada beberapa kasus, buta warna tidak dapat dideteksi saat anak-anak karena biasanya sebelumnya telah belajar mengaitkan warna tertentu dengan objek tertentu. 

Gejala yang paling sering terjadi adalah perubahan dalam penglihatan atau lebih tepatnya kesulitan untuk membedakan warna pada objek. Tingkat ketidakmampuan penglihatan ini bisa terbagi menjadi ringan, sedang, atau berat. 

Penyebab penyakit buta warna

Mata mengandung sel-sel saraf yang disebut sel kerucut. Sel kerucut juga disebut sebagai reseptor warna yang ada pada retina mata yang memungkinkan terjadinya penglihatan warna. 

Sel kerucut akan menyerap panjang gelombang cahaya dan mengirim informasi tersebut ke otak untuk membedakan warna. Ada tiga sel kerucut yang bekerja di dalam mata, masing-masing memiliki sensitivitas terhadap warna merah, hijau, dan biru. 

Bila salah satu dari sel kerucut dalam retina mengalami gangguan, kamu akan mengalami kesulitan dalam penglihatan. Kondisi inilah yang menyebabkan penyakit buta warna. 

Penyakit buta warna dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab. Di antaranya sebagai berikut: 

Faktor genetik

Gangguan mata yang satu ini lebih sering dialami oleh laki-laki daripada perempuan dan diwariskan dari ibu kepada anak laki-lakinya.

Penyakit buta warna yang diwariskan biasanya berkaitan dengan gangguan pada sel kerucut atau tidak adanya sel kerucut. Penderitanya pun dapat mengalami gangguan tingkat ringan, sedang atau parah. 

Penyakit buta warna yang diwariskan biasanya tidak menyebabkan kebutaan total. Namun, gangguan ini akan memengaruhi kemampuan kedua mata dan tingkat keparahannya tidak akan berubah sepanjang hidup. 

Penuaan 

Seiring bertambahnya usia, kemampuan penglihatan seringkali menjadi lebih buruk. Kasus penyakit buta warna juga kerap terjadi akibat usia yang semakin bertambah akibat cedera pada retina atau penyakit lain.  

Penyakit parkinson 

Penyakit parkinson adalah kondisi kelainan neurologis atau saraf-saraf di dalam tubuh. Sehingga penderita penyakit parkinson sangat mungkin mengalami kerusakan sel-sel saraf peka cahaya di retina. Sehingga buta warna mungkin terjadi karena proses penglihatan yang terganggu. 

Kondisi medis lainnya

Selain karena faktor keturunan, penyakit tertentu juga dapat menyebabkan kamu mengalami buta warna.

Mulai dari penyakit sel sabit, komplikasi diabetes (diabetic macular edema), penyakit alzheimer, penyakit sklerosis ganda, glaukoma, penyakit parkinson, kecanduan alkohol (alkoholisme) dan leukemia.

Penggunaan obat-obatan tertentu

Nyatanya, obat-obatan tertentu mampu mengubah penglihatan warna. Di antaranya adalah obat yang digunakan untuk masalah jantung, penyakit autoimun, tekanan darah tinggi, disfungsi ereksi, infeksi, gangguan saraf, dan masalah psikologis.

Bahan kimia

Bila kamu sering berhadapan dengan bahan kimia, kamu perlu berhati-hati. Karena paparan beberapa bahan kimia seperti karbon disulfida dan pupuk, dapat menyebabkan hilangnya penglihatan warna.

Bagaimana mendiagnosis penyakit buta warna?

penyakit buta warna
Tes pseudoisochromatic yang digunakan untuk tes buta mata. (Foto: https://www.shutterstock.com/)

Bila kamu atau kerabat terdekatmu selama ini kesulitan mengidentifikasi warna tertentu, sebaiknya lakukan konsultasi dengan dokter. Dokter akan memeriksa kemampuan mata dalam mengidentifikasi warna dengan tes pseudoisochromatic. 

Tes pseudoisochromatic berisi gambar yang dirancang khusus untuk menguji kemampuan mata. Gambar tersebut terbuat dari titik-titik berwarna yang memiliki angka atau bentuk dalam warna berbeda yang tersembunyi di dalamnya.

Hanya orang dengan penglihatan normal yang dapat melihat angka dan simbol tersebut. Bila kamu menderita buta warna kamu akan mengalami kesulitan atau bahkan tidak menemukan pola yang dimaksud. 

Bagaimana cara mengobati buta warna?

Sayangnya hingga saat ini buta warna tidak dapat diobati. Namun tetap ada perawatan yang dapat dijalani oleh penderita buta warna. Para penderita buta warna biasanya akan ditawari lensa kontak atau kacamata khusus yang dapat membantu penglihatannya.

Biasanya lensa kontak atau kacamata khusus yang didesain untuk penderita penyakit buta warna akan membantu mereka membedakan tingkat kontras dari warna-warna yang membingungkan.

Sehingga mereka membedakan warna berdasarkan kontras yang mereka lihat, bukan penampakan warna aslinya. 

Tips bagi penderita buta warna

Bila kamu atau kerabat dekatmu mengalami buta warna, cobalah kiat-kiat berikut ini untuk membantu mengatasi penyakit tersebut. 

  • Hafalkan urutan objek berwarna. Beberapa benda memiliki urutan warna yang sudah pasti. Misalnya lampu lalu lintas. Bila kamu kesulitan mengidentifikasi warna merah dan hijau, lebih baik hafalkan urutan warnanya.
  • Simpan pakaian sesuai urutan warna. Hal ini berguna saat kamu harus menggunakan pakaian dengan warna tertentu sehingga tidak tertukar dengan warna lainnya.  
  • Manfaatkan teknologi yang tersedia. Saat ini tersedia aplikasi yang bisa digunakan melalui ponsel dan perangkat digital lain yang dapat membantu mengidentifikasi warna.

Perlu diingat, banyak orang yang mengalami penyakit buta warna dapat menjalani kehidupan normal dan lengkap.

Bila kamu khawatir soal penyakit buta warna, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter mata secara online di Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
    register-docotr