Kanker Lain

Apakah Kanker Ovarium Bisa Terjadi pada Anak Remaja?

April 21, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Kanker ovarium adalah pertumbuhan sel abnormal pada ovarium atau indung telur. Pertambahan usia merupakan salah satu faktor risiko dari kanker ovarium. Akan tetapi, apakah kanker ovarium juga bisa terjadi pada anak-anak khususnya remaja?

Baca juga: Perhatikan, Ini Bedanya Tahi Lalat Biasa dan Pertanda Kanker!

Mengenal kanker ovarium

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa kanker ovarium adalah jenis kanker yang dimulai di ovarium. Perlu kamu ketahui bahwa sistem reproduksi wanita mengandung dua ovarium, yang terdapat di setiap sisi rahim. Ovarium sendiri dapat menghasikan telur (ovum), serta hormon estrogen maupun progesteron.

Pada dasarnya, penyebab pasti dari kondisi ini belum diketahui. Umumnya, kanker dapat terjadi ketika sel mengembangkan kesalahan atau mutasi pada deoxyribonucleic acid (DNA)-nya. Kemudian, mutasi memberitahu sel untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat.

Hal tersebut dapat menciptakan massa atau tumor sel yang abnormal. Sel yang abnormal tersebut dapat terus hidup ketika sel sehat mati. Sel abnormal juga dapat menyerang jaringan di sekitarnya dan menyebar ke tempat lain pada tubuh (bermetastasis).

Kanker ovarium stadium awal jarang menimbulkan gejala. Namun, gejala dapat muncul pada kanker stadium lanjut. Gejala kanker ovarium dapat meliputi:

  • Pembengkakan pada perut atau perut kembung
  • Merasa lebih mudah kenyang ketika makan
  • Penurunan berat badan
  • Ketidaknyamanan yang dirasakan di area panggul
  • Perubahan kebiasaan pada buang air besar, seperti sembelit
  • Frekuensi buang air kecil meningkat.

Apakah anak-anak bisa terkena kanker ovarium?

Pada dasarnya, kanker ovarium sangat jarang terjadi pada wanita yang berusia di bawah 40 tahun. Data dari National Cancer Institute (NCI) menemukan bahwa persentase kasus baru adalah 4 persen antara usia 20 dan 34 tahun.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa salah satu faktor risiko dari kanker ovarium adalah pertambahan usia. Dikutip dari laman Mayo Clinic, kanker ovarium lebih sering memengaruhi wanita yang berusia 50-60 tahun.

Namun, yang perlu diketahui adalah kanker ovarium juga bisa terjadi pada anak-anak.

NCI melaporkan terdapat sekitar 1,3 persen kasus kanker ovarium diderita oleh anak perempuan. Rentang usianya, biasanya kurang dari 20 tahun.

Di sisi lain, anak perempuan yang cenderung belum memiliki organ reproduksi yang matang, juga berisiko terkena kanker ovarium. Terlebih lagi, jika memiliki riwayat anggota keluarga yang menderita kondisi ini.

Genetika juga menjadi faktor risiko kanker ovarium

Dikutip dari laman Healthline, peneliti menemukan bukti bahwa ayah dapat mewariskan mutasi genetik melalui kromosom X, yang dapat meningkatkan risiko kanker ovarium pada anak perempuannya.

Penelitian tersebut dilakukan oleh para peneliti dari Roswell Park Comprehensive Cancer Center, New York.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, diketahui bahwa sebagian wanita lebih mungkin mengembangkan kanker ovarium jika saudara perempuannya memiliki kondisi ini dibandingkan dengan ibu. Ini menyiratkan bahwa risiko mungkin saja berasal dari genetika ayah.

Para peneliti ingin mengetahui risiko yang dihadapi oleh wanita yang mana orang tua perempuan dari pihak sang ayah memiliki kanker ovarium. Secara khusus, peneliti ingin melihat apakah genetika ayah meningkatkan risiko kanker ovarium atau tidak.

Para peneliti kemudian mengurutkan bagian kromosom X dari sekitar 186 wanita yang memiliki kondisi ini.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, peneliti menemukan bahwa mutasi gen pada kromosom X yang diturunkan dari ibu kemudian ke anak dan ke cucu mungkin menjadi penyebab peningkatan risiko kanker ovarium.

Baca juga: Tes Darah untuk Deteksi Kanker, Bagaimana Tingkat Keakuratannya?

Lalu, apakah peluang untuk memiliki anak saat dewasa menjadi kecil?

Pada dasarnya, seorang wanita yang pernah terkena kondisi ini masih bisa hamil, asalkan indung telur masih bisa diselamatkan.

Prof Dr dr Andrijono SpOG(K), ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) mengatakan “kalau cuma satu yang diangkat indung telurnya ya bisa saja punya anak karena sel telur masih dihasilkan. Nah yang susah itu kalau kena kedua indung telurnya dan harus diangkat.”

Untuk menghindari munculnya kanker pada indung telur yang tersisa, maka diusahakan jangan sampai ada sisa sel kanker. Maka dari itu, penting untuk menghilangkan sel kanker sebersih mungkin.

Akan tetapi prosedur untuk menghilangkan sel kanker, seperti kemoterapi harus dilakukan secara berhati-hati.

Namun, jika kedua indung telur diangkat, maka seorang wanita sudah tidak bisa lagi menghasilkan sel telur. Sebab, indung telur juga berperan dalam menghasilkan hormon.

Itulah beberapa informasi mengenai kanker ovarium. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait dengan kondisi ini, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Detik.com (2015). Diakses pada 20 April 2021. Kena Kanker Ovarium Bukan Berarti Wanita Sudah Tak Mungkin untuk Hamil 

Healthline (2018). Diakses pada 20 April 2021. Daughters Can Inherit Ovarian Cancer Risk from Their Fathers 

Healthline (2019). Diakses pada 20 April 2021. The Link Between Ovarian Cancer and Age 

National Cancer Institute. Diakses pada 20 April 2021. Cancer Stat Facts: Ovarian Cancer 

Mayo Clinic (2019). Diakses pada 20 April 2021. Ovarian cancer 

    register-docotr