Kesehatan Anak

Sleep Apnea pada Anak: Ketahui Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya

February 17, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Sleep apnea adalah kondisi di mana terdapat jeda singkat pada pola pernapasan saat tidur. Tak hanya orang dewasa, keadaan itu juga bisa terjadi pada anak-anak, disebut dengan pediatric sleep apnea.

Lantas, mengapa anak-anak juga bisa mengalami sleep apnea? Bagaimana gejalanya? Apakah berbahaya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Kondisi sleep apnea pada anak

Dikutip dari Cleveland Clinic, sleep apnea telah memengaruhi kehidupan 2 hingga 5 persen anak-anak berusia dua hingga enam tahun. Anak mungkin akan sering terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba.

Ini terjadi karena otak merasakan perubahan oksigen atau karbon dioksida di dalam tubuh. Akibatnya, pola pernapasan di paru-paru juga ikut terdampak.

Ada perbedaan mendasar antara sleep apnea pada anak-anak dan orang dewasa. Orang dewasa yang mengidap kondisi tersebut umumnya rentan mengantuk di siang hari. Sedangkan pada anak-anak, sleep apnea lebih mungkin memengaruhi perilakunya.

Baca juga: Susah Tidur Nyenyak di Malam Hari? Ini 7 Cara Mengatasi Insomnia!

Penyebab sleep apnea pada anak

Dikutip dari Healthline, penyebab sleep apnea pada anak sering kali berbeda dengan orang dewasa. Pada orang dewasa, obesitas menjadi pemicu utama kondisi tersebut. Namun pada anak-anak, sleep apnea dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti:

  • Pembengkakan amandel atau kelenjar gondok
  • Memiliki lidah yang besar
  • Kondisi medis tertentu, seperti down syndrome, anemia sel sabit, serta kelainan pada tengkorak atau wajah
  • Kelebihan berat badan
  • Terlahir dengan berat badan rendah
  • Riwayat keluarga
  • Lahir prematur.

Gejala sleep apnea pada anak

Gejala sleep apnea pada anak hampir tak ada bedanya dengan gejala yang dialami orang dewasa, di antaranya adalah:

  • Berhenti bernapas beberapa detik secara tiba-tiba saat tidur
  • Mendengkur keras
  • Batuk atau tersedak saat tidur
  • Mimpi buruk
  • Mengompol.

Tak hanya saat tidur, gejala sleep apnea juga bisa muncul di siang hari, seperti sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk, hiperaktif, pusing, dan emosi yang tak terkontrol.

Berbahaya atau tidak?

Sleep apnea adalah kondisi serius yang harus mendapat penanganan tepat. Jika tidak diobati, keadaan tersebut dapat bertambah parah. Dikhawatirkan, anak-anak akan mengalami dampak buruk pada performa akademiknya di sekolah.

Sleep apnea berkelanjutan bisa memunculkan komplikasi seperti hiperaktivitas. Diperkirakan 25 persen anak-anak dengan diagnosis hiperaktivitas memiliki gejala sleep apnea yang parah.

Secara medis, sleep apnea juga dapat menghambat perkembangan jantung dan kemampuan kognitif anak. Ini bisa meningkatkan risiko terjadinya tekanan darah tinggi (hipertensi), serangan jantung, bahkan stroke.

Pemeriksaan dan penanganan

Penting untuk segera menemui dokter jika buah hati tercinta sudah menunjukkan gejala sleep apnea. Dokter atau tenaga kesehatan mungkin akan meminta anak menginap di klinik atau rumah sakit untuk proses observasi.

Saat tertidur, sensor akan dipasang di tubuh anak untuk memantau gelombang otak, detak jantung, aktivitas otot, dan pola pernapasannya. Jika belum mendapat hasil memuaskan, tes oksimetri mungkin akan dilakukan, yaitu memantau saturasi atau kadar oksigen di dalam tubuh.

Pemeriksaan lanjutan juga akan dilakukan jika perlu. Elektrokardiogram misalnya, dipakai untuk memantau kondisi jantung secara detail, termasuk memeriksa dan mencatat aktivitas listrik pada organ tersebut.

Jika dokter berhasil menemukan penyebab pastinya, maka penanganan yang tepat akan lebih mudah dilakukan. Beberapa penanganan sleep apnea yang paling umum meliputi:

  • Pembedahan: Prosedur ini dilakukan jika sleep apnea dipicu oleh amandel atau kelenjar gondok yang membesar. Jenis operasi lain juga mungkin diperlukan pada anak-anak dengan kelainan struktur kepala dan leher.
  • Obat-obatan: Obat-obatan sering kali efektif membantu meredakan gejala sleep apnea pada anak. Flutikason dan montelukast misalnya, dapat membantu membuka saluran udara agar pola pernapasan bisa lebih lancar.
  • Continuous positive airway pressure (CPAP): Masker khusus akan diletakkan di hidung selama anak tertidur. Masker tersebut tersambung dengan alat portabel khusus yang bisa mendukung proses pernapasan si Kecil.

Bisakah sleep apnea dicegah?

Sleep apnea merupakan kondisi yang terjadi secara tiba-tiba. Maka dari itu, pencegahan terbaik yang bisa dilakukan adalah meminimalkan risikonya. Salah satunya adalah dengan menghindari paparan asap tembakau, polutan, serta zat alergen yang dapat masuk dan menghambat rongga pernapasan.

Penerapan gaya hidup sehat juga bisa menjaga berat badan si Kecil agar tetap ideal. Tubuh yang semakin gemuk bisa mempersempit saluran udara dan menyebabkan kesulitan bernapas, termasuk saat tidur.

Selain itu, Moms perlu memerhatikan posisi tidur anak. National Sleep Foundation menjelaskan, sleep apnea rentan terjadi jika anak tertidur dengan posisi kepala dan badan berada dalam garis lurus sejajar. Posisikan kepala lebih tinggi dari badan untuk menjaga pernapasannya.

Nah, itulah ulasan tentang sleep apnea pada anak yang perlu Moms ketahui. Agar tak bertambah parah, segera periksakan ke dokter begitu gejalanya muncul, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Healthline, diakses 16 Februari 2021, Sleep Apnea in Children: What You Need to Know.
  2. Mayo Clinic, diakses 16 Februari 2021, Pediatric obstructive sleep apnea.
  3. National Sleep Foundation, diakses 16 Februari 2021, Children and Sleep Apnea.
  4. Cleveland Clinic, diakses 16 Februari 2021, Obstructive Sleep Apnea in Children.

    Berita Terkait
    register-docotr