Gizi Anak

Pentingnya Asupan Serat untuk Kesehatan Pencernaan Anak

August 6, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Dalam menjalani proses tumbuh kembangnya, kesehatan perut dan sistem pencernaan anak perlu diperhatikan. Demi mendukung kesehatan sistem pencernaannya penting untuk memastikan bahwa kebutuhan serat harian anak telah terpenuhi.

Apa saja sumber serat yang bisa dikonsumsi rutin? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Mengenal serat dan kebutuhan asupannya

Serat adalah salah satu nutrisi yang dibutuhkan setiap manusia, berapapun usianya. Dalam mekanismenya, zat gizi ini tidak dipecah oleh tubuh, tapi punya peran yang sangat penting bagi sistem pencernaan. Sehingga, asupan serat harus dipenuhi setiap hari.

Menurut Kementerian Kesehatan, anak berusia satu hingga tiga tahun membutuhkan asupan serat harian 19 gr. Jumlahnya meningkat menjadi 20 gr ketika sudah berumur empat sampai enam tahun.

Fungsi serat dalam sistem pencernaan

Serat dibedakan menjadi dua, yaitu larut dan tidak larut. Larut atau tidak larut yang dimaksud adalah kemampuan serat untuk menyatu dengan air.

Serat larut bertugas mengurangi kadar kolesterol dalam darah dan mengatur kadar gula. Sedangkan serat tidak larut, menstimulasi saluran pencernaan untuk mempercepat proses pembuangan, termasuk zat beracun yang ada di dalam tubuh.

Kombinasi dua jenis serat itu dapat memberikan efek yang baik pada sistem pencernaan, seperti membantu mencegah sembelit, mengatasi sulit buang air besar, hingga meningkatkan dan memperlama rasa kenyang.

Mengenali kekurangan serat dari feses

Menurut sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, kelebihan atau kekurangan serat di dalam tubuh akan berdampak pada kondisi feses. Dengan begitu, Moms bisa mengenali apakah si Kecil kekurangan serat atau tidak dari fesesnya.

Dikutip dari Medical News Today, feses yang normal biasanya berwarna kuning kecoklatan, karena mengandung bilirubin. Sedangkan untuk bentuk dan ukurannya, tidak kecil dan tidak besar. Feses yang normal mudah dikeluarkan dan tidak menimbulkan rasa sakit atau tegang.

Jika kekurangan serat, ada dua kondisi feses yang perlu Moms ketahui. Pertama, feses bisa berwarna coklat gelap dan berukuran besar hingga sulit dikeluarkan. Keadaan ini biasanya terjadi ketika si Kecil sudah mengalami konstipasi.

Kedua, feses bisa berbentuk sangat kecil atau bahkan cair (diare). Ini karena serat berfungsi mengikat beberapa senyawa menjadi satu yang memengaruhi bentuk dari feses itu sendiri.

Apa yang terjadi jika anak kekurangan serat?

Dari data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 oleh Kementerian Kesehatan, diketahui bahwa 9 dari 10 anak Indonesia mengalami defisiensi atau kekurangan serat. Ini tentu bisa menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi yang dapat berdampak pada sistem pencernaannya.

Menurut Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), dokter spesialis anak dan ahli gastrohepatologi, kebutuhan serat yang tercukupi dapat membantu optimalisasi kesehatan saluran cerna yang krusial bagi tumbuh kembang dan kesehatannya.

Pencernaan yang sehat, lanjutnya, membuat nutrisi makanan terserap dengan baik sehingga berdampak positif pada sistem daya tahan tubuh, perkembangan otak yang optimal, bahkan bisa mempengaruhi emosi anak.

Sementara itu, setidaknya ada dua kondisi pada anak yang bisa menjadi indikasi kekurangan serat, yaitu konstipasi dan kembung.

Konstipasi dan gejalanya

American Academy of Pediatric menyatakan, konstipasi atau sembelit merupakan hal yang umum terjadi pada anak-anak. Salah satu pemicu yang paling umum adalah rendahnya konsumsi asupan serat. Gejalanya meliputi:

  • Sulit buang air besar
  • Kotoran atau feses bertekstur keras dan sulit dikeluarkan
  • Buang air besar yang menyakitkan
  • Tidak buang air besar lebih dari dua hari (kurang dari tiga kali dalam seminggu)
  • Perdarahan dari anus (fisura) akibat terlalu keras mengejan ketika buang air besar
  • Sakit perut, terkadang disertai kram dan mual
  • Nafsu makan yang buruk
  • Sering rewel.

Sebagai pertolongan pertama, Moms dapat memperbanyak asupan cairannya, tingkatkan asupan makanan berserat, dan latih si Kecil untuk rutin buang air besar setiap hari.

Segera periksakan ke dokter jika kondisinya tak membaik lebih dari seminggu, sakit perut parah, muntah-muntah, dan makan lebih sedikit dari biasanya.

Perut kembung

Perut kembung adalah hal yang biasa terjadi setelah si Kecil mengalami sembelit. Menurut penjelasan Linda Lee, MD, pakar gastroenterologi di Johns Hopkins Medicine, semakin lama feses berada di usus besar, bakteri akan ‘memfermentasi’ apa saja yang ada di sana.

Dalam waktu yang lama, hal tersebut bisa memicu pembentukan gas. Akibatnya, perut si Kecil akan kembung dan terasa penuh. Ada beberapa cara yang bisa Moms lakukan sebagai pertolongan pertama mengatasi perut kembung pada si Kecil, yaitu:

  • Buat anak bersendawa: Dengan bersendawa, gas yang ada di perut akan naik ke atas dan dikeluarkan lewat mulut.
  • Pijat dan gosok perut si Kecil: Pijat atau gosok-gosok perut anak memutar searah atau berlawanan dengan jarum jam secara lembut dan perlahan. Tujuannya, memberi tekanan pada perut agar gas keluar lewat kentut.

Biasanya, perut yang kembung akan segera mereda begitu sembelit sembuh. Jika kondisinya tak kunjung membaik, Moms dapat membawa si Kecil ke dokter.

Sumber serat yang baik untuk anak

Kekurangan serat bisa membuat anak mengalami konstipasi dan kembung. Moms tak perlu khawatir, karena ada banyak makanan yang bisa dijadikan sebagai sumber serat sehari-hari, di antaranya adalah:

  • Stroberi: Dengan berat 100 gr, buah yang satu ini menyediakan sekitar 1,5 gr serat
  • Almond: Kacang almond seberat 13 gr mempunyai kandungan serat sekitar 1,3 gr
  • Kacang panggang: Makanan ini bisa dijadikan menu andalan makan siang, karena mengandung sekitar 6,8 gr serat dengan porsi seberat 150 gr
  • Kentang bakar dengan tuna: Bisa menjadi menu makan malam, makanan ini mengandung 6,5 gr serat dengan porsi seberat 180 gr.

Penuhi kebutuhan harian serat si Kecil dengan Bebelac GOLD

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa asupan serat harian yang cukup sangat penting bagi kesehatan anak, terutama sistem pencernaannya. Moms tidak perlu bingung cari asupan sumber serat yang tepat untuk buah hati tercinta, karena Bebelac GOLD bisa menjadi solusinya.

Bebelac GOLD hadir dengan kandungan serat pangan yang terbuat dengan FOS:GOS 1:9 dan pati jagung (corn starch), dan dilengkapi nutrisi penting lainnya seperti Omega 3 & 6, minyak ikan, vitamin & mineral untuk dukung kesehatan perut dan tumbuh kembang optimal si Kecil. Dengan 3 gelas Bebelac GOLD sehari dapat membantu memenuhi sekitar 50% kebutuhan serat harian anak.

Kali ini, Bebelac Gold lagi ada Tantangan 21 Hari Makan Serat. Yuk, ikutan tantangannya dan menangkan hadiahnya dengan menerapkan Jam Makan Serat. Ayah dan Moms bisa menerapkan Jam Makan Serat pada si Kecil dengan memberikan segelas Bebelac GOLD bersama dengan makanan kaya serat seperti buah dan sayuran di Jam Makan Serat nya, yaitu setiap jam 10 pagi, 2 siang, dan 8 malam. Bantu si Kecil membentuk kebiasaan baik makan serat untuk dukung tumbuh hebatnya! Untuk info lebih lanjut, cek Instagram @bebeclub.

Reference
  1. NHS UK, diakses 8 Juni 2021, Constipation in children.
  2. NHS UK, diakses 8 Juni 2021, How to get more fibre into your diet.
  3. American Academy of Pediatric, diakses 8 Juni 2021, Constipation in Children.
  4. Medical News Today, diakses 8 Juni 2021, Hydrating foods: The top 20 and their benefits.
  5. Medical News Today, diakses 8 Juni 2021, Causes and how to relieve gas in a baby.
  6. Healthline, diakses 8 Juni 2021, Why’s Your Poop Brown and What Can Cause Color Changes?
  7. Healthline, diakses 8 Juni 2021, 10 High-Fiber Foods Your Kids Will Actually Eat.
  8. Johns Hopkins Medicine, diakses 8 Juni 2021, Bloating: Causes and Prevention Tips.
  9. KidsHealth, diakses 8 Juni 2021, First Aid: Constipation.
  10. KidsHealth, diakses 8 Juni 2021, Fiber.
  11. Kids Pediatric, diakses 8 Juni 2021, Fiber Recommendations for Children.
  12. CNN Indonesia, diakses 8 Juni 2021, 9 dari 10 Anak Kurang Serat, Gangguan Pencernaan Mengintai.
  13. National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses 8 Juni 2021, Effects of high- and low-fiber diets on human feces.
  14. National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses 8 Juni 2021, What Do We Know about Dietary Fiber Intake in Children and Health? The Effects of Fiber Intake on Constipation, Obesity, and Diabetes in Children.
  15. WebMD, diakses 8 Juni 2021,  Infant Gas: How to Prevent and Treat It.
  16. WhatToExpect, diakses 8 Juni 2021, Have a Gassy Baby? What to Know About Infant Gas Symptoms, Remedies and Causes.
  17. Siaran Pers Bebeclub, diakses 9 Juni 2021, Kampanye “Jam Makan Serat”, Bebeclub Ajak Para Ibu Bangun Kebiasaan Makan Serat untuk Dukung Kesehatan Pencernaan Anak.
  18. Kementerian Kesehatan, diakses 10 Juni 2021, PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2019 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN UNTUK MASYARAKAT INDONESIA.
  19. British Nutrition Foundation, diakses 18 Juni 2021, Dietary fibre.
    register-docotr