Kesehatan Seksual

Kenali PGAD, Kelainan Seks yang Membuat Seseorang Orgasme Terus Menerus

November 10, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Aktivitas seksual umumnya terjadi dalam urutan tertentu. Mulai dari adanya interaksi fisik untuk merangsang, respons tubuh seperti penis yang menegang, sampai kemunculan gairah yang diwujudkan dalam bentuk hubungan suami istri itu sendiri.

Semua bertujuan untuk mencapai orgasme atau puncak kenikmatan seksual di akhir sanggama. Namun pada beberapa kasus, ternyata ada sebagian orang yang mengalami orgasme bahkan ketika tidak ada tindakan seksual sama sekali.

Kondisi ini disebut persisten genital arousal disorder atau PGAD. Teruskan membaca artikel di bawah untuk mengetahui gangguan seks yang satu ini.

Baca juga: Tak Usah Malu, Ini Penyebab Penis Susah Ereksi dan Cara Mengatasinya

Mengenal PGAD, terjadi pada siapa?

Dilansir dari NCBI, PGAD adalah fenomena di mana wanita yang menderitanya mengalami gairah genital spontan. Ini dipicu oleh rangsangan seksual atau nonseksual dan tidak terselesaikan dengan orgasme.

Saat mengalaminya, muncul semua gejala gairah seksual seperti ereksi atau pembengkakan pada vagina. Pada beberapa kasus, PGAD dapat bertahan selama berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Meski jarang, kasus PGAD pada pria juga ada dan disebut dengan istilah priapisme. Ini terjadi ketika pria mengalami ereksi yang berlangsung beberapa jam atau lebih, bahkan tanpa rangsangan seksual apapun.

Gejala-gejala yang muncul

Dilansir dari Medical News Today, gejala utama PGAD adalah serangkaian sensasi yang berkelanjutan dan tidak nyaman di dalam maupun di sekitar jaringan genital termasuk klitoris, labia, vagina, perineum, dan anus. Beberapa gejalanya mencakup:

  1. Area vital menjadi basah
  2. Gatal
  3. Tekanan
  4. Sensasi terbakar
  5. Alat kelamin terasa bergetar.

Gejala umum PGAD lainnya antara lain meliputi wajah dan leher menjadi merah, tekanan darah tinggi yang tidak normal, detak jantung tinggi, bernapas dengan cepat, kejang otot di seluruh tubuh, sampai penglihatan kabur atau berbintik-bintik.

Apakah PGAD perlu diwaspadai?

Penderita PGAD secara konsisten akan merasa hendak mengalami orgasme. Haekal Anshari, dokter estetika sekaligus seksolog, kepada CNN mengatakan, ini perlu diwaspadai sebab orgasme terus menerus termasuk ke dalam gangguan seksual.

PGAD lambat laun juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis penderitanya. Ini termasuk menyebabkan beberapa gangguan mental seperti kecemasan, serangan panik, depresi, kesulitan, frustrasi, sampai insomnia.

Orang dengan kelainan PGAD pada akhirnya juga bisa kehilangan gagasan tentang kenikmatan seksual. Ini karena di pikiran mereka, orgasme harus terjadi seiring dengan pelepasan rasa sakit daripada pengalaman yang menyenangkan.

Penanganan yang dapat dilakukan

Beberapa perawatan yang umum diterapkan untuk menangani PGAD antara lain adalah:

  1. Gel mati rasa
  2. Terapi electroconvulsive, jika terindikasi ada gangguan mental seperti bipolar I atau kecemasan parah terkait dengan PGAD.
  3. Stimulasi saraf listrik transkutan (TENS), yang menggunakan arus listrik untuk membantu meredakan nyeri saraf.

Obat-obatan

Studi kasus tentang seorang wanita yang didiagnosis dengan depresi menunjukkan bahwa pengobatan dengan obat-obatan dapat mengurangi gejala PGAD dan membantunya mengelola kondisi tersebut.

Beberapa obat yang mungkin digunakan untuk mengobati PGAD meliputi:

  1. Clomipramine, antidepresan yang sering digunakan untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
  2. Fluoxetine, inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) biasanya diresepkan untuk mengobati gangguan depresi mayor, gangguan panik, dan bulimia.
  3. Gel lignokain (juga disebut lidokain), yang mematikan area di tubuh yang kamu oleskan.

Pilihan terapi

Beberapa metode psikologis, seperti terapi atau konseling, juga bisa membantu meringankan gejala-gejala PGAD. Terutama jika kamu mengalami kecemasan atau depresi akibat kelainan ini.

Selain itu PGAD juga dapat ditangani dengan melakukan terapi perilaku kognitif (CBT). Ini dapat membantu kamu belajar mengendalikan emosi dan reaksi negatif saat gejala PGAD muncul di kehidupan sehari-hari.

Kamu dianjurkan untuk berbicara dengan terapis untuk menemukan pemicu emosional yang menyebabkan PGAD. Meditasi juga dapat membantu mengurangi gejala dengan mengurangi kecemasan dan mengendurkan otot-otot yang kerap menegang.

Baca juga: Impotensi di Usia Muda Ganggu Aktivitas Seks, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Jangan ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya di Good Doctor. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

NCBI diakses pada 10 November 2021

Medical News Today diakses pada 10 November 2021

Healthline diakses pada 10 November 2021

Web MD diakses pada 10 November 2021

CNN diakses pada 10 November 2021

    register-docotr