Kesehatan Seksual

Jangan Jadi Kebiasaan, Ini Dampak Buruk Seringnya Memalsukan Orgasme

August 1, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Memalsukan orgasme saat berhubungan seksual memang lebih mudah ketimbang mendapatkannya secara alami. Tapi kebiasaan ini juga memberi beberapa dampak, mulai dari kepuasan diri sendiri hingga hubungan dengan pasangan.

Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan cosmopolitan.com, 67 persen perempuan mengaku memalsukan orgasme mereka. Hal ini dilakukan untuk menghormati perasaan pasangan atau agar hubungan seksual cepat selesai.

Kebiasaan ini tidaklah sehat, kamu bisa mengalami beberapa dampak berikut ini jika tetap memalsukan orgasme dengan alasan apapun:

Baca Juga: Mau Tahu Apa Saja Mitos vs Fakta tentang Aseksual? Simak Ulasan Lengkapnya!

Kesulitan mendapat orgasme alami

Kamu mungkin berpikir bisa terus memalsukan orgasme sampai nantinya bisa mendapatkannya secara alami dalam kondisi dan momen tertentu.

Pola pikir ini, menurut Gracie Landes, seorang sex and family therapist dari New York, Amerika Serikat, adalah hal yang salah. “Memalsukan orgasme justru membuat hubungan sensasi dan persepsi jasmani menjadi terputus,” ucapnya sebagaimana dilansir everydayhealth.com.

Hubungan yang terputus itu, kata Landes, akan membuat orgasme menjadi sulit untuk diraih karena kamu terbiasa memaksa diri kamu untuk fokus dan sadar untuk mencapai klimaks.

Memutus hubungan emosional dengan pasangan

Orgasme bukan hanya dapat dirasakan oleh fisik, dia juga bisa membantu menyehatkan hubungan kamu secara mental. Sebuah kajian yang diterbitkan pada 2014 berhasil membuktikan hal ini. 

Para peneliti menyebut jika orang yang bisa mendapatkan orgasme akan lebih terbuka dengan pasangan dalam perbincangan di kasur setelah berhubungan seksual.

Hal ini disinyalir disebabkan oleh terlepasnya ‘hormon cinta’ oxytocin saat kamu mencapai orgasme. Hormon ini dipercaya dapat membantu kamu menjalin ikatan dengan pasangan.

Hilangnya kepercayaan pasangan

Pasangan kamu mungkin tidak mengatakannya secara langsung, tapi beberapa orang bisa merasakan jika pasangannya memalsukan orgasme saat sedang melakukan hubungan seksual.

Hal ini, bisa berakibat buruk bagi hubungan kamu dengan pasangan. Hubungan yang kamu jalani akan kurang dipenuhi rasa percaya, terutama dari pasangan karena merasa kamu tidak jujur saat berhubungan seksual.

Satu yang perlu diingat, setiap pasangan melakukan hubungan seksual untuk menyenangkan pasangannya. Jadi jangan berpura-pura mengenai orgasme.

Pasangan dapat melakukan hal yang sama

Selama ini, perempuan adalah pihak yang selalu dikatakan bisa memalsukan orgasme saat sedang melakukan hubungan seksual. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan pada 2016 menemukan hal lain.

Para peneliti menyatakan jika pria pun bisa memalsukan orgasme mereka. Para peneliti menduga hal ini karena adanya tekanan pada pria jika orgasme adalah sebuah cara mengakhiri hubungan seksual ‘konvensional’.

Ada juga dugaan jika pria melakukan hal itu untuk menyenangkan pasangan mereka atau karena mereka merasa tidak melakukan hubungan dengan pasangan yang tepat.

Dalam data lain sebagaimana dilansir nbcnews.com, sebuah studi yang dilakukan oleh professor of clinical psychology, Charlene Muehlenhard mencatat jika 36 persen pria memalsukan orgasme dengan bersandiwara menggunakan vokal mereka.

Kehilangan manfaat seks

Seorang sex therapist di Los Angeles, Amerika Serikat, Kimberly Resnick Anderson dalam dilansir huffpost.com menyebut jika orgasme palsu dapat membuat kamu kehilangan manfaat dari seks. 

Padahal, dilansir sciencedaily.com, orgasme dapat memberikan manfaat bagi saraf dengan melepaskan dopamine, vasopressin, endorphin hingga oxytocin. Senyawa-senyawa tersebut memberikan banyak manfaat emosional dan fisik, yaitu:

  • Meningkatkan kualitas tidur
  • Meredakan nyeri secara temporer
  • Menurunkan keresahan mental
  • Meningkatkan imun, konsentrasi dan kualitas hidup secara keseluruhan
  • Memberikan rasa senang dan puas

Sayangnya, ketika kamu memalsukan orgasme, semua manfaat di atas tidak akan dapat kamu rasakan.

Dorongan untuk seks hilang

Sex therapist Ian Kerner sebagaimana dilansir huffpost.com menyebut jika dampak dari terlalu sering memalsukan orgasme adalah hilangnya dorongan untuk melakukan hubungan seksual.

Hal ini karena seharusnya orgasme akan membuat kamu rileks, menjadi utuh dan terdorong secara erotis di dalam tubuh dan terkoneksi dengan pasangan. Tapi kamu tidak akan merasakan hal itu karena memalsukan orgasme.

Saat kamu terlalu sering tidak mendapatkan orgasme, maka aktivitas seksual akan terasa membosankan dan mengecewakan. Ujung-ujungnya, dorongan untuk melakukan hubungan seksual menjadi hilang dan hubungan pun akan menjadi terasa hambar.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Everydayhealth.com (2016) diakses 29 Juli 2020. https://www.everydayhealth.com/sexual-health/reasons-you-should-never-fake-orgasm/
  2. Huffpost.com (2019) diakses 29 Juli 2020. https://www.huffpost.com/entry/dont-ever-fake-an-orgasm_n_5913586fe4b0a58297e1d0f8
  3. Tandfonline.com (2016) diakses 29 Juli 2020. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14681994.2016.1158803
  4. Tandfonline.com (2014) diakses 29 Juli 2020. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/03637751.2014.926377
  5. Nbcnews.com (2010) diakses 29 Juli 2020. http://www.nbcnews.com/id/38006774/ns/health-sexual_health/t/sorry-guys-percent-women-admit-#.XyGm9pYzbIV
  6. Sciencedaily.com (2014) diakses 29 Juli 2020. https://www.sciencedaily.com/releases/2014/02/140206155244.htm
  7. Cosmopolitan.com (2015) diakses 29 Juli 2020. https://www.cosmopolitan.com/sex-love/news/a37812/cosmo-orgasm-survey/
    register-docotr