Puasa

Waspada! Gangguan Kesehatan Ini Bisa Muncul saat Puasa Jika Kamu Tidak Bijak

May 3, 2021 | Richaldo Hariandja | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Bagaikan dua sisi koin, di balik segala manfaat yang dirasakan tubuhmu saat puasa, ada juga gangguan kesehatan yang bisa saja terjadi saat puasa.

Gangguan kesehatan ini beragam, ada yang ringan dan bisa menunggu hingga waktu berbuka untuk mengatasinya. Namun, tidak jarang ada juga gangguan kesehatan yang perlu segera ditangani.

Nah, supaya kamu lebih waspada, maka kami sampaikan informasi yang kami rangkum dari berbagai sumber tentang beberapa gangguan kesehatan yang bisa terjadi saat puasa berikut ini:

Gangguan kesehatan yang sering terjadi saat puasa

Berikut beberapa gangguan kesehatan saat puasa yang patut kamu waspadai!

1. Dehidrasi

Orang yang berpuasa umumnya mengalami dehidrasi. Hal ini lumrah karena tubuhmu tidak mendapatkan asupan cairan.

Jika didiamkan, dehidrasi bisa membawamu pada masalah kesehatan lain. Diantaranya adalah meningkatnya rasa lelah, terganggunya fungsi mental seperti daya ingat hingga konsentrasi tubuhmu.

Beberapa masalah lain dari dehidrasi adalah rendahnya tekanan darah, keletihan, hingga yang paling parah kamu bisa saja pingsan.

Gejala dehidrasi

Berikut beberapa gejala dehidrasi yang harus kamu waspadai:

  • Rasa haus yang ekstrem
  • Air kencing berwarna kuning tua dan berbau menyengat
  • Merasa pusing atau sakit kepala
  • Merasa lelah
  • Mulut, bibir kering, dan mata yang kering
  • Frekuensi kencing yang sedikit, dan kurang dari 4 kali sehari

Cara mencegah gangguan kesehatan berupa dehidrasi saat puasa

Mencegah dehidrasi saat puasa bisa dilakukan dengan beberapa cara, berikut di antaranya:

  • Konsumsi air putih yang cukup, sebab minuman terbaik untuk rehidrasi tubuh kita adalah air putih.
  • Saat sahur dan berbuka, pastikan setidaknya kamu minum 2 gelas air putih untuk memastikan tubuh kamu mendapat cukup asupan air selama berpuasa.
  • Hindari minuman berkafein dan minuman manis seperti teh dan kopi yang justru bisa membuat kamu kehilangan cairan dengan cepat.
  • Pilih menu sahur dan berbuka yang berkadar air tinggi. Mulai dari buah, sayur, sup, smoothies, dan lain-lain.
  • Kurangi aktivitas yang menguras keringat. Saat puasa, ada baiknya kamu membatasi aktivitas yang dapat menguras energi dan keringat. Apalagi jika cuaca tengah panas dan terik.

Baca Juga : Tips Menjaga Kebutuhan Cairan Tubuh Tetap Terpenuhi saat Puasa

2. Produksi urine berkurang

Setelah kita tahu ada risiko dehidrasi, maka gangguan kesehatan lain yang perlu kamu ketahui adalah berkurangnya produksi urine atau yang biasa disebut oliguria pada saat puasa.

Oliguria bisa diartikan sebagai pengeluaran urine yang kurang dari 500 mL per hari. Kamu harus waspada dan perlu memperhatikan lebih lanjut masalah ini karena bisa saja ini tanda awal dari gagal ginjal.

Selain gagal ginjal, jika pengeluaran urine tidak kunjung membaik, beberapa penyakit lain seperti darah tinggi, gagal jantung, anemia serta masalah pencernaan bisa datang.

Oleh karena itu, pastikan kebutuhan 3 liter atau 13 gelas air per harinya kamu penuhi. Dan minumlah sedikit demi sedikit agar tidak langsung dibuang menjadi urine.

Gejala oliguria

Gejala utama oliguria adalah produksi urine lebih sedikit dari biasanya. Kamu mungkin mengalami gejala lain juga, tergantung pada penyebab utamanya.

Berikut beberapa tanda oliguria yang harus kamu waspadai:

  • Buang air kecil lebih jarang dan / atau keluar lebih sedikit dari biasanya
  • Urine berwarna lebih gelap dari biasanya (umumnya warna kuning lebih tua seperti amber).

Cara mencegah oliguria saat puasa

Karena banyak kasus oliguria disebabkan oleh dehidrasi, salah satu cara terbaik untuk mencegahnya adalah dengan mengonsumsi cukup cairan.

Jumlah cairan yang perlu kamu minum akan bergantung pada seberapa banyak kamu kehilangan cairan melalui keringat atau penyakit, serta pola makan secara keseluruhan.

3. Sakit kepala

Gangguan kesehatan lain yang bisa kamu dapatkan saat puasa adalah sakit kepala. Umumnya ini terjadi karena kamu dehidrasi, lapar, hingga kurang tidur dalam masa puasa.

Kamu harus waspada terhadap sakit kepala, ya! Karena penyakit ini juga memiliki beragam komplikasi. Jika sakit kepala terlalu sering terjadi, maka aktivitasmu akan sangat terganggu.

Jika sudah begini, maka kualitas hidupmu akan rendah dan kamu tidak bisa lagi untuk beraktivitas dengan normal. Puncaknya, sakit kepala bisa berujung pada sakit strok.

Karena itu, pastikan asupan makananmu dan waktu istirahatmu saat puasa, ya! Dan yang paling penting, jangan lupa untuk segera berkonsultasi ke dokter apabila kamu merasakan sakit lebih lanjut.

Cara mengatasi sakit kepala saat puasa

Berikut beberapa tips yang mungkin bisa bantu mengatasi sakit kepala yang kamu alami saat puasa:

  • Kompres dingin. Ini dapat meredakan sakit kepala dengan cara menyempitkan pembuluh darah di kepala yang melebar dan mengurangi risiko peradangan di area sekitarnya. Sayangnya efek ini hanya berlaku sementara.
  • Kompres hangat. Suhu hangat dapat mengendurkan otot-otot di kepala yang mengencang dan menegang. Efeknya mungkin sama seperti mandi atau berendam dengan air hangat
  • Pijat kepala. Memijat titik-titik tertentu dapat membantu meredakan ketegangan di kepala.
  • Relaksasi. Teknik relaksasi bisa mengurangi stres dan kecemasan pemicu sakit kepala dan meredakan otot yang menegang
  • Konsumsi cukup cairan. Minum air yang cukup saat sahur dan berbuka bisa menjadi langkah pencegahan untuk meminimalkan munculnya sakit kepala saat berpuasa.

Baca Juga : Sakit Kepala saat Puasa? Ini 5 Penyebab dan Cara Mengatasinya!

4. Heartburn

Gangguan kesehatan yang sering terjadi saat puasa berikutnya adalah hearthburn. Heartburn adalah suatu situasi di mana kamu merasakan sensasi terbakar di dadamu, tepat di belakang tulang dada.

Sensasi ini biasanya muncul dan memburuk setelah makan, malam hari, atau pada saat kamu berbaring. Heartburn diakibatkan oleh asam lambung yang naik ke rongga yang biasa dilalui makanan dari mulut ke perut (esophagus).

Asam lambung ini sebetulnya merupakan sesuatu yang penting untuk mencerna makanan dan membunuh bakteri. Faktanya, saat kita tidak makan atau kurang asupan makanan, produksi asam lambung pun cenderung berkurang.

Namun, dengan hanya mencium atau bahkan kita mengkhayal soal makanan saja saat puasa, hal ini akan memicu otak untuk memberi tahu lambung untuk memproduksi asam, dan ujungnya, kamu akan merasakan heartburn.

Cara mengatasi dan mencegah heartburn saat puasa

Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi dan mencegah heartburn terjadi saat puasa:

  • Pertahankan berat badan yang sehat. Berat badan berlebih memberi tekanan pada perut, mendorong perut, dan menyebabkan asam kembali ke kerongkongan.
  • Hindari pakaian ketat yang memberi tekanan pada perut dan sfingter esofagus bagian bawah
  • Hindari makanan yang memicu heartburn seperti makanan pedas dan asam
  • Hindari berbaring dan tidur setelah makan. Tunggu setidaknya dua jam.
  • Saat berbaring, tinggikan posisi setinggi kepala 30 derajat.
  • Hindari merokok dan alkohol. Sebab dua hal ini dapat menurunkan kemampuan sfingter esofagus bagian bawah untuk berfungsi dengan baik.
  • Jangan melewatkan sahur

5. Keletihan

Puasa membutuhkan banyak energi. Oleh karena itu, kamu harus pandai dalam mengakali asupan makananmu. Jika tidak, risikonya adalah tubuhmu akan merasa sangat letih.

Rasa letih tentu akan sangat mengganggu aktivitas yang kamu jalani selama berpuasa. Jika kamu adalah seorang pekerja, maka performamu bukan tidak mungkin akan kurang optimal.

Yang paling mungkin terjadi adalah kamu akan kurang fokus dalam pekerjaanmu dan reaksi tubuhmu pun akan jadi lambat.

Keletihan ini juga bisa disebabkan oleh kurangnya waktu istirahat. Jadi, bijaklah dalam mengorganisir waktumu, terutama jika harus sahur terlebih dahulu pada waktu subuh.

Kapan harus membatalkan puasa?

Jika gangguan kesehatan yang kamu alami saat puasa membuat kamu kesulitan melanjutkan aktivitas, mungkin ada baiknya kamu mempertimbangkan untuk membatalkan puasa.

Toh, dalam agama pun kita diperbolehkan mengganti puasa di luar bulan Ramadan apabila kita batal puasa di bulan Ramadan.

Selain panduan agama soal beberapa kondisi yang harus membatalkan puasa ada juga beberapa gejala kondisi fisik yang bisa jadi tanda kalau tubuh kamu mungkin sudah tidak kuat puasa dan harus segera membatalkannya. Berikut beberapa di antaranya:

1. Mual, pusing, dan sakit kepala

Di atas kita sudah membahas mengenai dehidrasi. Dehidrasi memang dapat menyebabkan gejala berupa mual, pusing, dan sakit kepala. Selain karena dehidrasi, gejala ini juga dapat timbul karena rendahnya kadar gula dalam darah kita. 

Dalam kebanyakan kasus, pusing akan hilang setelah beberapa menit dan kamu hanya perlu menyesuaikan diri. Namun, dalam beberapa situasi hal itu juga dapat menyebabkan hilangnya kesadaran.

Apabila kamu mengalami gejala tersebut, ada baiknya kamu istirahat lalu berbaring dan meninggikan kaki untuk membantu darah masuk kembali ke otak. Apabila gejalanya tak kunjung membaik, ada baiknya pertimbangkan untuk membatalkan puasa.

2. Sakit perut

Sakit perut di sini berbeda dengan rasa lapar ya. Saat berpuasa, kadar asam akan mulai naik karena tidak ada makanan yang harus dipecah dan kamu berada dalam fase ketosis yang lebih dalam.

Hal ini dapat menyebabkan naiknya asam lambung, mulas, sakit perut, maag, dan merusak dinding usus. Apabila kamu mengalami gejala tersebut, ada baiknya pertimbangkan untuk membatalkan puasa segera. Namun, jangan langsung berbuka dengan makanan padat ya, coba memulai dengan kaldu atau sup terlebih dahulu.

3. Susah konsentrasi

Penyimpanan energi yang rendah yang disebabkan oleh puasa dapat menjadi penyebab keseluruhan perasaan lesu, kelelahan yang berlebihan, dan kurangnya vitalitas.

Kondisi ini dapat memicu sulitnya berkonsentrasi, yang dapat berdampak pada kualitas kerja dan tingkat aktivitas sehari-hari kamu secara umum.

Secara umum, pusing dan sakit kepala juga disebabkan oleh krisis energi di otak. Kamu mengalami hipoglikemik dan dengan demikian mulai kehilangan kesadaran. 

4. Sakit tenggorokan

Sakit tenggorokan dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti infeksi atau hanya flu biasa hingga gangguan kelenjar tiroid.

Puasa memberikan tekanan energi tinggi pada tiroid, yang dapat bermanifestasi sebagai rasa sakit atau ketidaknyamanan di tenggorokan. Ini adalah respons tubuh terhadap kelangkaan nutrisi dengan mengatur fungsi tiroid untuk menjaga otot dan lemak.

Jika rasa sakit yang kamu alami mulai mengganggu dan semakin parah, sebaiknya pertimbangkan untuk membatalkan puasa. Hubungi dokter untuk mengetahui apa penyebab yang mendasarinya.

5. Rasa lapar kronis

Rasa lapar adalah hal yang lumrah saat kita berpuasa karena meningkatnya ghrelin, hormon kelaparan. Merasa lapar berarti tubuh kamu mengalami defisit energi dan tidak dapat mengakses lemak tubuh yang tersimpan.

Apabila rasa lapar yang kamu rasakan sudah sangat parah bahkan disertai gejala lain seperti pusing, sakit kepala, dan keletihan, ada baiknya kamu membatalkan puasa.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Nutrition.org.uk (2014) diakses 24 April 2020. https://www.nutrition.org.uk/nutritionscience/life/dehydrationelderly.html
  2. Healthgrades.com (2019) diakses 24 April 2020. https://www.healthgrades.com/right-care/migraine-and-headache/headache
  3. Medicalnewstoday.com (2015) diakses 24 April 2020. https://www.medicalnewstoday.com/articles/295914
  4. Tc.gc.ca (2011) diakses 24 April 2020. https://www.tc.gc.ca/eng/civilaviation/publications/page-6121.htm
  5. Healthengine.com.au (2005) diakses 24 April 2020. https://healthengine.com.au/info/oliguria-decreased-urine-production
  6. Healthline.com (2019) diakses 24 April 2020. https://www.healthline.com/health/food-nutrition/dry-fasting#side-effects
  7. NHS. Diakses pada 3 Mei 2021. Dehydration
  8. Verywell Health. Diakses pada 3 Mei 2021. An Overview of Oliguria
  9. Mayo Clinic. Diakses pada 3 Mei 2021. Heartburn
    register-docotr