Puasa

Buka Puasa dengan Makanan Pedas, Apa Efeknya?

April 14, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Makanan pedas hampir tak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk saat berbuka puasa. Makanan pedas diminati karena mampu memberikan citarasa tersendiri di lidah. Lalu, apa efek buka puasa dengan makanan pedas terutama saat perut masih kosong?

Buka puasa dengan makanan pedas, boleh atau tidak?

Cabai adalah salah satu komponen utama dari banyak makanan pedas. Tanpanya, rasa pedas pada sebuah hidangan tidak akan terasa membakar lidah. Meski mengandung banyak nilai gizi seperti vitamin A dan C, serat yang tinggi, dan antioksidan.

Tentu ada dampak yang akan ditimbulkan jika dikonsumsi secara berlebihan. Cabai mengandung capsaisin yang salah satu manfaatnya adalah untuk meningkatkan nafsu makan. Ini bisa menjadi aspek positif, karena tubuh yang berpuasa tidak mendapatkan asupan makanan hingga 12 jam.

Capsaisin dapat membantu seseorang untuk lebih lahap memakan sesuatu. Sehingga tak heran jika banyak orang suka dengan makanan pedas.

Dengan demikian, makanan pedas tetap boleh dikonsumsi saat berbuka puasa. Dengan catatan, porsi dan takarannya tidak berlebihan.

Meski begitu, kamu tetap disarankan mengawali buka puasa dengan air mineral dan makanan ringan terlebih dulu, tidak langsung melahap makanan utama. Biarkan perut beradaptasi sejenak setelah kosong belasan jam.

Efek berbuka puasa dengan makanan pedas

Sejumlah pakar kesehatan tidak mempermasalahkan berbuka puasa dengan makanan pedas, kok. Jadi, kamu tak perlu terlalu khawatir dengan dampak negatif yang ditimbulkan.

Hanya saja, tetap perhatikan porsi makanan yang kamu lahap, ya.

Seperti pepatah berkata, sesuatu yang berlebihan tidak baik untuk dilakukan, termasuk untuk hal yang satu ini. Pada dasarnya, cabai yang ada pada makanan pedas relatif aman untuk dikonsumsi saat berbuka. Asalkan, pastikan kamu tidak memiliki masalah pencernaan.

Justru, cabai bisa membantu melancarkan sembelit atau tidak lancar buang air besar yang disebabkan oleh kurangnya gerak dan asupan cairan saat berpuasa.

Lalu, apa efeknya jika buka puasa dengan makanan pedas terlalu banyak?

Satu hal yang sering terjadi adalah diare. Kandungan capsaicin bagi sebagian orang yang kurang dapat menoleransinya, dapat mengiritasi saluran cerna, menyebabkan terjadinya gangguan penyerapan cairan pada usus besar yang kemudian menyebabkan diare.

Jika kamu memiliki riwayat maag, sebaiknya hindari makanan yang satu ini, karena kandungan pada cabai bisa membuatnya kambuh.

Seseorang dengan penyakit ambeien juga tidak disarankan untuk memakan makanan pedas saat berbuka puasa. Sensasi panas bisa muncul pada dubur setelah melahapnya. Bahkan, jika dibiarkan, bisa menyebabkan pendarahan.

Ini yang terjadi pada tubuh saat memakan makanan pedas

Seperti yang telah disebutkan pada poin pertama, rasa pedas pada sebuah makanan berasal dari cabai. Cabai sendiri memiliki kandungan utama capsaisin yang tidak boleh disepelekan.

Riset yang dilakukan Johns Hopkins Medicine di Maryland, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa capsaisin adalah zat yang sangat iritatif untuk semua mamalia, termasuk manusia. Capsaisin sebenarnya tidak menghasilkan pedas, tapi sensasi panas.

Saat masuk ke dalam mulut, zat ini mulai bekerja dengan mengeluarkan rasa panas yang kemudian menempel pada lidah, lalu mengikat TRPV1, reseptor yang mampu mendeteksi rasa sakit. Di sinilah, ujung saraf mengirim sinyal ke otak untuk menerjemahkan panas menjadi rasa pedas.

Dengan begitu, rasa pedas yang muncul sebenarnya adalah reaksi dari otak untuk rasa sakit yang timbul dari sensasi panas. Capsaisin bekerja mengelabuhi otak dengan mengubah temperatur pada tubuh. Ini yang menyebabkan tubuh berkeringat setelah memakan makanan pedas.

Setelah mendapat sinyal dari saraf di lidah, otak akan bekerja memaksa badan untuk mendinginkan suhu, yaitu dengan berkeringat dan bernapas cepat. Sesudah itu, tubuh akan bekerja dengan sendirinya untuk menormalkan kondisi.

Makanan yang baik untuk dikonsumsi saat berbuka

Kamu bisa tetap buka puasa dengan makanan pedas, selama dalam batas wajar dan tidak ada masalah pencernaan.

Tetapi jika tubuhmu sudah merasakan efek samping seperti sakit perut, diare, dan maag kambuh, segera hentikan dan banyak minum air putih untuk menetralkannya.

Badan kesehatan dunia WHO sendiri telah mengeluarkan panduan khusus untuk iftar meal atau menu sehat berbuka puasa. Setelah azan Maghrib berkumandang, kamu bisa meneguk air putih atau air yang telah dicampur lemon dan daun mint.

Kemudian, perbanyak asupan sayuran, baik berupa sup atau salad. Untuk urusan daging, dada ayam adalah pilihan terbaik menurut WHO.

Menu yang dianjurkan untuk buka puasa

Menu berbuka puasa sebaiknya tak sembarangan. Sebab, perut sudah kosong selama berjam-jam dan tubuh membutuhkan banyak nutrisi penting. Berikut beberapa menu yang bisa dijadikan pilihan untuk berbuka:

Makanan penambah kalori

Selama berpuasa, tubuh tidak mendapatkan kalori yang cukup. Itulah alasan mengapa kamu lemas di siang hari ketika berpuasa. Untuk mencukupi kebutuhannya, pilih makanan yang bisa memberi kalori pada tubuh.

Sebelum mengonsumsi hidangan utama, tak ada salahnya untuk menyantap makanan ringan lebih dulu agar perut bisa beradaptasi setelah kosong selama berjam-jam. Buah-buahan bisa menjadi solusi sebagai menu pembuka atau yang kerap disebut dengan takjil. Pilihannya adalah:

  • Kurma: 277 kkal per 100 gr (direkomendasikan)
  • Apel: 130 kkal per 242 gr
  • Pisang: 110 kg per 125 gr
  • Melon: 50 kkal per 134 gr
  • Jeruk: 80 kkal per 154 gr
  • Nanas: 50 kkal per 112 gr
  • Semangka: 80 kkal per 280 gr
  • Anggur: 60 kkal per 126 gr

Sedangkan untuk hidangan utama, kamu bisa tetap mengandalkan nasi putih yang mempunyai kalori 123 kkal per 100 gr. Agar lebih nikmat dan menyehatkan, lengkapi dengan sayur-sayuran bergizi. Berikut nilai kalori pada beberapa sayuran yang bisa kamu santap ketika berbuka:

  • Brokoli: 45 kkal per 148 gr
  • Wortel: 30 kkal per 78 gr
  • Kembang kol: 25 kkal per 78 gr
  • Seledri: 15 kkal per 110 gr
  • Kacang panjang: 20 kkal per 83 gr
  • Mentimun: 10 kkal per 99 gr
  • Kubis: 25 kkal per 84 gr
  • Lobak: 10 kkal per 85 gr
  • Bayam: 23 kkal per 100 gr

Untuk urusan lauk, kamu bisa memilih beberapa opsi seperti daging sapi (217 kkal per 100 gr), dada ayam (284 kkal per 172 gr), salmon (175 kkal per 3 ons), makerel (133 kkal per 3 ons), tuna (109 kkal per 3 ons), atau udang (84 kkal per 3 ons).

Takjil yang sebaiknya dihindari

Saat memasuki waktu Maghrib, tidak sedikit orang yang langsung melahap semua menu takjil buka puasa yang ada di hadapannya. Padahal, ada beberapa menu yang sebaiknya tidak dimakan atau diminum terlalu sering.

Beberapa menu takjil yang sebaiknya dihindari adalah yang makanan atau minuman dengan santan dan lemak berlebih. Kolak dan gorengan misalnya, sudah menjadi bagian tak terlewatkan di meja makan saat berbuka. Padahal, keduanya justru tidak sepenuhnya baik untuk kesehatan.

Dikutip dari laman Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Universitas Gadjah Mada, kamu tetap boleh mengonsumsi kolak dan gorengan sebagai takjil, kok. Hanya saja, jangan terlalu sering dan dalam jumlah porsi yang sangat terbatas.

Santan dan gorengan memiliki kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi. Bukan hanya tidak sehat, keduanya bahkan bisa memberikan efek buruk pada tubuh jika dimakan secara berlebihan. Salah satu dampak jangka panjang yang ditimbulkan adalah obesitas.

Pilihan menu lainnya untuk berbuka

Buka puasa menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang berpuasa. Untuk mengembalikan energi yang hilang selama berpuasa, berikut rekomendasi menu yang patut dipertimbangkan untuk dijadikan hidangan berbuka:

Hati sapi

Hati sapi bisa mengembalikan energimu setelah berpuasa, karena mengandung vitamin B12 yang dapat membuat tubuh lebih bertenaga. Tiga ons steak daging sapi memiliki 1,5 mkg vitamin B12. Dalam ukuran yang tidak berbeda, hati sapi mempunyai 60 mkg vitamin yang sama.

Telur

Telur adalah salah satu makanan yang sudah menjadi favorit banyak orang. Kamu bisa mengembalikan energi pada tubuh setelah berpuasa dengan mengonsumsi makanan ini. Protein yang ada pada telur dapat menjadi sumber energi yang stabil dengan efek berkelanjutan.

Tak hanya itu, menurut sebuah studi pada 2017, telur juga mempunyai zat leusin, yaitu asam amino yang bisa merangsang produksi energi dalam beberapa cara. Leusin dapat membantu sel mengambil lebih banyak gula darah dan meningkatkan pemecahan lemak untuk dijadikan energi.

Oatmeal

Oatmeal dengan gandum utuh dapat membantumu untuk mengembalikan energi setelah berpuasa. Dikutip dari Healthline, oat merupakan makanan tinggi vitamin, mineral, zat besi, dan mangan yang bisa mengoptimalkan produksi energi.

Alpukat

Alpukat telah lama dianggap sebagai makanan super, mengandung sekitar 84 persen lemak sehat yang berasal dari asam lemak tak jenuh tunggal dan asam lemak tak jenuh ganda.

Menurut penelitian, lemak sehat tersebut terbukti bisa membantu meningkatkan kadar lemak darah, mengoptimalkan penyerapan nutrisi, dan berperan sebagai sumber energi yang baik. Tak hanya itu, serat pada alpukat juga bisa membantu menjaga energi agar tetap stabil.

Cokelat hitam

Buka puasa disarankan menggunakan yang manis-manis. Cokelat hitam atau dark chocolate bisa dijadikan sebagai camilan menyehatkan. Ini tak lepas dari kandungan kakao yang telah terbukti bisa meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh.

Tak hanya itu, berdasarkan sebuah riset, cokelat hitam juga mengandung senyawa teobromin, zat perangsang yang bisa meningkatkan pelepasan energi.

Yoghurt

Karbohidrat pada yoghurt tersedia dalam bentuk gula sederhana, seperti laktosa dan galaktosa. Saat dipecah, gula tersebut dapat menjadi sumber energi yang baik. Ini dapat membantumu mengembalikan energi yang hilang setelah berpuasa.

Jangan lupa cukupi kebutuhan cairan

Sekitar 70 persen komponen yang ada pada tubuh adalah air. Maka dari itu, sangat penting memenuhi kebutuhan asupan cairan setelah berpuasa lebih dari 10 jam. Rekomendasi yang ditentukan oleh banyak pakar adalah 8 sampai 10 gelas air per harinya, setara 2 liter air.

Namun, saat berbuka puasa, usahakan untuk minum air hangat terlebih dulu dan hindari air dingin atau es. Air hangat bisa memberimu banyak manfaat setelah berpuasa, yaitu menghindari sakit tenggorokan dan mengoptimalkan kinerja usus.

Nah, itulah ulasan tentang apakah boleh mengonsumsi makanan pedas saat berbuka atau tidak. Untuk meminimalkan dampak seperti sakit perut, jangan konsumsi makanan pedas secara berlebihan, ya. Kamu juga bisa menggunakan beberapa alternatif menu di atas sebagai hidangan berbuka.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2019), diakses 21 April 2020, Tak Boleh Makan Pedas Saat Sahur dan Berbuka, Mitos atau Fakta?

2. Buzz Feed News (2018), diakses 21 April 2020, Here’s What Happens to Your Body When You Eat Super Hot Peppers.

3. WHO, diakses 21 April 2020, Dietary recommendations for the month of Ramadan.

4. Healthline, Diakses 22 April 2020, Chili Peppers 101

    register-docotr