Kamus Penyakit

‘Batuk Tak Henti, Apakah Saya Kena TBC?’ Cari Tahu Gejalanya di Sini

May 6, 2020 | Putri Prima Soraya | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Tuberkulosis atau juga yang kita kenal dengan TBC merupakan salah satu penyakit menular terbesar di dunia setelah HIV. Menurut data WHO, pada 2018 diperkirakan 10 juta orang di dunia mengidap TBC. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan angka TBC yang tinggi.

Baca Juga: Biasa Makan Mie Instan saat Puasa? Yuk, Simak Fakta Berikut

Apa itu TBC

Ilustrasi bakteri. Sumber gambar pixabay

TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri yang disebut mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini akan menyerang paru, dan dapat menyerang organ tubuh lainnya seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.

Cara penularan TBC

Kita bisa tertular tuberkulosis dari udara. Ketika orang dengan TB misalnya batuk, bersin, atau meludah, dalam bentuk percikan dahak virus akan terlepas ke udara.

Ketika kita menghirup bakteri TBC, bakteri tersebut dapat mengendap di paru-paru dan mulai berkembang. Dari paru, bakteri bergerak melalui darah ke bagian tubuh lainnya. 

Umumnya, penularan terjadi dalam ruangan, di mana percikan dahak berada dalam waktu yang lebih lama. Terutama dalam ruangan yang lembab tanpa ventilasi.

Tapi, tidak semua penyakit tuberkulosis dapat menular. Penyakit TBC paru dan tenggorokan bisa menular, tapi tidak dengan penyakit TB tulang,atau juga ginjal yang biasanya tidak menular.

Siapa yang paling berisiko TBC

  • Orang yang kontak erat dengan pasien TBC
  • Pergi atau tinggal di area yang angka pasien TB nya tinggi
  • Bekerja di rumah sakit
  • Petugas kesehatan yang menangani pasien TB
  • Merokok
  • Orang dengan imunitas rendah, contohnya orang dengan HIV, diabetes, penderita kanker.

Gejala-gejala TBC

Gejala penyakit ini sendiri tergantung dari mana bakteri berkembang dalam tubuh. Untuk penyakit tuberkulosis aktif, pada umumnya memiliki gejala sebagai berikut:

  • Batuk yang berlangsung selama 3 minggu atau lebih.
  • Nyeri pada dada
  • Batuk berdahak dan berdarah.
  • Lemah dan mudah lelah.
  • Penurunan berat badan.
  • Panas dingin.
  • Demam.
  • Berkeringat di malam hari.

Ada juga beberapa gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ tubuh mana yang terlibat.

  • Bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, dan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak. 
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada. 
  • Jika mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah. 
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Tipe-tipe TBC

Jangan mengira jika kamu mengalami infeksi TBC, kamu akan mengalami sakit, karena TBC sendiri ada 2 jenis.

1.TB laten

Pada kondisi ini, kamu memiliki infeksi TB, namun sistem kekebalan tubuh menghentikan bakteri untuk tumbuh. Bakteri menjadi tidak aktif, tetapi mereka tetap hidup dalam tubuh, dan bisa menjadi aktif. 

2. TB aktif

Ini adalah kondisi dimana kuman berkembang biak dan membuat kamu mengalami sakit. Dalam banyak kasus juga, TB aktif dapat menular. Pada kasus TB aktif dewasa, 90 persen berasal dari reaktivasi infeksi TB laten.

Diagnosis TBC

Biasanya, ada dua tes yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah kita punya TBC atau tidak. Tapi 2 tes umum ini tidak bisa memberi tahu apakah TB laten atau aktif. Perlu dilakukan serangkaian tindakan lainnya untuk dapat mengetahui tipe TB.

1. Tes kulit

Ini juga dikenal dengan sebagai tes kulit Mantoux tuberculin. Cara tesnya adalah dengan menyuntikan cairan pada kulit lengan bawah kita. Hasil bisa diketahui setelah 2 atau 3 hari tes, petugas akan memeriksa apakah lengan kita mengalami pembengkakan, dari sana dapat diketahui apakah hasil positif atau negatif.

Kita bisa saja diminta untuk melakukan tes ini lebih dari satu kali untuk hasil yang lebih akurat.

2. Tes darah

Tes ini juga disebut dengan tes pelepasan interferon-gamma atau IGRA. Cara tesnya adalah dengan mengukur respons ketika protein TB dicampur dengan sejumlah kecil darah kita.

Jika dalam tes hasilnya positif, dokter akan menganjurkan kita untuk melakukan rontgen dada atau CT scan untuk mengetahui perubahan paru-paru. 

Selain itu juga, dokter akan menguji TB dari dahak, atau lendir ketika kita batuk. Dari sinilah dapat diketahui tipe TB, apakah laten atau aktif. 

Pengobatan TBC

Ketika kita menderita TBC, pengobatan akan tergantung dari tipe, apakah laten atau aktif.

  • Jika kamu punya jenis tuberkulosis laten, dokter akan memberikan obat yang berguna untuk membunuh bakteri sehingga tidak berkembang menjadi aktif.
  • Jika kamu melihat gejala tuberkulosis menjadi aktif, segera hubungi dokter. Dokter akan mengobati tuberkulosis aktif dengan kombinasi obat-obatan. Obat tersebut akan kamu konsumsi dalam jangka waktu 6 sampai 12 bulan. Lamanya waktu perawatan ini ditentukan juga dari usia, kesehatan, kemungkinan resistensi obat dan lokasi infeksi dalam tubuh.

Obat TBC

Kalau kamu menderita tuberkulosis tipe laten, kemungkinan kamu perlu meminum 1 atau 2 jenis obat. Tapi jika tipe aktif, kamu perlu meminum beberapa jenis obat sekaligus.

Obat-obat yang paling umum digunakan untuk mengobati TBC meliputi:

  • Isoniazid
  • Rifampin (Rifadin, Rimactane)
  • Etambutol (Myambutol)
  • Pyrazinamid

Tapi, jika kamu memiliki tuberkulosis yang resisten terhadap obat, maka akan ada kombinasi antibiotik yang disebut fluoroquinolone dan obat yang dapat disuntikkan, seperti amikacin atau capreomycin (Capastat). 

Beberapa obat juga dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada pengobatan TB yang resisten terhadap obat, seperti:

  • Bedaquiline (Sirturo)
  • Linezolid (Zyvox)

Menyelesaikan pengobatan TBC adalah hal penting

Dalam pengobatan TB, baik itu aktif dan laten. Sangat penting untuk melakukan pengobatan secara tuntas. Mungkin kamu akan merasa lebih baik dalam hitungan minggu setelah pengobatan, tapi pengobatan harus tetap dilakukan.

Hal ini karena, jika kamu menghentikan pengobatan atau melewatkan minum obat, ini dapat membuat bakteri yang masih hidup menjadi kebal terhadap obat. Sehingga menyebabkan TB jauh lebih bahaya dan sulit untuk diobati.

Baca Juga: Cataflam: Kegunaan, Dosis, hingga Efek Samping yang Bisa Dirasakan

Pencegahan TBC

Jika kamu memiliki TB, ikuti beberapa tips berikut ini agar kamu bisa mencegah penularan TB kepada orang terdekatmu.

  1. Minumlah semua obat-obatan sesuai dengan resep
  2. Selalu tutup mulut dengan tisu saat batuk atau bersin. Jangan buang dahak sembarangan,  buang dahak dalam kantong plastik
  3. Bila perlu gunakan masker
  4. Cuci tangan setelah batuk atau bersin
  5. Jangan mengunjungi orang lain dan jangan mengundang mereka untuk mengunjungi kamu untuk sementara waktu
  6. Pastikan sirkulasi udara dalam ruangan baik, kamu bisa menggunakan kipas angin atau buka jendela
  7. Untuk sementara, hindari naik transportasi umum.

Di negara-negara dengan tingkat infeksi TB yang tinggi, bayi sering diberikan vaksin BCG. Di Indonesia sendiri, vaksin ini termasuk imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berumur tiga bulan.

Itulah hal-hal tentang tuberkulosis yang perlu kamu ketahui. Jika kamu merasa adanya gejala, segera hubungi dokter. Penanganan yang cepat dan tepat akan meminimalisir virus TB menjadi semakin buruk. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Webmd (2018). Diakses pada 02 Mei 2020. Tuberculosis Prevention: What to Know

Mayo Clinic (2019). Diakses pada 02 Mei 2020. Tuberculosis

CDC (2012). Diakses pada 02 Mei 2020. Tuberculosis

WHO (2020). Diakses pada 02 Mei 2020. Tuberculosis

Webmd (2019). Diakses pada 02 Mei 2020. Tuberculosis (TB)

    register-docotr