Kamus Penyakit

Bukan Cuma Paru-paru, Penyakit TBC Juga Bisa Serang Tulang Kamu, Ini Fakta Lengkapnya!

June 29, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Tuberculosis (TBC) adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kamu mungkin selama ini mengenal jika penyakit ini terjadi di paru saja, tapi TBC juga bisa menyerang tulang, lho!

TBC sendiri merupakan penyakit yang umumnya berada di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di beberapa kasus, TBC ini terjadi di wilayah lain di luar paru-paru dan disebut dengan TBC luar paru, salah satu bentuknya adalah TBC tulang.

Apa itu penyakit TBC tulang?

Penyakit ini merupakan salah satu bentuk TBC luar paru yang menginfeksi tulang belakang, tulang panjang dan sendi. Menurut Center for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, penyakit ini merupakan 10 persen dari keseluruhan TBC luar paru yang paling banyak di negara itu.

TBC bisa mengenai bagian tulang mana pun dari tubuh kamu, dan saat menyerang tulang belakang, maka dia akan disebut dengan pott disease atau Spondilitis tuberkulosis. TBC Spondilitis ini telah ditemukan pada tahun 1779 pada mumi dari Spanyol dan Peru.

Penyebab penyakit TBC tulang

Penyakit ini terjadi saat kamu mengidap tuberculosis dan dia menyebar ke luar paru-paru. Bakteri penyebab tuberculosis ini sendiri menyebar antar individu melalui udara.

Saat kamu mengidap tuberculosis, bakteri ini dapat menyebar melalui darah dari paru-paru atau kelenjar getah bening ke tulang, tulang belakang atau sendi. Penyakit TBC tulang biasanya terjadi karena suplainya yang terlalu banyak di tulang panjang atau tulang belakang.

TBC tulang sangat jarang terjadi, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, prevalensi penyakit ini meningkat di negara berkembang, sebagian terjadi karena berkembangnya AIDS. Disamping langka, TBC tulang juga sulit untuk didiagnosis dan dapat menjadi parah jika tidak ditangani.

Gejala penyakit TBC Tulang

Tidak mudah untuk menyadari gejala dari penyakit ini sampai dia jauh berkembang. TBC tulang, terutama TBC tulang belakang, sulit untuk didiagnosis. 

TBC tulang tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal, dan kamu pun tidak akan menunjukkan gejala apapun. Namun, saat sudah berhasil didiagnosis, tanda dan gejala penyakit TBC tulang ini kadang sudah sangat parah. 

Terkadang, bakteri penyebab penyakit ini bisa tidak aktif di dalam paru-paru kamu dan menyebar tanpa kamu ketahui kalau kamu memiliki bakteri ini. Meskipun demikian, kondisi berikut ini bisa jadi menandakan kalau kamu menderita TBC tulang:

Saat TBC tulang sudah berkembang lebih lanjut, gejala yang berbahaya dapat berupa:

  • Komplikasi saraf
  • Kelumpuhan
  • Pemendekan bagian tubuh pada TBC yang dialami anak-anak
  • Kelainan bentuk tulang

Beberapa gejala normal TBC paru ini pun bisa saja terjadi:

  • Keletihan
  • Demam
  • Keringat malam
  • Kehilangan berat badan

Penanganan penyakit TBC tulang

Meskipun TBC tulang dapat menyebabkan efek samping yang menyakitkan, kerusakan yang dihasilkan penyakit ini sebenarnya dapat dikurangi jika ditangani dengan cepat dan pengobatan yang tepat.

Pada banyak kasus, kamu akan membutuhkan operasi tulang belakang, salah satunya adalah laminektomi yang mengangkat sebagian tulang belakang.

Pengobatan merupakan pertahanan utama untuk mengatasi TBC tulang, dan lamanya pengobatan dapat berlangsung dari 6 hingga 18 bulan. Di antaranya adalah:

  • Pengobatan antituberculosis seperti rifampicin, isoniazid, ethambutol dan pyrazinamide
  • Operasi

Operasi laminektomi

Laminektomi adalah prosedur bedah untuk meredakan tekanan pada tulang belakang atau akar saraf tulang belakang yang disebabkan oleh stenosis tulang belakang. Dalam kasus TBC tulang, operasi ini juga bisa dilakukan.

Prosedurnya melibatkan pembedahan pada punggung untuk mengangkat tulang dan/atau jaringan yang menyebabkan tekanan pada tulang belakang kamu. Laminektomi ini juga bisa digunakan untuk mengatasi cedera tulang belakang, herniasi diskus dan tumor tulang belakang.

Terapi obat

Isoniazid dan rifampin dapat diberikan sepanjang terapi dilakukan, dan obat ini adalah lapisan pertama. Jika ada resistensi obat, maka dapat diberikan pyrazinamide, streptomycin dan ethambutol. 

Durasi terapi ini masih diperdebatkan, meskipun ada rekomendasi untuk dilakukan selama 6 hingga 9 bulan pengobatan.

Ada juga pengobatan tradisional yang dijalankan selama 9 hingga 1 tahun lamanya. Durasi terapi ini berbeda-beda pada tiap orang, tergantung dari stabilitas klinis dan gejala aktif dari pasien yang bersangkutan.

Isoniazid

Obat ini sangat aktif untuk melawan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Isoniazid memiliki daya serap di dalam saluran pencernaan yang baik dan dapat berpenetrasi dengan baik ke seluruh cairan dan rongga tubuh

Rifampin (rifadin)

Obat ini untuk digunakan sebagai kombinasi dengan setidaknya 1 obat antituberculosis. Obat ini akan menghambat polimerase RNA dari bakteri yang DNA dependen, resistensi silang bisa terjadi di sini.

Pyrazinamide

Obat ini adalah bakterisida untuk melawan M. tuberculosis dalam lingkungan yang asam. Obat ini memiliki kemampuan untuk terserap dengan baik di saluran pencernaan dan berpenetrasi dengan baik ke dalam banyak jaringan, termasuk cairan serebrospinal.

Ethambutol

Obat ini memiliki aktivitas bakteriostatik untuk melawan M. tuberculosis. Ethambutol juga memiliki daya serap yang baik di dalam saluran pencernaan.

Streptomycin

Obat ini merupakan bakterisidal di dalam lingkungan alkaline. Streptomycin tidak terserap di saluran pencernaan, karena itu obat ini harus diberikan secara parenteral.

Faktor risiko TBC tulang

Sama seperti TBC pada umumnya, kamu berisiko terkena penyakit ini jika kamu:

  • Mengidap HIV
  • Memiliki riwayat positif tes mantoux atau tes dengan menyuntikkan purified protein derivative
  • Memiliki riwayat pengobatan TBC sebelumnya
  • Terpapar TBC
  • Bepergian atau datang dari wilayah endemi TBC
  • Tunawisma atau hidup berpindah-pindah di jalan

Jenis penyakit TBC tulang

TBC pada tulang merupakan kasus komplikasi TBC luar paru yang jarang terjadi. Penderita penyakit ini diperkirakan hanya 1 hingga 3 persen dari keseluruhan pasien TBC.

Di antara mereka, diperkirakan setengahnya terjadi di tulang belakang dan sisanya mempengaruhi sendi extraspinal osteoarticular

TBC tulang belakang

Penyakit ini biasa disebut juga dengan Pott disease, diberikan nama demikian karena penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh Percival Pott pada tahun 1779. Kala itu Pott menemukan adanya hubungan antara kelemahan alat gerak bawah dengan kurvatura tulang belakang.

TBC tulang belakang ini merupakan penyakit berbahaya karena dapat menyebabkan destruksi tulang, deformitas dan paraplegia. 10 sampai 45 persen penderita TBC tulang belakang ini biasanya disertai dengan defisit neurologik.

Pott disease ini biasanya terjadi karena adanya infeksi dari luar dan penyebaran parasit yang dalam hal ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan TBC. Penyakit ini biasanya menyerang lebih dari satu ruas tulang belakang.

Sekitar 40 hingga 50 persen pott disease terjadi di tulang punggung bagian bawah, dengan 35 hingga 45 persennya kejadian lain banyak terjadi di lumbar spinal. 10 persennya terjadi di tulang belakang leher.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik pada pott disease akan dilakukan dengan cara berikut:

  • Pemeriksaan dengan seksama pada deretan tulang belakang
  • Inspeksi pada kulit 
  • Evaluasi pada perut
  • Pemeriksaan neurologis dengan seksama

Pemeriksaan harus menemukan rasa sakit lokal di tempat di mana infeksi bakteri ini terjadi. Otot yang tegang dan kaku biasanya menjadi petunjuk dari cara menemukan lokasi infeksi.

Bengkak bernanah di jaringan sekitaran tulang belakang atau otot psoas bias terlihat menonjol di bawah ligamen inguinal. Defisit neurologi dapat terjadi lebih cepat sebagai dampak dari pott disease, dan hal ini akan diperiksa semua untuk memastikan adanya penyakit ini.

Diagnosis pott disease

Informasi yang didapat dari studi pencitraan, mikrobiologi dan patologi anatomi dapat membantu tenaga medis untuk mendiagnosis penyakit ini. Meskipun demikian, diagnosis etiologi pada mikroorganisme akan sulit jika sumbernya terbatas.

Langkah lain yang bisa diambil untuk mendiagnosis penyakit ini adalah dengan:

  • Tes mantoux menggunakan purified protein derivative
  • Foto radiografi pada bagian dada
  • Melihat faktor risiko dari tuberculosis

TBC tulang belakang akan selalu dicurigai keberadaannya jika radiografi menunjukkan adanya proses kerusakan tulang belakang.

Segala tes yang dilakukan ini juga bisa menghasilkan diagnosis yang berbeda, di antaranya:

  • Tumor tulang belakang
  • Mycobacterium kansasii
  • Nocardiosis
  • Paracoccidiodomycosis
  • Septic arthritis
  • Bengkak bernanah pada sumsum tulang belakang

TBC sendi

Penyakit ini memiliki nama alternatif granulomatous arthritis. Tidak banyak orang yang memiliki bakteri M. tuberculosis akan berujung pada TBC sendi.

Beberapa sendi yang biasanya diserang oleh bakteri ini adalah pergelangan kaki, panggul, lutut, tulang belakang dan pergelangan tangan. Pada banyak kasus, biasanya bakteri M. tuberculosis hanya akan menyerang satu sendi saja.

Gejala khusus

Terdapat beberapa gejala khusus jika kamu terkena penyakit ini, di antaranya:

  • Persendian jadi susah digerakkan
  • Keringat yang berlebihan, terutama saat malam hari
  • Bengkak pada sendi yang terasa hangat dan lunak
  • Demam yang tidak terlalu tinggi
  • Atrofi otot
  • Kejang otot
  • Mati rasa, kesemutan pada bagian yang diserang bakteri
  • Kehilangan berat badan atau nafsu makan

Sebagai catatan, kondisi penyakit ini biasanya akan berjalan dengan lambat.

Pemeriksaan fisik

Jika ada gejala dan tanda-tanda yang dicurigai sebagai TBC pada tubuh kamu, maka kamu akan menjalani serangkaian pemeriksaan fisik untuk memastikan hal ini. Tes yang akan kamu jalani antara lain:

  • Penyedotan cairan di sendi
  • Biopsi sendi untuk mendeteksi bakteri penyebab TBC
  • X-ray dada
  • CT scan tulang belakang
  • X-ray sendi yang menunjukkan gejala TBC
  • Mantoux tes

Penanganan

Jika sudah dikonfirmasi kamu memiliki penyakit ini, maka kamu akan menjalani penanganan untuk menyembuhkan infeksi yang terjadi. Penanganan ini bisa dilakukan dengan konsumsi obat yang melawan bakteri TBC.

Pengobatan TBC selalu merupakan kombinasi dari beberapa obat, biasanya empat. Semua obat ini harus dikonsumsi sampai tes laboratorium menunjukkan obat mana yang bekerja dengan baik.

Obat yang biasanya dikonsumsi adalah isoniazid, rifampin, pyrazinamide dan ethambutol. Meskipun demikian, ada juga obat lain yang dapat dipakai untuk menangani TBC, di antaranya adalah:

  • Amikacin
  • Ethionamide
  • Moxifloxacin
  • Asam para-aminosalisilat
  • Streptomycin

Kamu mungkin butuh untuk mengonsumsi obat yang berbeda pada waktu yang berbeda juga untuk 6 bulan atau lebih lama. Pastikan kamu meminum obat sesuai dengan yang diresepkan dokter.

Komplikasi

Penyakit TBC sendi juga bisa menghasilkan komplikasi. Beberapa penyakit yang bisa terjadi pada kamu antara lain:

  • Rusaknya tulang belakang yang bisa mengakibatkan kyphosis
  • Rusaknya sendi
  • Tertekannya sistem saraf
  • Tertekannya sumsum tulang belakang

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference
  1. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2003) diakses 25 Juni 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12787528/
  2. E-journal.unair.ac.id (2016) diunduh 25 Juni 2020. https://e-journal.unair.ac.id/JR/article/download/12631/7273
  3. Saripediatri.org (2008) diunduh 25 Juni 2020. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/667/602
  4. Reference.medsape.com (2019) diakses 25 juni 2020. https://reference.medscape.com/medline/abstract/30941375
  5. Healthline.com (2018) diakses 24 juni 2020. https://www.healthline.com/health/bone-tuberculosis
  6. Emedicine.medscape.com (2019) diakses 24 juni 2020. https://emedicine.medscape.com/article/226141-overview
  7. Ufhealth.org diakses 24 juni 2020. https://ufhealth.org/tuberculous-arthritis
  8. Omicsonline.org (2014) diakses 24 juni 2020. https://www.omicsonline.org/open-access/tuberculosis-arthritis-epidemiology-diagnosis-treatment-2329-910X-2-131.php?aid=24678#7
    Berita Terkait
    register-docotr