Kamus Penyakit

Demam Tifoid

June 20, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Demam tifoid, atau yang lebih dikenal dengan istilah tipes, adalah salah satu penyakit yang bisa membahayakan nyawa. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), angka kematiannya di tingkat global mencapai 21 juta kasus per tahun.

Lantas, apa sebenarnya demam tifoid itu? Apa penyebabnya dan bagaimana gejalanya? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Apa itu penyakit demam tifoid? 

Demam tifoid adalah penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Bukan hanya demam, pengidapnya sangat rentan mengalami gangguan sistem pencernaan akibat penyakit ini.

Penyakit ini lebih sering terjadi di negara-negara berkembang, terutama yang mempunyai sistem sanitasi buruk. Dikutip dari Medical News Today, 25 persen dari seluruh kasus tipes berakhir dengan kematian.

Sehingga, begitu didiagnosis mengidap tipes, penderitanya harus mendapat perawatan yang tepat. Jika terdeteksi lebih awal, pengobatan antibiotik bisa mempercepat penyembuhan.

Apa penyebab demam tifoid?

bakteri pemicu demam tifoid
Bakteri Salmonella typhi. Sumber foto: Medical News Today.

Demam tifoid adalah penyakit yang dipicu oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini hidup di usus dan aliran darah manusia. S. typhi masuk melalui mulut lalu bertahan (masa inkubasi) satu hingga tiga pekan di usus. Kemudian, berpindah ke aliran darah melalui dinding usus.

Dari aliran darah, bakteri itu bisa menyebar ke jaringan atau organ lain. Sistem kekebalan tidak bisa berbuat banyak dalam melawannya, karena bakteri tersebut hidup di dalam inang sel, bukan di lapisan dindingnya.

Seseorang biasanya terpapar bakteri tersebut dari konsumsi makanan yang masih mentah atau setengah matang, seperti telur dan daging unggas. Meski hewan tertentu bisa menjadi inang bakteri, tidak ada binatang yang membawa penyakit tifoid. Penularan selalu terjadi dari orang ke orang.  

Siapa saja yang lebih berisiko terkena demam tifoid?

Demam tifoid adalah penyakit yang tiap tahunnya menyerang puluhan juta orang. Penyakit ini lebih umum terjadi di negara seperti India, Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Dibanding orang dewasa, anak-anak lebih berisiko terkena penyakit tersebut.

Selain itu, seseorang bisa mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit tersebut jika:

  • Bekerja atau bepergian di daerah di mana ada kasus tipes
  • Bekerja sebagai ahli mikrobiologi klinis yang menangani bakteri S. typhi
  • Memiliki kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi atau baru saja terinfeksi
  • Minum air yang tercemar oleh limbah yang mengandung S. typhi

Apa gejala dan ciri-ciri demam tifoid?

Gejala atau tanda dari tipes cenderung berkembang secara bertahap, sering muncul satu hingga tiga pekan setelah terpapar bakteri. Gejala yang umum terjadi meliputi:

  • Demam tinggi mencapai 40,5 derajat Celcius
  • Sakit kepala berkepanjangan
  • Mudah lelah dan lemah
  • Nyeri otot
  • Berkeringat tanpa sebab
  • Batuk kering
  • Hilang nafsu makan yang berdampak pada penurunan berat badan
  • Sakit perut
  • Diare
  • Sembelit atau sulit buang air besar
  • Muncul ruam di kulit
  • Perut tampak buncit

Jika sudah muncul salah satu atau beberapa dari gejala di atas, itu artinya bakteri telah melewati masa inkubasinya. Penanganan medis harus segera dilakukan. Tanpa pengobatan, gejalanya dapat memburuk, pengidap bisa sangat lemah hingga tak mampu untuk bergerak.

Pada beberapa orang, tanda dan gejala bisa muncul kembali hingga dua pekan setelah demam mereda.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Ini 7 Gejala Tipes pada Anak yang Harus Diwaspadai!

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat demam tifoid?

Seperti yang telah disebutkan, demam tifoid adalah penyakit yang membutuhan penanganan medis sesegera mungkin. Jika terlambat diobati hingga kondisinya bertambah buruk, sejumlah komplikasi dikhawatirkan terjadi, seperti:

  • Perdarahan dan muncul lubang di usus, biasanya berkembang pada pekan ketiga setelah dinyatakan sakit. Usus kecil atau usus besar berlubang, isinya dapat bocor dan bisa memicu sakit perut parah, mual, muntah, dan sepsis. Komplikasi ini dapat mengancam nyawa
  • Peradangan otot jantung (miokarditis)
  • Peradangan pada lapisan dan katup jantung (endokarditis)
  • Infeksi pembuluh darah utama (aneurisma mikotik)
  • Radang paru-paru
  • Peradangan pada pankreas (pankreatitis)
  • Infeksi kandung kemih atau ginjal
  • Peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak serta sumsum tulang belakang (meningitis)
  • Gangguan kejiwaan, misalnya delirium, halusinasi, dan paranoid

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati demam tifoid?

Penanganan demam tifoid dibedakan menjadi dua, yaitu secara medis di rumah sakit atau di rumah. Untuk penanganan di rumah sakit, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan lebih dulu, kemudian pengobatan.

Perawatan demam tifoid di dokter

Sebelum memberikan obat dan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan ada atau tidaknya bakteri S. typhi di dalam tubuh, di antaranya:

  • Riwayat medis dan perjalanan: Dokter akan menanyakan apa saja gejala yang kamu alami. Dokter mungkin mencurigai adanya S. typhi di dalam tubuh jika kamu telah bepergian ke wilayah yang sedang mewabah kasus tipes
  • Tes cairan dan jaringan tubuh: Dokter akan mengambil sedikit sampel darah, feses, urine, atau cairan dari sumsum tulang belakang untuk mendeteksi apakah ada bakteri S. typhi atau tidak
  • Tes lain: Tes antibodi dan tes DNA dari bakteri bisa dilakukan sebagai pendukung tes yang sebelumnya dilakukan

Jika dinyatakan positif mengidap demam tifoid, dokter akan melakukan perawatan. Antibiotik adalah salah satu pengobatan yang paling sering dilakukan untuk mengatasi penyakit ini.

Cara mengatasi demam tifoid secara alami di rumah

Sebenarnya, perawatan pasien tipes sering kali dilakukan di rumah sakit. Untuk penanganan di rumah biasanya fokus pada mengatasi gejala di awal waktu sebelum mendapat diagnosis, yaitu dengan cara:

  • Meningkatkan asupan cairan, karena gejala seperti muntah dan diare dapat memicu dehidrasi parah
  • Kompres dingin untuk meredakan demam yang tinggi
  • Minum oralit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang karena muntah dan diare akibat demam tifoid
  • Istirahat yang cukup, jika perlu izin untuk tidak masuk sekolah atau bekerja

Baca juga: Ciri Tipes Mulai Membaik, Kenali Tanda-tandanya Berikut Ini!

Apa saja obat demam tifoid yang biasa digunakan?

Obat demam tifoid dibedakan menjadi dua, yaitu obat-obatan medis dan obat alami. Obat-obatan medis tetap menjadi yang utama dalam perawatannya. Sedangkan obat herbal biasanya digunakan sebagai pendukung perawatan.

Obat demam tifoid di apotek

Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Maka, pengobatan yang digunakan adalah pakai antibiotik, seperti:

  • Ciprofloxacin (Cipro): Obat ini sering diresepkan untuk orang dewasa yang tidak hamil. Namun, obat ini terkadang tidak cukup efektif dalam membasmi strain dari S. typhi di negara tertentu
  • Azitromisin (Zitromax): Obat ini diresepkan jika pasien tidak bisa menggunakan ciprofloxacin atau bakteri pemicunya resisten terhadap ciprofloxacin
  • Seftriakson: Antibiotik suntik, alternatif untuk kasus tipes yang parah dan serius serta untuk pasien yang tidak bisa mengonsumsi ciprofloxacin seperti anak-anak

Obat-obatan tersebut bisa memicu efek samping. Penggunaan jangka panjang juga dapat menyebabkan perkembangan bakteri yang menjadi resisten terhadap antibiotik.

Resistensi antibiotik

Kloramfenikol pernah digunakan untuk mengatasi demam tifoid, tapi sekarang sudah tak dipakai lagi karena efek samping yang mengkhawatirkan dan bisa menyebabkan resistensi.

Resistensi adalah kondisi ketika bakteri sudah kebal, tak bisa lagi dibasmi oleh antibiotik, sehingga dapat memperburuk keadaan.

Obat demam tifoid alami

Beberapa negara di Asia, terutama Indonesia, menggunakan bahan-bahan alami dari tanaman sebagai pengobatan pendukung demam tifoid. Menurut sebuah penelitian, berikut beberapa herbal atau obat alami yang biasa dipakai dalam penanganan demam tifoid di Indonesia:

  • Buah mimba, mempunyai efek menghambat pertumbuhan bakteri
  • Buah maja, memiliki kandungan agen antimikroba yang sangat kuat
  • Delima, mempunyai kandungan agen antimikroba dan efek yang bisa meringankan gejala diare
  • Pala, memiliki senyawa antimikroba yang kuat
  • Lili jawa, mengandung senyawa bakterisida, dapat membunuh beberapa jenis bakteri
  • Daun ketus, secara spesifik disebutkan bisa mengatasi demam tifoid
  • Daun pepaya, mempunyai senyawa antibakteri alami
  • Serai, disebut secara spesifik mempunyai senyawa antibakteri yang bisa menghambat perkembangan S. typhi
  • Pare, mempunyai senyawa antibakteri yang kuat
  • Daun jambu biji, terbukti secara klinis dapat membasmi bakteri S. typhi pada tikus
  • Tomat, dipercaya dapat menghambat perkembangan bakteri S. typhi
  • Lidah buaya, bertindak sebagai imunostimulator yang bisa melawan infeksi bakteri
  • Bawang putih, mempunyai senyawa antibakteri yang sangat tinggi
  • Kelapa, memiliki senyawa antibakteri yang kuat
  • Kemangi, memiliki senyawa antibakteri yang kuat
  • Daun selasih, dapat membantu mengatasi diare akibat demam tifoid
  • Buah pohon rimba, disebut secara spesifik mempunyai senyawa aktif yang dapat melawan bakteri S. typhi

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita demam tifoid?

Pengidap demam tifoid harus memperhatikan asupan makanannya. Selain dapat mempercepat penyembuhan karena asupan nutrisi yang didapat, makanan tertentu juga bisa menimbulkan efek sebaliknya, yaitu memperparah kondisi penyakit.

Makanan yang direkomendasikan

Dikutip dari Healthline, pengidap tipes disarankan untuk memilih makanan yang rendah serat, seperti sayuran, buah-buahan segar, dan biji-bijian. Penting juga untuk selalu terhidrasi dengan minum banyak air.

Berikut adalah beberapa makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi:

  • Sayuran yang dimasak: kentang, wortel, kacang panjang
  • Buah-buahan yang sudah matang: pisang, melon, apel
  • Biji-bijian: nasi putih
  • Protein: telur, ayam, ikan, tahu, daging (harus diolah sampai benar-benar matang)
  • Produk susu: susu yang sudah dipasteurisasi, rendah atau bebas lemak
  • Minuman: air minum kemasan, teh herbal, air kepala, jus buah

Makanan yang sebaiknya dihindari

Semua makanan yang sulit dicerna sebaiknya dihindari ketika sedang mengidap demam tifoid. Makanan tinggi lemak dan pedas adalah dua di antaranya. Berikut beberapa menu yang sebaiknya tidak dikonsumsi saat terserang tipes:

  • Sayuran mentah: brokoli, kangkung, kembang kol
  • Buah-buahan: nanas dan kiwi
  • Biji-bijian: quinoa, barley, beras merah, soba, biji labu, biji rami, chia seed
  • Kacang-kacangan: almond, kenari (walnut), kacang merah, buncis
  • Makanan pedas: cabai dan paprika
  • Makanan berlemak: donat, keripik kentang, dan makanan yang digoreng

Baca juga: Bisa Berakibat Fatal, Apakah Tipes Menular? Berikut Penjelasannya!

Bagaimana cara mencegah demam tifoid?

Demam tifoid adalah penyakit yang bisa membahayakan nyawa jika tak segera ditangani. Untuk meminimalkan risikonya, kamu bisa melakukan beberapa langkah pencegahan, seperti:

  • Cuci tangan pakai sabun dan air bersih, terutama saat menyiapkan makan, sebelum makan, dan setelah menggunakan toilet
  • Gunakan pembersih tangan yang mengandung alkohol jika tak tersedia air
  • Hindari minum air yang tidak diolah, lebih baik bawa minuman kemasan saat bepergian
  • Hindari buah-buahan yang masih mentah
  • Pilih makanan panas dan hindari makanan yang disajikan dengan suhu kamar

Selain itu, kamu juga bisa melakukan vaksinasi lebih dulu jika ingin bepergian ke daerah atau negara yang mempunyai kasus demam tifoid.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang demam tifoid yang perlu kamu tahu. Agar terhindar dari penyakit tersebut, terapkan beberapa langkah pencegahan seperti yang telah disebutkan, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Mayo Clinic, diakses 9 Juni 2021, Typhoid Fever.
  2. Medical News Today, diakses 9 Juni 2021, What you need to know about typhoid.
  3. Healthline, diakses 9 Juni 2021, Typhoid.
  4. Healthline, diakses 9 Juni 2021, Typhoid Diets.
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 9 Juni 2021, Typhoid Fever.
  6. Sys Rev Pharm, diakses 9 Juni 2021, A MINI REVIEW: MEDICINAL PLANTS FOR TYPHOID FEVER IN INDONESIA.
  7. Pharmeasy, diakses 9 Juni 2021, 10 Home Remedies For Typhoid!

    register-docotr