Kamus Obat

Cilostazol

January 22, 2021 | Arin Khurota | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Cilostazol merupakan obat yang sering diresepkan untuk mengobati beberapa gangguan kesehatan yang berkaitan dengan pendarahan.

Obat ini kali pertama disetujui untuk penggunaan medis di Amerika Serikat pada tahun 1999. Cilostazol termasuk dalam golongan obat yang paling sering direkomendasikan sebagai antiplatelet di berbagai dunia.

Berikut informasi selengkapnya mengenai obat cilostazol, manfaat, dosis, cara penggunaan, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat cilostazol?

Cilostazol adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala klaudikasio intermiten. Kondisi ini menyebabkan aliran darah ke kaki berkurang sehingga timbul rasa nyeri saat berjalan.

Obat ini termasuk dalam golongan obat penghambat agregat platelet dan vasodilator arteri. Cara kerja inilah yang membuat obat ini dapat meningkatkan kemampuan untuk berjalan lebih jauh tanpa rasa sakit.

Obat ini telah tersedia sebagai obat generik dalam bentuk sediaan oral yang diminum melalui mulut.

Apa fungsi dan manfaat obat cilostazol?

Cilostazol berfungsi sebagai vasodilator yang bekerja dengan merelaksasikan otot-otot di pembuluh darah untuk membantunya melebar. Obat ini dapat melebarkan arteri yang memasok darah ke kaki.

Obat ini juga dapat meningkatkan sirkulasi dengan menjaga trombosit dalam darah agar tidak saling menempel dan menggumpal. Beberapa merek obat ini digunakan sebagai terapi perawatan pada pasien stroke.

Obat ini memiliki manfaat untuk mengatasi beberapa gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi berikut:

1. Klaudikasio intermiten

Klaudikasio intermiten merupakan kondisi nyeri di kaki saat kamu berjalan atau olahraga. Nyeri ini mungkin dapat hilang saat kamu beristirahat. Pengobatan untuk gangguan ini dapat diberikan dengan terapi cilostazol sebagai obat tunggal.

Namun, American College of Chest Physicians (ACCP) menyarankan penambahan obat ini dengan aspirin atau clopidogrel pada kondisi tertentu.

Pemberian obat tambahan dapat dilakukan pada pasien dengan klaudikasio intermiten refraktori yang tidak menanggapi tindakan konservatif, seperti berhenti merokok atau olahraga.

Namun, khasiat obat ini mungkin tidak efektif pada pasien dengan klaudikasio parah, nyeri tungkai saat istirahat, ulkus kaki iskemik, atau gangren.

Pemberian obat harus didasarkan pada pengamatan klinis kondisi pasien sebelum memulai terapi. Hal ini untuk memastikan cara pengobatan yang terbaik untuk penderita.

2. Komplikasi trombotik pada angioplasti koroner

Angioplasti merupakan prosedur endovaskular yang digunakan untuk memperlebar arteri atau vena yang menyempit atau tersumbat.

Komplikasi trombotik atau pendarahan merupakan kondisi yang menyebabkan stroke hemoragik, pendarahan ekstrakranial mayor, dan aneurisma.

Pada beberapa pasien, kondisi komplikasi dapat menyebabkan kematian. Untuk meminimalkan risiko, diberikan obat antiplatelet pada pasien dengan angioplasti.

Obat ini dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan agen antiplatelet lain, seperti aspirin, clopidogrel. Pemberian obat terutama untuk mencegah trombosis dan restenosis setelah angioplasti koroner.

Namun, penggunaan obat ini pada pasien dengan stent arteri koroner umumnya tidak direkomendasikan oleh para ahli. Hal ini mungkin dikecualikan pada mereka yang memiliki alergi atau intoleransi terhadap aspirin atau clopidogrel.

3. Stroke iskemik

Obat ini juga telah digunakan sebagai obat sekunder untuk pencegahan stroke nonkardiembolik pada pasien dengan riwayat stroke iskemik.

American Stroke Association (ASA) menganggap cilostazol sebagai terapi antiplatelet yang dapat direkomendasikan untuk pencegahan sekunder stroke iskemik noncardioembolic.

Pemberian obat yang tepat harus mempertimbangkan faktor-faktor, seperti risiko pasien untuk stroke berulang, toleransi, dan biaya. Beberapa pilihan lain dapat diberikan, seperti clopidogrel, atau terapi kombinasi, termasuk aspirin dan dipyridamole lepas lambat.

Merek dan harga obat cilostazol

Obat ini telah memiliki izin edar untuk penggunaan medis di Indonesia. Obat ini juga telah memiliki beberapa merek yang telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), seperti:

  • Aggravan
  • Naletal
  • Agrezol
  • Plefazol
  • Alista
  • Pletaal
  • Antiplat
  • Citaz
  • Qital
  • Ilos
  • Stazol

Namun, kamu juga dapat menjumpai obat ini dengan beberapa nama generik dan nama paten yang dijual dengan resep dokter. Berikut beberapa merek obat cilostazol beserta harganya:

Nama generik

Cilostazol 100mg. Sediaan tablet generik yang diproduksi oleh Bernofarm. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp13.777/tablet.

Nama dagang

  • Antiplat 50mg. Sediaan tablet mengandung cilostazol 50mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp9.834/tablet.
  • Pletaal SR 100mg. Sediaan kapsul mengandung cilostazol 100mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp19.038/tablet.
  • Pletaal 100mg tablet. Sediaan tablet mengandung cilostazol 100mg. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp18.317/tablet.
  • Pletaal 50mg tablet. Sediaan tablet mengandung cilostazol 50mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp11.923/tablet.
  • Aggravan 30mg tablet. Sediaan tablet mengandung cilostazol 30mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp9.347/tablet.
  • Citaz 50mg. Sediaan tablet mengandung cilostazol 50mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp9.413/tablet.
  • Citaz 100mg. Sediaan tablet mengandung cilostazol 100mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp15.397/tablet.
  • Stazol 100mg. Sediaan tablet mengandung cilostazol 100mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp16.919/tablet.
  • Naletal 100mg. Sediaan tablet mengandung cilostazol yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp13.640/tablet.
  • Naletal 50mg. Sediaan tablet ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp9.993/tablet.

Bagaimana cara minum obat cilostazol?

  • Baca semua petunjuk yang tertera di label kemasan resep obat dan ikuti cara penggunaan dan dosis yang telah ditetapkan oleh dokter. Gunakan obat persis seperti yang diarahkan. Jangan mengurangi atau menambah dosis yang telah ditentukan.
  • Obat ini biasanya diminum dua kali sehari saat keadaan perut kosong, setidaknya 30 menit sebelum atau 2 jam setelah sarapan atau makan malam.
  • Minum obat sekaligus dengan air putih. Jangan menghancurkan atau mengunyah sediaan obat salut selapus atau tablet lepas lambat. Penggunaan obat biasanya untuk jangka waktu beberapa jam.
  • Minum obat pada waktu yang sama setiap hari untuk memudahkan kamu mengingat dan mendapatkan efek terapi yang maksimal dari obat.
  • Jika kamu melewatkan dosis, minum obat sesegera mungkin, tetapi lewati dosis yang terlewat jika sudah hampir waktunya untuk dosis berikutnya. Jangan minum dua dosis obat sekaligus.
  • Mungkin diperlukan waktu hingga 12 minggu sebelum gejala benar-benar membaik. Tetap gunakan obat sesuai petunjuk yang telah ditentukan dan beritahu dokter jika gejala tidak membaik setelah 3 bulan pengobatan.
  • Simpan obat cilostazol setelah digunakan pada suhu kamar jauh dari kelembapan dan panas matahari.

Berapa dosis obat cilostazol?

Dosis dewasa

Dosis obat untuk pasien kaludikasio intermitten atau nekrosis jaringan perifer, maka diberikan obat ini sebagai terapi lini kedua. Pengobatan ditunjang dengan modifikasi gaya hidup dan pengobatan.

Dosis lazim: 100mg sekali sehari atau diminum dalam dosis terbagi. Pengobatan dievaluasi ulang setelah 3 bulan.

Apakah cilostazol aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and drug administration (FDA) telah memasukkan obat ini dalam golongan obat kategori C.

Studi penelitian pada hewan percobaan telah menunjukkan risiko efek samping yang merugikan pada janin (teratogenik). Namun, belum ada studi terkontrol yang memadai pada ibu hamil. Pemberian obat dapat dilakukan apabila faktor manfaat obat yang didapat lebih besar dari risikonya.

Obat ini diketahui dapat terserap dalam ASI hewan percobaan, tetapi belum diketahui apakah dapat terserap dalam ASI manusia. Penggunaan obat pada ibu menyusui hanya dapat dilakukan setelah ada rekomendasi khusus dari ahli medis.

Apa efek samping obat cilostazol yang mungkin terjadi?

Risiko efek samping obat mungkin terjadi akibat penggunaan obat yang tidak sesuai dosis atau karena respons dari tubuh pasien. Berikut ini efek samping obat cilostazol:

  • Tanda-tanda reaksi alergi, seperti gatal-gatal, sulit bernapas, pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan
  • Nyeri dada, detak jantung atau dada berdebar-debar
  • Perasaan pusing, seperti akan pingsan
  • Demam, menggigil, sakit tenggorokan, sariawan
  • Mudah memar, pendarahan yang tidak biasa, bintik-bintik ungu atau merah di bawah kulit

Efek samping umum yang mungkin terjadi dari penggunaan cilostazol, antara lain:

  • Diare
  • Sakit kepala
  • Detak jantung cepat atau berdebar kencang

Apabila gejala efek samping muncul setelah kamu menggunakan obat ini, segera hentikan pemakaian dan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

Peringatan dan perhatian

Kamu tidak boleh menggunakan obat ini apabila kamu memiliki riwayat alergi cilostazol sebelumnya. Kamu juga tidak boleh minum obat ini apabila kamu mengalami gagal jantung dalam bentuk apapun. Cilostazol dapat memperburuk kondisi ini.

Beritahu dokter apabila kamu memiliki riwayat kondisi tertentu, terutama:

  • Masalah pendarahan
  • Penyakit hati atau ginjal
  • Serangan jantung atau stroke
  • Jika kamu merokok

Tidak diketahui apakah cilostazol akan membahayakan bayi yang belum lahir. Beritahu dokter apabila kamu sedang hamil atau berencana untuk hamil.

Kamu juga tidak disarankan untuk menggunakan obat ini saat menyusui. Dikhawatirkan obat ini dapat memengaruhi bayi yang disusui. Obat ini juga tidak direkomendasikan untuk digunakan pada anak-anak.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

WebMD, diakses pada 14 Januari 2021, Cilostazol Oral : Uses, Side Effects, Interactions

Science Direct, diakses pada 14 Januari 2021, Cilostazol – an overview | ScienceDirect Topics

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), daikses pada 14 Januari 2021, Cilostazol – MIMS.com

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 14 Januari 2021, SILOSTAZOL | PIO Nas

    register-docotr