Kamus Obat

Mari Berkenalan dengan Aspirin, si Obat Tertua sejak Abad ke-5 SM

May 18, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Aspirin merupakan obat yang umum dipakai sebagai pengurang rasa sakit. Obat yang memiliki nama lain asam asetilsalisilat ternyata sudah dikenal dari abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), lho.

Pada tahun tersebut, penggunaan obat paling tua ini dapat dilacak pada tokoh dokter Yunani, Hippocrates. Dia memakai serbuk yang diambil dari kulit pohon willow untuk mengobati rasa sakit dan menurunkan demam.

Untuk itu, mari berkenalan lebih jauh lagi dengan aspirin lewat fakta yang dirangkum dari berbagai sumber berikut ini:

Baca Juga: 8 Manfaat Buah Tomat untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu

Aspirin, obat paling terkenal

Aspirin dengan bentuknya yang sekarang telah hadir lebih dari 100 tahun. Obat ini diketahui sebagai obat paling banyak digunakan di seluruh dunia, lho.

Diperkirakan lebih dari 35.000 matriks ton aspirin dikonsumsi setiap tahunnya. Merek dagang aspirin sendiri dimiliki oleh perusahaan farmasi Jerman, Bayer.

Aspirin termasuk golongan NSAID

Sesuai golongannya sebagai obat antinflamasi non steroid, maka aspirin berkerabat dengan obat seperti ibuprofen, naproxen hingga piroxicam. Fungsinya sama dengan obat-obatan yang mengandung steroid, tapi steroid memiliki efek samping yang tidak diinginkan.

NSAID tidak termasuk golongan narkotika. Itu berarti obat-obat ini jika di konsumsi tidak menyebabkan tidak sadar atau bahkan pingsan.

Aspirin juga merupakan obat NSAID yang pertama ditemukan. Sebagai NSAID, aspirin juga termasuk sebagai:

  • Analgesik: obat penghilang nyeri tanpa menyebabkan kesadaran hilang
  • Antipiretik: obat penurun demam
  • Anti inflamasi: menurunkan inflamasi saat dipakai dalam dosis tinggi.

Kegunaan aspirin beragam

Aspirin adalah satu dari sekian banyak obat yang dipakai untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, migrain dan demam. Pemakaian umum aspirin termasuk sakit kepala, kram saat menstruasi, flu dan pilek, keseleo, dan kondisi jangka panjang seperti arthritis.

Untuk nyeri ringan hingga sedang, obat ini digunakan sendirian saja. Tapi apabila nyeri yang kamu derita sedang hingga berat, kamu biasanya akan disarankan untuk menggunakan analgesik opioid dan NSAID lainnya.

Jika digunakan dalam dosis tinggi, maka aspirin dapat mengurangi gejala:

  • Demam rematik
  • Radang sendi
  • Kondisi inflamasi sendi lainnya
  • Perikarditis.

Dalam dosis rendah, obat ini digunakan untuk:

  • Mencegah penggumpalan darah dan menurunkan risiko Transient Ischemic Attack (TIA) atau stroke ringan dan angina
  • Mencegah myocardia infarction atau serangan jantung pada pasien dengan penyakit kardiovaskular lewat pencegahan pembekuan darah
  • Untuk mencegah stroke, tapi bukan untuk mengatasi stroke
  • Untuk mencegah kanker usus besar.

Aspirin bukan untuk anak-anak

Obat ini biasanya tidak cocok untuk anak dengan usia 16 tahun ke bawah, karena dapat meningkatkan risiko sindrom Reye yang muncul setelah infeksi virus seperti flu, bengek atau cacar air.

Obat ini juga dapat menyebabkan kerusakan otak permanen atau bahkan kematian bagi anak-anak.

Meskipun demikian, dalam kasus penyakit kawasaki yang menyebabkan inflamasi di pembuluh darah, dokter bisa saja memberikan aspirin untuk mencegah pembekuan darah sehabis operasi.

Pemberian aspirin itu dilakukan dengan pengawasan. Tidak jarang juga dokter lebih memilih memberikan acetaminophen seperti paracetamol dan tylenol serta ibuprofen.

Dosis aspirin

Aspirin tablet biasanya mempunyai sediaan 300mg. obat ini bisa diminum sesuai dengan gejala yang muncul, biasanya dikonsumsi 1-2 tablet setiap 4-6 jam sehari.

Dosis rendah

Untuk aspirin dengan dosis 75-81 mg per hari, dapat digunakan sebagai pengobatan antiplatelet, yang digunakan sebagai pencegah pembentukan pembekuan darah.

Ini bisa diberikan kepada pasien dengn penyakit berikut:

  • Operasi bypass jantung
  • Serangan jantung
  • Stroke
  • Aritmia
  • Sindrom koroner akut.

Kamu juga bisa diberikan aspirin dengan dosis rendah apabila dokter menganggap ada peluang untuk serangan jantung atau stroke dengan melihat faktor risiko berikut ini:

Beberapa orang yang bisa disarankan untuk mengonsumsi aspirin di antaranya adalah:

  • Orang yang memiliki retina rusak atau retinopathy
  • Orang dengan diabetes lebih dari 10 tahun
  • Pasien yang sedang menjalani pengobatan antihipertensi.

Sementara di Amerika Serikat, Gugus Tugas Layanan Pencegahan di negara itu merekomendasikan penggunaan harian aspirin dengan dosis rendah untuk mencegah penyakit kardiovaskular dan kanker usus besar pada orang dewasa usia 50-59 tahun dengan kondisi:

  • Memiliki 10% atau lebih risiko penyakit kardiovaskular
  • Tidak memiliki risiko tinggi pendarahan
  • Terlihat dapat hidup setidaknya 10 tahun lagi
  • Bersedia untuk mengonsumsi dosis ini setidaknya 10 tahun.

Dengan kondisi itu, maka orang tersebut akan melanjutkan hidup dengan mengonsumsi obat ini dalam dosis rendah sepanjang sisa hidupnya setiap hari.

Tidak semua orang bisa mengonsumsi obat ini

Aspirin tidak direkomendasikan jika kamu memiliki kondisi sebagai berikut:

  • Memiliki tukak lambung
  • Hemofilia atau kelainan pendarahan lainnya
  • Mengetahui jika kamu alergi terhadap aspirin
  • Alergi terhadap obat NSAID lain, seperti ibuprofen
  • Memiliki risiko perdarahan di dalam saluran pencernaan (gastrointestinal) atau stroke hemoragik yang disebabkan pecahnya salah satu pembuluh darah di dalam otak
  • Meminum alkohol secara reguler
  • Dalam masa perawatan gigi atau bedah biarpun dalam skala kecil.

Sementara jika kamu memiliki kondisi ini, maka kamu harus mengonsumsi aspirin dengan hati-hati dan harus dengan persetujuan dokter:

  • Asma
  • Hipertensi yang tidak terkontrol
  • Riwayat tukak lambung
  • Masalah liver atau hati
  • Masalah ginjal.

Aspirin tidak diberikan selama masa stroke, karena tidak semua stroke dapat menyebabkan pembekuan darah. Dalam beberapa kasus, pemberian obat ini justru membuat stroke menjadi lebih buruk.

Jika kamu akan melakukan operasi, kamu harus memberi tahu dokter jika kamu sedang mengonsumsi aspirin secara reguler. Biasanya, pengobatanmu harus berhenti setidaknya 7 hari sebelum operasi dilakukan.

Ibu hamil bisa konsumsi aspirin

Jika kamu sedang mengandung, kamu mungkin bisa mengonsumsi obat ini dalam dosis rendah, tapi tetap dalam pengawasan dokter. Penggunaan aspirin dalam dosis tinggi di tengah kondisi ini tidak direkomendasikan.

Konsumsi obat ini aman dilakukan jika kamu masih dalam masa 6 bulan pertama kehamilan atau sekitar 30 minggu. Diatas umur kehamilan 30 minggu, jangan mengonsumsi obat ini karna akan menyebabkan komplikasi pada janin.

Konsumsi aspirin berlebihan, secara dosis atau waktu dapat menyebabkan komplikasi, seperti masalah pernapasan dan pembekuan darah pada bayi yang baru lahir. Bagi sebagian besar perempuan, paracetamol menjadi alternatif di masa akhir kehamilan.

Jika kamu sedang menyusui, biasanya penggunaan obat ini tidak direkomendasikan. Bagi sebagian besar perempuan, konsumsi paracetamol atau ibuprofen lebih dipilih untuk mengontrol rasa nyeri atau demam yang dialami selama masa menyusui.

Dapat berinteraksi dengan obat lain

Kadang, konsumsi satu obat dapat menyebabkan pengobatan lain menjadi kurang efektif, atau kombinasi keduanya dapat meningkatkan risiko si peminum. Inilah yang disebut interaksi obat.

Dalam hal ini, beberapa obat yang dapat berinteraksi dengan aspirin di antaranya adalah:

  • Obat penghilang rasa sakit inflamasi seperti diclofena, ibuprofen, indoemthacin dan naproxen. Obat-obat ini dapat meningkatkan risiko perdarahan di perut jika dikombinasikan dengan aspirin.
  • Methotrexate, biasa digunakan untuk pengobatan kanker dan penyakit autoimun. Aspirin dapat membuat tubuh kesulitan mengilangkan methotrexate, akibatnya akan terjadi penumpukan yang membahayakan tubuh.
  • Antedepresan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) seperti citalopram, fluoxetine, paroxetine, venlafaxine dan sertraline. Konsumsi dengan aspirin dapat meningkatkan risiko perdarahan.
  • Warfarin, obat antikoagulan atau obat pengencer darah. Apabila aspirin dikonsumsi bersama obat ini, maka dapat menurunkan efek efek antikoagulan dan meningkatkan risiko perdarahan.

Dengan melihat daftar di atas, maka sangat penting untuk kamu sampaikan pada dokter jika kamu sedang mengonsumsi aspirin supaya tidak ada interaksi obat yang membahayakan.

Aspirin bisa sebabkan efek samping

Dibalik kegunaannya, aspirin pun sama dengan obat lain, memiliki efek samping, efek samping dari obat ini ada yang membuatmu butuh pertolongan medis, namun ada juga yang tidak perlu kamu khawatirkan.

Efek samping yang membutuhkan pertolongan medis segera

Meskipun tidak semua dapat terjadi, tapi kamu tetap harus waspada dan mencari pertolongan medis saat efek samping berikut ini terjadi:

  • kemerahan , mengelupas atau melepuh pada kulit
  • batuk darah, kencing atau buang air besar berdarah
  • kulit dan mata menguning
  • nyeri sendi
  • bengkak pada kaki dan tangan
  • reaksi alergi seperti sesak nafas

Efek samping yang tidak segera membutuhkan pertolongan medis

Beberapa efek samping obat ini yang tidak membutuhkan pertolongan medis. Efek samping ini biasanya akan hilang ketika tubuh kamu membiasakan diri dengan pengobatan yang dijalankan.

Aspirin dapat mencegah dan mengatasi berbagai penyakit, tapi sebelum dikonsumsi, konsultasikan kondisi kesehatan kamu kepada dokter.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Webmd.com (2018) diakses 16 Mei 2020. https://www.webmd.com/drug-medication/qa/what-is-aspirin
  2. Nhs.uk (2018) diakses 16 Mei 2020. https://www.nhs.uk/medicines/aspirin-for-pain-relief/
  3. Medicalnewstoday.com (2017) diakses 16 Mei 2020. https://www.medicalnewstoday.com/articles/161255
    Berita Terkait
    register-docotr