Kamus Obat

Sebelum Dikonsumsi, Pelajari Dulu Obat Pengencer Dahak Acetylcysteine

May 12, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Acetylcysteine merupakan obat golongan mukolitik yang fungsinya adalah mengencerkan dahak atau lendir yang ada di area mulut, tenggorokan, dan paru-paru.

Selain itu, acetylcysteine dalam bentuk lain juga bisa digunakan untuk pencegahan kerusakan hati akibat overdosis acetaminophen.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai obat ini, mari kita simak penjelasan berikut ini.

Baca Juga: Merasa Lemas saat Puasa? Ini yang Harus Kamu Lakukan

Apa itu acetylcysteine 

obat acetylcysteine.
Cairan acetylcysteine. Sumber Foto : https://www.flickr.com/

Acetylcysteine hadir dalam 3 bentuk, cairan yang dihirup, cairan untuk suntikan, dan obat tablet yang dikonsumsi melalui mulut atau oral. Obat dalam bentuk cairan biasanya hanya tersedia dalam bentuk generik.

Saat dihirup melalui mulut cairan acetylcysteine membantu mengencerkan dan mengendurkan dahak yang ada di saluran udara akibat adanya penyakit paru-paru tertentu. Seperti emfisema, bronkitis, pneumonia, dan cystic fibrosis.

Untuk menggunakannya kamu memerlukan alat bernama nebulizer. Sebuah alat medis yang gunanya mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi partikel uap dan memasukkan obat tersebut langsung ke dalam paru-paru.

Saat dikonsumsi secara oral, tablet acetylcysteine digunakan sebagai obat untuk mencegah kerusakan hati akibat overdosis acetaminophen. Pada artikel kali ini kita akan lebih banyak membahas mengenai acetylcysteine dalam bentuk cair yang dihirup.

Cara kerja

Obat ini merupakan golongan mucolytics yang tugasnya adalah sebagai agen pengencer dahak atau lendir. Ia akan bereaksi pada bahan kimia yang ada di dalam dahak.

Dari situ dahak akan menjadi lebih encer, lebih mudah dikeluarkan, dan melancarkan saluran pernapasan pasien yang mengalami masalah akibat penyakit paru-paru tertentu.

Oleh karena itu, obat ini tidak cocok untuk orang yang mengalami batuk kering.

Sebelum mengonsumsi obat ini

Jika kamu berencana untuk menggunakan obat ini pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter atau petugas medis dan beritahu dokter tentang beberapa hal ini:

  • Beritahu dokter atau apoteker jika kamu memiliki alergi terhadap obat ini ataupun kamu punya alergi lain. Sebab obat ini bisa saja mengandung bahan yang bisa sebabkan alergi pada badan kamu.
  • Bagi kamu yang punya alergi patut waspada sebab obat ini bisa sebabkan reaksi alergi parah seperti kesulitan bernapas dan pembengkakan pada lidah dan tenggorokan.
  • Jika kamu memiliki riwayat penyakit seperti asma dan tukak lambung, jangan lupa untuk menyampaikannya kepada dokter.
  • Beritahu ke dokter atau apoteker semua obat-obatan yang sedang atau baru-baru ini kamu konsumsi. Termasuk vitamin, suplemen, dan juga perawatan dengan obat herbal ya.
  • Untuk Moms yang sedang hamil ada baiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini. Karena obat ini masuk ke golongan B yang artinya:
    • Obat ini sudah dites pada hewan yang mengandung dan tidak menunjukkan adanya risiko pada janin.
    • Namun tidak ada cukup penelitian yang dilakukan pada wanita hamil untuk menunjukkan adanya risiko pada janin.
  • Bagi Moms yang sedang menyusui juga ada baiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Karena obat ini bisa saja terbawa oleh ASI dan bisa memberikan efek samping kepada bayi.

Interaksi obat

Obat ini bisa berkurang efektivitasnya atau bisa timbulkan efek samping yang berbahaya jika digunakan bersamaan dengan obat lain jenis tertentu. Oleh karena itu penting untuk memberitahu dokter riwayat obat apa saja yang sedang kamu gunakan.

Pada umumnya acetylcysteine tidak menimbulkan reaksi fatal atau berbahaya. Berikut beberapa obat yang bisa sebabkan reaksi jika digunakan bersamaan:

  • Arang aktif
  • Azithromycin
  • Bazedoxifene/conjugated estrogens
  • Chloramphenicol
  • Clarithromycin
  • Demeclocycline
  • Dichlorphenamide
  • Doxycycline
  • Erythromycin base
  • Erythromycin ethylsuccinate
  • Erythromycin lactobionate
  • Erythromycin stearate
  • Minocycline
  • Probenecid
  • Sodium picosulfate/magnesium oxide/anhydrous citric acid
  • Tetracycline
  • Vancomycin

Saat kamu menggunakan nebulizer pastikan untuk tidak mencampurkannya dengan obat-obatan jenis lain tanpa sepengetahuan dokter atau petugas medis.

Efek samping acetylcysteine 

Baik obat hirup maupun obat oral memiliki efek samping. Namun biasanya efek yang timbul tidaklah fatal, hanya sedikit kasus yang menunjukkan reaksi berbahaya.

Berikut beberapa efek samping dari obat acetylcysteine  yang dihirup:

  • Frekuensi batuk yang meningkat (efek dari obat ini yang berfungsi mengencerkan dahak dalam saluran pernapasan)
  • Mual
  • Muntah
  • Pilek atau hidung berair
  • Munculnya luka-luka pada mulut seperti sariawan yang kadang menyakitkan
  • Demam
  • Sesak dada
  • Wheezing
  • Apabila gejalanya semakin parah segera hubungi dokter. Terutama jika muncul gejala sulit bernapas dan dada terasa sangat sesak.

Berikut beberapa efek samping obat yang dikonsumsi secara oral (untuk pencegahan kerusakan liver):

  • Sakit perut yang hebat
  • Feses berwarna hitam
  • Mual dan muntah yang terlihat seperti bubuk kopi
  • Hubungi dokter apabila muncul gejala muntah-muntah parah, batuk disertai darah, urine berwarna gelap, dan kulit serta bagian putih mata yang menguning.

Anjuran pemakaian

Untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam konsumsi dan timbulnya efek samping, sebaiknya selalu perhatikan anjuran pemakaian obat.

Baik yang tertera dalam kemasan maupun sebagaimana yang dijelaskan dokter saat memberikan resep. Jangan gunakan berlebih atau kurang dari dosis yang diberikan.

Berikut anjuran pemakain bagi kamu yang akan menggunakan acetylcysteine dengan nebulizer:

  • Kamu hanya boleh menghirup acetylcysteine dari nebulizer menggunakan masker wajah, mouth piece, tent, atau mesin IPPB (Intermittent Positive Pressure Breathing).
  • Pastikan kamu menggunakan nebulizer bersama petuga medis untuk memastikan dosis dan metode yang digunakan sudah tepat.
  • Jangan campurkan cairan acetylcysteine sebelum kamu siap untuk menggunakan nebulizernya. 
  • Setelah cairan obat dicampurkan ke dalam wadah nebulizer, pastikan untuk menggunakannya tak lebih dari 1 jam. Jangan gunakan campuran yang sudah lebih dari 1 jam.
  • Cairan obat ini bisa saja berubah warnanya setelah botol terbuka. Tapi tenang karena ini hanya reaksi kimia dan tidak memengaruhi kandungan obatnya.
  • Saat kamu menggunakan obat ini mungkin akan terasa bau yang tidak enak. Namun baunya akan hilang seiring waktu.
  • Bersihkan nebulizer setiap selesai menggunakannya. Nebulizer yang tidak dibersihkan dengan baik bisa saja tersumbat karena residu dari obat yang tertinggal.
  • Saat botol obat sudah terbuka, simpan di tempat dengan suhu ruangan yang jauh dari panas dan lembap.

Berikut anjuran pemakaian bagi kamu yang mengonsumsi obat oral untuk pencegahan kerusakan hati:

  • Jangan mengonsumsi obat ini tanpa resep dokter. Pastikan kamu mengonsumsinya di bawah pengawasan dokter.
  • Dokter biasanya akan melakukan cek darah untuk mengetahui kadar acetaminophen  yang ada di tubuh kamu. 
  • Dari situ dokter akan memberikan rekomendasi berapa lama kamu harus mengonsumsi acetylcysteine, jangan berhenti sampai dokter kamu yang menyuruh untuk stop.
  • Jika kamu muntah 1 jam setelah mengonsumsi obat ini, kamu diharuskan untuk langsung minum 1 dosis lagi.

Hal yang perlu diperhatikan

Dilansir dari Healthline, untuk menekan adanya efek samping dan juga memaksimalkan perawatan dengan obat ini, ada baiknya kamu mengikuti beberapa anjuran.

Salah satu yang terpenting adalah untuk mengonsumsi sesuai anjuran atau dosis yang sudah diberikan oleh dokter. Karena jika tidak, obat ini bisa menimbulkan beberapa risiko di antaranya:

Jika kamu berhenti

Apabila kamu menghentikan penggunaan obat atau tidak menghabiskannya maka ada risiko gejala seperti wheezing dan kesulitan bernapas menjadi semakin parah.

Jika kamu tidak minum obat sesuai jadwal

Obat ini harus dikonsumsi sesuai jadwal yang dibuat agar gejala seperti kesulitan bernapas dan wheezing tidak semakin parah. Jangan mengubah jadwal penggunaan obat tanpa konsultasi dengan dokter.

Lalu bagaimana jika lupa untuk menggunakannya? Jika baru lewat beberapa menit atau jam, segeralah untuk menggunakanya.

Namun apabila waktunya sudah mendekati jadwal penggunaan obat berikutnya kamu tidak perlu mengganti dosis yang terlupa. Kamu bisa langsung lanjut penggunaan obat sesuai jadwal berikutnya.

Jika kamu menggunakannya secara berlebih

Menggunakan obat dalam jumlah banyak sekaligus tak berarti kesembuhan akan lebih cepat dicapai. Maka dari itu kamu tetap disarankan untuk menggunakannya sesuai dosis.

Ya meskipun memang obat yang dihirup jarang timbulkan overdosis pada paru-paru, tapi bisa saja tubuh kamu justru kebal terhadap obat ini dan tak lagi mempan.

Jika kamu merasa efektivitas obat sudah tidak maksimal dan kamu jadi sering menggunakannya, sebaiknya langsung hubungi dokter.

Bagaimana cara tahu kalau obat ini bekerja dengan efektif

Untuk obat jenis hirup, kamu bisa tahu kalau obat ini mulai bekerja jika kamu mulai sering batuk dan disertai dahak.

Selain itu gejala seperti kesulitan bernapas dan wheezing juga semakin berkurang.

Dosis penggunaan obat

Pemberian resep untuk dosis dan frekuensi penggunaan obat biasanya akan bergantung pada beberapa faktor, di antaranya:

  • Usia pasien
  • Kondisi apa yang dihadapi
  • Tingkat keparahan kondisi yang dihadapi pasien
  • Kondisi atau riwayat penyakit yang dimiliki pasien
  • Bagaimana reaksi pasien saat diberikan dosis pertama dari obat

Berikut beberapa resep dosis obat yang biasanya diberikan pada pasien dewasa maupun anak-anak. Kali ini kita hanya akan membahas dosis penggunaan obat hirup:

  • Generik : Acetylcysteine
  • Bentuk : Larutan hirup
  • Kekuatan : Larutan 10% (100 mg/mL) atau 20% (200 mg/mL)
  • Alat yang digunakan : Nebulizer

Dosis untuk mengencerkan dahak pada saluran pernapasan

  • Untuk pasien usia 18 tahun ke atas : Dosis yang direkomendasikan adalah 3-5 mL larutan 20%, atau 6-10 mL larutan 10%, dan diberikan sebanyak 3-4 kali per hari.
  • Bisa juga diberikan 1–10 mL larutan 20% atau 2–20 mL larutan 10% dengan frekuensi setiap 2 hingga 6 jam.
  • Untuk pasien usia 0-17 tahun : Obat ini belum dipastikan aman untuk pasien yang berusia di bawah 18 tahun. Ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter.

Baca Juga: Awas! Dibalik Manfaat Cuka Apel Ternyata Ada Efek Samping yang Berbahaya

Penyimpanan obat acetylcysteine

Untuk menjaga kandungan dalam obat tidak rusak dan tetap dalam kualitas yang baik, maka ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:

  • Simpan botol obat yang belum pernah dibuka dalam tempat bersuhu ruangan, tidak lembap, dan jauh dari objek bersuhu tinggi. Usahakan suhunya berada di antara 20 sampai 25 derajat celcius.
  • Jika botol sudah pernah dibuka dan masih menyisakan isi di dalamnya, kamu bisa menyimpannya di dalam kulkas. Namun ada batas waktu untuk obat ini, kamu hanya boleh menggunakannya maksimal 4 hari setelah botol pertama kali dibuka.
  • Jika kamu membutuhkan dosis obat yang lebih encer maka bisa gunakan obat setelah diencerkan dengan larutan kurang lebih 1 jam.
  • Bagaimana jika menggunakan obat refill? Resep dari obat ini biasanya dapat di refill dan kamu tak perlu mendapat resep baru. Dokter biasanya akan menyertakan dosis refill saat pertama kali memberikan resep.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Rxlist. Diakses pada 12 Mei 2020. ACETYLCYSTEINE.

WebMD. Diakses pada 12 Mei 2020. Acetylcysteine 100 Mg/Ml (10 %) Solution.

Healthline. Diakses pada 12 Mei 2020. Acetylcysteine, Inhalation Solution.

Everuday Health. Diakses pada 12 Mei 2020. What Is Acetylcysteine?.

Drugs.com. Diakses pada 12 Mei 2020. Acetylcysteine.

    register-docotr