Kesehatan Mental

Wabah COVID-19 Bikin Kamu Stres? Coba Tenangkan Diri dengan Metode Mindfulness Practice

August 27, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Pandemi COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Kondisi ini membuat banyak orang merasakan takut, panik, cemas, stres, dan gangguan suasana hati lainnya. Jangan biarkan keadaan itu menguasai diri, karena bisa berdampak buruk pada kesehatan.

Untuk mengatasinya, cobalah untuk melakukan mindfulness practice. Metode ini diyakini dapat membuatmu lebih siap untuk menghadapi kenyataan hidup. Apa itu mindfulness practice? Apa manfaatnya bagi tubuh? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Baca juga: Imunomodulator Buatan LIPI: Kombinasi Herbal untuk Ringankan Gejala COVID-19

Mengenal mindfulness practice

Mengutip Mayo Clinic, mindfulness mengacu pada kegiatan berdiam diri seperti meditasi, untuk mendapatkan ketenangan. Biasanya, orang-orang yang melakukan teknik ini sedang berada dalam kondisi tidak stabil secara emosi, seperti stres, depresi, cemas, dan sebagainya.

Praktik mindfulness berfokus pada teknik pernapasan dan pemusatan pikiran. Perpaduan tersebut diyakini bisa mengembalikan suasana hati menjadi lebih tenang dan rileks.

Tapi, belakangan ini, definisi mindfulness tak hanya sekadar teknik meditasi, melainkan segala sesuatu yang bisa menghindarkan seseorang dari ketidakstabilan emosi.

Praktik ini mulai menjadi tren saat banyak orang mulai tertekan dengan situasi wabah COVID-19 yang tak kunjung berakhir.

Manfaat mindfulness practice di tengah wabah COVID-19

Di masa pandemi, tidak sedikit orang yang mengalami gejolak emosi, perasaan tak terkontrol, dan kehilangan kendali diri. Ada banyak faktor yang mendasarinya, misalnya pemutusan hubungan kerja, pembatasan aktivitas di luar, dan protokol baru dalam menjalani kebiasaan.

Menurut Trinh Mai, pakar kesehatan mental di University of Utah, Amerika Serikat, melakukan praktik mindfulness di saat pandemi adalah hal yang tepat, karena ada banyak manfaat yang dapat dirasakan.

Dengan melakukan praktik mindfulness, seseorang akan lebih mudah mengelola stres. Stres yang parah bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon, yang pada akhirnya menimbulkan  sejumlah penyakit dan gangguan kesehatan, misalnya tekanan darah tinggi.

Mindfulness practice juga bisa membuat suasana hati lebih terkontrol. Akhir-akhir ini, tak sedikit orang yang mengalami psikosomatis, yaitu gangguan mental akibat kekhawatiran berlebih terhadap sesuatu, termasuk COVID-19. Dengan mindfulness practice, kamu bisa menjadi lebih tenang dan rileks.

Cara melakukan praktik mindfulness di tengah pandemi

Cara terbaik untuk mendapatkan ketenangan adalah dengan bermeditasi. Luangkan waktu untuk berdiam diri, lalu fokuskan pikiran dengan membuang hal-hal yang selama ini menjadi beban. Selain meditasi, ada beberapa cara lain yang bisa kamu lakukan, seperti:

1. Lakukan satu hal dalam satu waktu

Bagi sebagian orang, mengerjakan banyak hal dalam satu waktu mungkin terlihat efektif dan efisien. Padahal, hal tersebut tak selalu berdampak positif bagi tubuh. Mengutip Psychology Today, orang-orang yang multitasking cenderung mudah depresi, cemas, dan stres.

Saat melakukan banyak hal dalam satu waktu, otak akan terpacu untuk melepaskan lebih banyak hormon, misalnya kortisol. Dampaknya, kamu akan mudah tertekan lalu mengalami beberapa gangguan suasana hati.

Fokus dari mindfulness practice adalah memusatkan pikiran. Hal ini akan sulit tercapai jika kamu mengerjakan beberapa hal sekaligus di waktu yang sama.

2. Tetaplah untuk terhubung

Sejak COVID-19 merebak, pemerintah berangsur menerapkan berbagai pembatasan. Salah satunya adalah pembatasan sosial yang membuatmu sulit untuk bertemu dengan teman dan kerabat.

American Psychological Association menjelaskan, orang-orang yang berada dalam isolasi sosial cenderung merasakan stres dan depresi. Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk tetap terhubung dengan teman dan kerabat meski hanya melalui gadget.

Ini sejalan dengan tujuan utama dari mindfulness practice sendiri, yaitu mengatasi ketidakstabilan emosi yang disebabkan oleh kondisi tertentu.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Lho Perbedaan Stres dan Depresi

3. Lakukan aktivitas ringan yang menyenangkan

Alih-alih melakukan sesuatu yang menguras pikiran dan membuat stres, kamu bisa memulai hari dengan beragam aktivitas ringan yang menyenangkan. Misalnya menggambar, mewarnai, menyeduh teh, menikmati makanan, atau menulis buku harian.

Aktivitas-aktivitas tersebut bisa membantumu untuk tetap rileks dan tenang, meski sedang menjalani karantina di rumah.

4. Olahraga ringan

Yoga bisa membuat tubuh menjadi bugar. Sumber foto: www.ekhartyoga.com

Selain tiga hal di atas, tak ada salahnya pula untuk melakukan olahraga ringan seperti yoga. Padukan beberapa gerakan yang dirasa mudah dan nyaman. Selain membuatmu lebih rileks, yoga juga bisa menjaga kebugaran tubuh.

Sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat menjelaskan, olahraga bisa memacu otak untuk melepaskan serotonin, hormon yang bisa membangkitkan rasa senang.

Nah, itulah beberapa cara untuk melatih mindfulness di tengah pandemi COVID-19. Dengan rutin melakukannya, kamu bisa meminimalkan risiko terkena gangguan mental seperti stres, depresi, dan cemas berlebih. Tetap jaga kesehatan, ya!

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

  1. Mayo Clinic, diakses 25 Agustus 2020, Mindfulness exercises.
  2. ChildMind.org, diakses 25 Agustus 2020, How Mindfulness Can Help During COVID-19.
  3. Antioch University, diakses 25 Agustus 2020, 9 Ways to Remain Mindful During the Pandemic.
  4. University of Utah, diakses 25 Agustus 2020, Why Practice Mindfulness During A Pandemic?
  5. Psychology Today, diakses 25 Agustus 2020, The Unintended Consequences of Multi-Tasking.
  6. American Psychological Association, diakses 25 Agustus 2020, The risks of social isolation.
  7. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 25 Agustus 2020, How to increase serotonin in the human brain without drugs.

    Berita Terkait
    register-docotr