Covid-19

Imunomodulator Buatan LIPI: Kombinasi Herbal untuk Ringankan Gejala COVID-19

August 19, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Pada pekan ketiga bulan Agustus, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menyelesaikan uji klinis kandidat imunomodulator untuk pasien COVID-19. Salah satunya adalah kombinasi dari ekstrak herbal dan rempah asli Indonesia.

Saat ini, hasil dari uji klinis tersebut sedang memasuki tahap verifikasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selaku regulator.

Jika dinyatakan lolos, maka imunomodulator itu akan diproduksi massal dan digunakan untuk penanganan pasien COVID-19.

Seperti apa sih imunomodulator yang dikembangkan oleh LIPI? Apa saja bahan herbal yang digunakan? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Baca juga: Studi Membuktikan, Makanan Fermentasi Kimchi Bisa Turunkan Risiko COVID-19

Apa itu imunomodulator?

Selama ini, tak sedikit orang yang menganggap imunomodulator merupakan nama lain dari vitamin. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda. Jika vitamin adalah nutrisi yang kebutuhan hariannya harus dipenuhi, konsumsi imunomodulator tidak boleh sembarangan.

Imunomodulator adalah kumpulan zat yang digunakan untuk meningkatkan sistem imun, terutama saat sedang sakit. Mengonsumsi imunomodulator saat sedang sehat justru bisa membahayakan, karena akan memengaruhi keseimbangan sel di dalam tubuh.

Pada kasus COVID-19, imunomodulator digunakan untuk meredakan beberapa gejala yang dirasakan oleh pasien.

Imunomodulator untuk pasien COVID-19

Terhitung sejak Juni lalu, LIPI telah memulai melakukan uji klinis imunomodulator yang tepat untuk diberikan kepada pasien COVID-19. Sebagai negara yang kaya akan rempah dan herbal, LIPI memanfaatkannya sebagai komponen utama dari imunomodulator.

Uji klinis telah dilakukan sejak Juni lalu kepada 90 pasien COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran. Prosesnya melibatkan banyak pihak, seperti Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan serta Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Karena menggunakan bahan herbal, uji klinis juga menggandeng Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI).

Kandungan imunomodulator buatan LIPI

Imunomodulator yang dikembangkan oleh LIPI terdiri dari beberapa herbal dan rempah asli Indonesia, seperti rimpang jahe merah, daun meniran, daun sembung, dan sambiloto. Masing-masing memiliki khasiatnya sendiri, seperti:

1. Jahe merah

Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan salah satu jenis tanaman rimpang unggulan yang mudah dijumpai di Indonesia. Jika dibandingkan varietas lainnya, jahe merah adalah jenis unggulan yang memiliki senyawa aktif lebih tinggi.

Kandungan gingerol dan shogaol memainkan peran penting sebagai antiinflamasi dan antioksidan. Pada pasien COVID-19, kandungan antiinflamasi diyakini dapat meringankan peradangan yang terjadi, terutama di paru-paru.

Sedangkan untuk antioksidan, jahe bisa meningkatkan sistem imun dalam memperbaiki daya tahan tubuh. Secara farmalogis, jahe juga memiliki berbagai manfaat lain seperti menurunkan asam urat, menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah, hingga pencegahan penyakit degeneratif.

Yang perlu diingat, kandungan ini bukan untuk mengobati dan melawan virusnya. Menurut Masteria Yunosilva, Kepala Kelompok Penelitian Centers for Drug Discovery and Development di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, jahe hanya digunakan untuk meringankan gejala dan meningkatkan daya tahan.

Baca juga: Berbagai Manfaat Jahe untuk Kesehatan, Cegah Infeksi hingga Kanker!

2. Daun meniran

Daun meniran (Phyllanthus niruri) termasuk salah satu herbal yang digunakan dalam imunomodulator LIPI. Tanaman yang mudah dijumpai di negara-negera tropis ini beberapa khasiat yang tidak diragukan lagi.

Sebuah riset pada Jurnal Farmasi dan Farmakologi memaparkan, meniran memiliki senyawa aktif berupa tanin, lignan, terpena, flavonoid, saponin, alkaloid, dan fenilpropanoid. Kandungan-kandungan tersebut bersifat antijamur, antibakteri, antioksidan, dan antikanker.

Dua studi lain yang dilakukan pada tahun 2013 dan 2017 juga membuktikan bahwa daun meniran cukup efektif untuk mengatasi inflamasi atau peradangan di dalam tubuh.

3. Daun sembung

Menurut riset pada 2014, daun sembung adalah herbal dengan banyak kandungan bioaktif. Tanaman ini memiliki sifat antimikroba, antioksidan, antiinflamasi, antitumor, antiplasmodial, dan antitirosinase.

Tidak hanya itu, tanaman yang mempunyai nama ilmiah Blumea balsamifera ini juga cukup efektif menyembuhkan luka serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

4. Daun sambiloto

Herbal terakhir yang terdapat pada imunomodulator adalah daun sambiloto. Herbal bernama ilmiah Andrographis paniculata itu.

Sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat memaparkan, sambiloto merupakan herbal yang sudah umum digunakan sebagai pengobatan tradisional di negara-negara Asia dan Afrika.

Hal tersebut tak lepas dari senyawa aktif seperti flavonoid, xhanton dan diterpen yang memiliki sifat antimikroba, antiprotozoa, antioksidan, imunostimulan, antiinfeksi, antiangiogenik, serta antiinflamasi.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang imunomodulator LIPI yang perkembangannya terus diikuti oleh banyak pakar. Jika lolos verifikasi, tentu saja ini akan menjadi kabar baik untuk penanganan COVID-19 di Indonesia.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. LIPI, diakses 18 Agustus 2020, Uji Klinis Imunomodulator Jadi Sejarah Baru.
  2. LIPI, diakses 18 Agustus 2020, Uji Klinis Immunomodulator dari Produk Herbal Indonesia untuk Pasien COVID-19.
  3. LIPI, diakses 18 Agustus 2020, Khasiat Jahe Merah.
  4. Journal of Pharmacy and Pharmacology, diakses 18 Agustus 2020, Phytochemicals from Phyllanthus niruri Linn. and their pharmacological properties: a review.
  5. National Center for Biotechnology Information  (NCBI), diakses 18 Agustus 2020, Blumea balsamifera—A Phytochemical and Pharmacological Review.
  6. National Center for Biotechnology Information  (NCBI), diakses 18 Agustus 2020, Harnessing the medicinal properties of Andrographis paniculata for diseases and beyond: a review of its phytochemistry and pharmacology.

    Berita Terkait
    register-docotr