Kesehatan Mental

Setop Menceramahi! Terkadang Pria yang sedang Sedih hanya Butuh Ini

June 3, 2021 | Arianti Khairina | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Terkadang banyak orang yang mengabaikan stigma seputar kesehatan mental pada pria sehingga membuatnya berhenti mencari bantuan saat mereka sedang membutuhkannya.

Tanpa disadari hal itu membunuh pria secara perlahan. Lalu bagaimana cara yang tepat membantu pria menghadapi kesehatan mental yang sedang terganggu?

Gangguan mental pada pria 

Harapan masyarakat dan peran gender turut andil membentuk alasan mengapa pria cenderung tidak mendiskusikan atau mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental mereka. 

Laki-laki sering diharapkan menjadi pencari nafkah dan menjadi kuat, dominan dan memegang kendali. Meskipun ini pada dasarnya bukan hal yang buruk, namun stigma ini mempersulit pria untuk mencari bantuan dan membuka diri ketika sedang menghadapi masalah. 

Padahal sama seperti wanita, tak ada salahnya bagi pria juga merasakan sedih dan itu bukanlah hal yang harus membuat dirinya merasa malu ketika menghadapi suatu masalah.

Beberapa penelitian yang dilansir dari laman Mental Health, juga menunjukkan bahwa pria yang tidak dapat berbicara secara terbuka tentang emosi mereka mungkin kurang mampu mengenali gejala masalah kesehatan mental dalam diri, dan cenderung tidak mencari dukungan.

Pria juga mungkin lebih cenderung menggunakan metode penanggulangan yang berpotensi berbahaya seperti obat-obatan atau alkohol, daripada berbicara dengan keluarga atau teman untuk mencari solusi tentang kesehatan mental yang dialami. 

Namun, umumnya pria akan mengakses bantuan ketika mereka merasa itu memenuhi preferensi mereka, dan mudah diakses, bermakna, dan menarik.

Baca juga: Benarkah Gerhana Bulan Bisa Pengaruhi Mood dan Kesehatan Mental?

Cara tepat membantu pria yang sedang menghadapi gangguan kesehatan mental 

Melansir penjelasan dari laman Healthline, berikut ini 5 strategi yang bisa kamu lakukan untuk membantu pria yang sedang menghadapi gangguan kesehatan mental: 

Ajak dan berikan contoh dalam melakukan suatu kegiatan

Banyak pria yang umumnya melihat terapis, menyewa pelatih, atau memulai meditasi karena pasangan atau sahabat mereka melakukannya terlebih dahulu. Ketika aktivitas tersebut mulai membawa perubahan, pria seringkali tidak mau ketinggalan.

Pria jarang merespons dengan baik saat diberi tahu apa yang harus dilakukan. Tapi mereka ingin merasa lebih baik dan berubah. Jika kamu mengambil langkah menuju praktik positif, pria akan memperhatikan dan mengikutinya. Cara ini tentunya adalah strategi jangka panjang. 

Terkadang pria hanya ingin didengar

Banyak orang keliru yang seringkali dilakukan yaitu dengan memberikan nasihat atau kalimat-kalimat yang menghakimi. Tak hanya itu saja bahkan, memarahi orang yang sedang menceritakan masalahnya. 

Perlu kamu ketahui bahwa tidak semua orang membutuhkan hal tersebut, khususnya orang dengan gangguan mental seperti depresi. Sebenarnya ketika seorang pria bercerita tentang masalahnya, mereka hanya ingin didengarkan, jadi berhentilah menjadi ‘terapis’.

Hindari memberikan penilaian apabila pria tidak mengajukan pertanyaan kepadamu. 

Ajak untuk memulai percakapan yang jujur ​​

Ini adalah pendekatan langsung tetapi dengan beberapa perbedaan penting. Baik kamu dan pasangan, teman, atau rekan kerja, dia akan merespons emosi darimu yang lebih dalam dan lebih rentan.

Persiapkan percakapan dengan memperlambat dirimu dan memusatkan perhatian pada emosi yang mendorong untuk mendekatinya. 

Banyak pria memiliki sedikit kosakata untuk mengungkapkan perasaan mereka.

Sebagai pendengar yang baik hal itu yang menjadi salah satu penyebab mungkin kamu perlu memimpin percakapan yang adil, dengan menahan emosi diri sendiri dan membiarkan pria merasakannya. Dalam percakapan ini, jangan langsung menuju hasil atau perbaikan. 

Bersikaplah tegas

Jika pendekatan untuk membantu pria yang sedang menghadapi gangguan kesehatan dengan memberi contoh dan percakapan yang jujur tidak juga berhasil, mungkin sudah waktunya untuk berdiri dan berjuang untuknya ketika dia tidak bisa berjuang untuk dirinya sendiri.

Satu kiasan umum atau pemikiran yang seringkali ada pada pria yaitu mereka tidak ingin pasangannya merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya. 

Terkadang pria akan menanggapi energi yang jelas bahwa seseorang berjuang untuk mereka. Ketika mereka tidak memiliki kapasitas untuk membela diri mereka sendiri, itulah saatnya pria membutuhkan bantuan atau ingin suara hatinya didengar orang lain. 

Segera intervensi dengan kuat

Jika seorang pria mendekati atau melakukan perilaku destruktif, kamu perlu lebih waspada dalam membantunya untuk sembuh. Jika bunuh diri menjadi perhatian, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. 

Jika seorang pria berpotensi bunuh diri, ajukan pertanyaan langsung tentang pikiran dan perasaan mereka. Membicarakannya secara langsung tidak mendorong orang untuk bertindak.

Namun cara ini justru menawarkan kesempatan untuk tidak sendirian dalam menjalani kehidupan. 

Pada saat yang sama, hindari menyalahkan, mempermalukan, atau mengabaikan apa yang pria rasakan. Mereka juga membutuhkan tempat untuk bersandar ketika lelah, dan bersedih ketika suasana hati tidak mendukung. 

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Healthline.com (2020) diakses pada 2 Juni 2021. Man 2.0: How to Support the Men You Love with Their Mental Health
  2. Mentalhealth.org.uk (2020) diakses pada 2 Juni 2021. Men and mental health
  3. Healthline.com (2019) diakses pada 2 Juni 2021. Why Many Men Have a Harder Time Seeking Treatment for Mental Illness

 

    register-docotr