Covid-19

Mengenal Tes Feritin, Direkomendasikan untuk Pasien COVID-19

June 4, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Rapid test dan polymerase chain reaction (PCR) memang sudah lama digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi serta protein dari virus Corona. Namun, belakangan ini, orang-orang yang positif mengidap COVID-19 disarankan untuk melakukan tes feritin.

Lantas, apa sebenarnya tes feritin itu? Apa kegunaannya bagi pengidap COVID-19? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Apa itu feritin?

Feritin adalah protein di dalam tubuh yang menyimpan zat besi. Feritin berada di sel-sel sehat dan sedikit yang beredar di dalam darah. Konsentrasi terbesar feritin ada pada sel di sekitar organ hati (dikenal sebagai hepatosit) dan sistem kekebalan (dikenal dengan sel retikuloendotelial).

Protein itu baru akan dilepaskan ketika tubuh membutuhkannya. Misalnya, saat tubuh membutuhkan zat besi untuk memproduksi sel darah merah, feritin akan dilepaskan dan akan mengikat zat lain yang disebut transferin.

Seperti diketahui, rendahnya kadar zat besi kerap dikaitkan dengan kekurangan darah atau anemia. Namun, kadar feritin yang sangat tinggi juga dianggap tidak sehat, karena bisa mengindikasikan adanya infeksi atau penyakit.

Baca juga: Alur dan Mekanisme Pelaporan KIPI Vaksin COVID-19, Cek di Sini!

Kadar normal feritin

Tes diperlukan untuk mengetahui seberapa normal kadar feritin yang ada di dalam tubuh. Dikutip dari Mayo Clinic, kadar normal feritin pada pria adalah 24 hingga 336 mikrogram per liter. Sedangkan pada wanita, 11 sampai 307 mikrogram per liter.

Seperti yang telah disebutkan, jika kadarnya sangat rendah, seseorang mungkin sedang mengalami anemia akibat defisiensi zat besi. Sebaliknya, jika kadarnya sangat tinggi, hal tersebut bisa mengindikasikan beberapa gangguan kesehatan, seperti:

  • Hemokromatosis (penumpukan zat besi)
  • Porfiria, yaitu gangguan kesehatan yang dipicu oleh kekurangan enzim yang dapat memengaruhi sistem saraf dan kulit
  • Radang sendi atau arthritis
  • Peradangan kronis
  • Penyakit hati
  • Hipertiroidisme (kelenjar tiroid terlalu aktif)
  • Leukemia (kanker darah).

Bukan hanya gangguan kesehatan, ada beberapa aktivitas atau kebiasaan yang dapat menyebabkan peningkatan kadar feritin, misalnya terlalu sering transfusi darah, terlalu banyak mengonsumsi suplemen zat besi, hingga penyalahgunaan alkohol.

Hubungan antara feritin dan COVID-19

Belakangan ini, beberapa kalangan menyarankan pengidap COVID-19 untuk melakukan tes feritin. Tujuannya, mengetahui banyaknya virus dan mencegah komplikasi lain yang bisa terjadi.

Menurut sebuah penelitian yang terbit di Pan America Journal of Public Health, feritin dapat menunjukkan tingkat keparahan pengidap COVID-19, termasuk yang mengalami kondisi lain seperti sindom badai sitokin.

Pengidap COVID-19 yang mempunyai feritin dengan kadar sangat tinggi berisiko mengalami gejala yang lebih parah. Ini karena virus (termasuk SARS-CoV-2) diyakini dapat bertahan hidup lebih lama pada orang dengan feritin yang tinggi.

Tak hanya itu, publikasi [MH1] lain di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat juga memaparkan, patogen seperti Mucormycosis (jamur hitam) juga dapat bertahan lebih lama di tubuh orang dengan kadar feritin yang sangat tinggi.

Infeksi jamur hitam telah menjadi perhatian serius pemerintah India, karena sudah menyerang banyak pasien COVID-19. Bahkan, studi yang terbit baru-baru ini menemukan korelasi antara infeksi jamur hitam dengan sindrom badai sitokin pada pasien COVID-19.

Prosedur tes feritin

Tes feritin hanya membutuhkan sedikit sampel darah untuk menentukan seberapa tinggi kadar protein pembawa zat besi di dalam tubuh. Dokter mungkin akan memintamu untuk tidak makan setidaknya selama 12 jam sebelum pengambilan sampel darah.

Menurut saran American Association for Clinical Chemistry (AACC), tes feritin sebaiknya dilakukan di pagi hari agar hasilnya lebih akurat. Untuk prosedurnya sendiri adalah sebagai berikut:

  1. Dokter atau petugas kesehatan akan memasangkan pita untuk mengencangkan lengan agar pembuluh darah mudah terlihat
  2. Area kulit yang akan diambil darahnya diseka dengan kapas antiseptik lebih dulu
  3. Setelah itu, jarum kecil akan dimasukkan ke dalam pembuluh darah
  4. Sampel darah mulai diambil kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

Baca Juga: Muncul Varian Baru Virus COVID-19, Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Efikasi Vaksin?

Efek samping tes feritin

Sebenarnya, pelaksanaan tes feritin sama seperti tes darah pada umumnya. Setelah pengambilan sampel darah selesai, kamu bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Namun, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi (meski jarang), seperti:

  • Perdarahan di kulit area bekas pengambilan darah
  • Pusing
  • Memar
  • Infeksi.

Nah, itulah ulasan tentang tes feritin dan kaitannya dengan COVID-19. Jika setelah tes kamu merasakan salah satu atau beberapa efek samping di atas, jangan ragu untuk melaporkannya ke dokter, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. Healthline, diakses 3 Juni 2021, Ferritin Level Blood Test.
  2. Mayo Clinic, diakses 3 Juni 2021, Ferritin test.
  3. PAHO.org, diakses 3 Juni 2021, Ferritin levels and COVID-19
  4. American Association for Clinical Chemistry (AACC), diakses 3 Juni 2021, Ferritin.
  5. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 3 Juni 2021, Mucormycosis in COVID-19: A systematic review of cases reported worldwide and in India.
  6. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 3 Juni 2021, Iron Acquisition: A Novel Prospective on Mucormycosis Pathogenesis and Treatment.

    register-docotr