Kesehatan Mental

Mengenal False Memory: Ketika Ingatan Tak Sesuai dengan Kenyataan

March 21, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Pernahkah kamu mengingat suatu peristiwa yang terasa nyata padahal justru sebaliknya? Bisa jadi, ingatan yang kamu rasakan adalah false memory. Kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa saja, tak peduli jenis kelamin dan usia.

Lantas, apa sih sebenarnya false memory itu? Apa saja penyebabnya? Apakah berbahaya? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Apa itu false memory?

False memory adalah ingatan yang terasa nyata, tapi bukanlah hal yang sebenarnya terjadi alias buatan (baik sebagian maupun seluruhnya). Contohnya, kamu terpaksa pulang setelah berangkat kerja karena teringat telah menyalakan mesin cuci yang sebenarnya tidak dinyalakan.

Sebagian besar false memory tidak membahayakan. Namun, hal itu bisa menciptakan sebuah konsekuensi yang amat penting, misalnya saat harus bersaksi di pengadilan dengan ingatan yang palsu.

Baca juga: Jarang Diketahui! Ini 7 Cara Meningkatkan Daya Ingat secara Alami

Memahami cara otak dalam mengingat

Dalam mengingat sesuatu, otak harus kerja keras agar memori yang kamu inginkan bisa muncul. Belum diketahui secara pasti tentang mekanisme tersebut. Hanya saja, berdasarkan penelitian, pada langkah pertama, otak akan mencari informasi dalam bentuk abstrak.

Kemudian, otak akan berusaha memunculkan potongan atau rekaman gambar beserta detailnya. Lalu, potongan atau rekaman gambar itu akan dikaitkan dengan objek atau benda yang terlibat dalam suatu peristiwa.

Setelah itu, proses rekonstruksi ingatan akan terjadi. Kamu akan mulai terbayang tentang ‘gambar yang hidup’. Mekanismenya terus berjalan hingga gambar itu muncul dengan detailnya, sehingga kamu mengingat peristiwa yang diinginkan.

Faktor dan penyebab false memory

Saat mencoba mengingat sesuatu, tubuh akan menjalankan mekanisme yang rumit. Ingatan bisa berubah dan terkadang tak dapat dipercaya atau diandalkan. False memory bisa muncul akibat transisi pada fungsi otak, misalnya seperti saat baru bangun tidur.

Berikut beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab munculnya false memory:

Sugesti

Sugesti yang sangat kuat bisa menciptakan false memory, baik di masa kini atau lampau. Faktor sugesti dapat berasal dari diri sendiri, tapi lebih sering datang dari orang lain. Seseorang bisa memberikan ‘ingatan palsu’ yang secara tak sengaja kamu menyetujuinya.

Informasi yang salah

Penyebab false memory berikutnya adalah misinformasi atau keterangan yang salah. Saat diberi keterangan tentang suatu hal yang tidak benar secara meyakinkan, bisa jadi otak akan membuat memori baru dan menganggapnya sebagai sebuah fakta atau benar terjadi.

Perspektif tidak akurat

Otak manusia bekerja seperti komputer, menyimpan apa saja informasi yang diberikan. Jika kamu ‘memberikan’ informasi yang buruk, otak akan menyimpannya.

Namun, ketidaklengkapan informasi itu akan membuat otak ‘mengisi’ atau menambahkan cerita baru yang bisa menjadi false memory.

Salah mengingat

Dalam proses mengingat sesuatu, otak bisa menggabungkan elemen dari berbagai peristiwa menjadi satu. Ingatan tentang beberapa peristiwa mungkin akan tercampur lalu membentuk ingatan baru tunggal yang dianggap nyata.

Faktor emosi

Ternyata emosi juga bisa memicu pembentukan false memory, lho. Menurut sebuah studi baru-baru ini oleh sejumlah peneliti di University of Chicago, emosi negatif (seperti marah) lebih mungkin memicu pembentukan false memory, ketimbang emosi yang positif atau netral.

Suasana hati

Sebuah publikasi pada 2017 memberi kesimpulan bahwa orang-orang yang memiliki riwayat trauma, depresi, atau stres lebih mungkin menghasilkan ingatan yang salah. Peristiwa negatif bisa menghasilkan lebih banyak false memory daripada peristiwa yang positif.

Faktor usia

Semakin bertambahnya usia, tubuh akan mengalami penurunan fungsi, termasuk pada otak. Selain sulit untuk mengingat sesuatu, detail dari memori itu mungkin akan hilang. Orang lanjut usia (lansia) biasanya akan sulit mengingat peristiwa secara mendetail yang terjadi di masa lampau.

Baca juga: 6 Kebiasaan Buruk yang Merusak Otak: Kurang Tidur hingga Hobi Merokok

Apa yang bisa dilakukan?

Satu-satunya cara untuk membuktikan keaslian ingatan sebuah peristiwa adalah dengan bukti otentik yang bisa menguatkan memori di otak. Selain itu, keyakinan atas suatu ingatan mungkin dapat membantu membedakan antara mana yang false memory dan mana yang bukan.

Perlu diketahui, adanya false memory bukan berarti daya ingatmu buruk. Bisa jadi, hal itu terjadi karena beberapa gangguan di otak, seperti penyakit alzheimer atau demensia.

Nah, itulah ulasan tentang false memory dan beberapa penyebabnya yang perlu kamu tahu. Meski sering kali tidak berbahaya, tak ada salahnya untuk memeriksakan ke dokter agar mengetahui apakah ada gangguan di otak atau tidak.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1.  Healthline, diakses 19 Maret 2021, False Memory: What You Need to Know.
  2. Nature, diakses 19 Maret 2021, Evidence that neural information flow is reversed between object perception and object reconstruction from memory.
  3. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 19 Maret 2021, What Drives False Memories in Psychopathology? A Case for Associative Activation.
  4. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 19 Maret 2021, Creating emotional false recollections: Perceptual recombination and conceptual fluency mechanisms.
    register-docotr