Kesehatan Mental

Fat-shaming: Diskriminasi yang Dirasakan oleh Orang Bertubuh Gemuk

June 4, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Obesitas adalah salah satu masalah kesehatan utama masyarakat di seluruh di dunia. Butuh banyak proses agar mereka yang mengalami obesitas bisa kembali memiliki berat badan yang ideal. Tentu saja prosesnya tidak mudah, karena butuh konsisten untuk hasil terbaik.

Tapi tahukah kamu bahwa orang-orang bertubuh gemuk juga mengalami masalah lain yang lebih menyebalkan? Salah satunya stigma buruk tentang tubuh mereka atau diskriminasi yang disebut fat-shaming.

Fat-shaming atau diskriminasi orang bertubuh gemuk

Sebuah penelitian yang diunggah di BMC mengungkapkan bahwa peserta penelitian, 30 wanita dan pria dewasa dengan berat badan di atas rata-rata, pernah mengalami fat-shaming alias perlakuan atau kata-kata buruk terkait kondisi tubuh mereka.

Mirisnya, fat-shaming itu mereka alami justru di saat mereka mencoba berolahraga agar lebih sehat. Hasilnya, beberapa orang merasa enggan kembali berolahraga. 

Stigma atau fat-shaming itu membuat mereka trauma dan merasa takut untuk kembali berolahraga. Atau mereka hanya akan berolahraga di tempat yang mereka anggap aman dari fat-shaming. 

Fat-shaming kini menjadi masalah global

Bukan hanya di satu tempat dan bukan hanya urusan olahraga, secara umum mereka yang bertubuh gemuk memang seringkali mengalami fat-shaming.

Sebuah penelitian melibatkan orang bertubuh gemuk dari Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat. Hasilnya, lebih dari setengah jumlah orang dewasa yang terlibat dalam penelitian ternyata pernah mengalami fat-shaming. 

Stigma buruk tentang berat badan berlebih itu justru dapat membuat seseorang enggan untuk mencari perawatan kesehatan. Hal itu justru menambah masalah lainnya, bukan hanya sekadar masalah berat badan. 

“Ini ketidakadilan sosial dan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan,” kata Rebecca Puhl, yang menjadi penulis dalam penelitian di beberapa negara tersebut, dilansir CNN.

Menurut Puhl, sama seperti kesehatan mental, stigma buruk soal berat badan adalah masalah kesehatan masyarakat yang perlu dianggap serius. 

Fakta-fakta miris dari fat-shaming

Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa fat-shaming justru dilakukan oleh keluarga atau orang-orang dekat. Ini adalah hal yang paling disayangkan, karena ini dapat memengaruhi harga diri orang bertubuh gemuk. 

Persentase pelaku fat-shaming yaitu 76 hingga 87,8 persen fat-shaming dilakukan oleh keluarga. Posisi selanjutnya dari teman sekelas sebanyak 72 hingga 80,9 persen. Dari dokter 62,6 hingga 73,5 persen, teman kerja 54,1 hingga 61,7 persen dan dari teman-teman sebanyak 48,8 persen hingga 66,2 persen. 

Dari persentase tersebut dapat digambarkan bahwa diperlukan inisiatif multinasional untuk mengatasi fat-shaming atau intervensi untuk mengatasi perlakuan buruk bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih. 

Sebagai catatan tambahan, di semua negara yang terlibat dalam penelitian di atas mengungkapkan bahwa fat-shaming seringkali terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja. 

Meskipun ada juga frekuensi stigma terjadi sepanjang hidup, seperti yang diungkapkan oleh peserta di Jerman.

Tapi dengan bantuan dan penanganan yang tepat, orang-orang yang kelebihan berat badan ini bisa kembali mendapatkan berat badan yang ideal sesuai dengan perhitungan body mass index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT). 

Apa yang bisa dilakukan agar mereka tidak lagi mendapat stigma buruk?

Selain mencari perlindungan hukum dari orang-orang yang melakukan fat-shaming, cobalah untuk memilih kata yang tidak melecehkan.

Berusaha untuk tidak mengintimidasi dan bicara dengan sopan. Sementara itu, cobalah untuk bisa mendukung secara positif agar orang bertubuh gemuk kembali mendapatkan berat tubuh yang ideal.

Tentunya, banyak hal yang perlu dilakukan. Butuh dukungan untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka agar mau hidup lebih sehat. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Mengubah pola makan: Mengurangi asupan makanan olahan, mengurangi makanan tinggi gula dan lemak adalah kuncinya. Ganti dengan makan yang lebih sehat, kaya serat dan kaya nutrisi. 
  • Hindari diet ketat: Makan makanan sehat itu berbeda dengan diet. Kalau kamu diet tapi dengan cara yang salah atau kurang nutrisi, tidak akan banyak membantu penurunan berat badan. 
  • Rutin berolahraga: Jalan cepat, berenang, menggunakan tangga manual dan berjalan dari pemberhentian bus ke rumah, cara mudah untuk beraktivitas fisik tapi ampuh membakar lemak. 
  • Pembedahan: Beberapa pembedahan seperti bypass lambung atau membuat perut lebih kecil dilakukan untuk menurunkan berat badan. 
  • Perawatan hormonal: Para peneliti, menurut Medical News Today, menyarankan menggabungkan hormon tertentu untuk memberikan terapi yang efektif untuk menurunkan berat badan. 
  • Mengubah lemak tubuh: Ada yang disebut lemak cokelat yang membakar kalori dan ada yang disebut lemak putih yang menyimpan kalori. Mengubah lemak putih dengan terapi khusus dapat membantu pembakaran lemak berlebih. 

Demikian informasi tentang fat-shaming yang ternyata tengah menjadi isu global. Kondisi tersebut, justru dapat membuat orang-orang dengan berat badan berlebih kesulitan mencapai hidup yang lebih sehat. 

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr