Info Sehat

Pahami Tiga Tahap Stadium Infeksi HIV, Apa Saja Gejala yang Ditimbulkan?

January 30, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Gejala pada kondisi ini bergantung dari stadium infeksi HIV. Tanpa pengobatan, stadium HIV dapat berlanjut menjadi AIDS. Kenali lebih dalam mengenai tahapan stadium infeksi HIV di sini.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), diperkirakan terdapat sekitar 38 juta jiwa di dunia hidup dengan HIV pada 2019, sedangkan jumlah kematian terkait dengan HIV mencapai angka 690.000 jiwa.

Baca juga: Ingin Melakukan Tes HIV? Kenali Dulu Berbagai Jenisnya

Mengenal HIV

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus dapat merusak atau menghancurkan sel darah putih yang dikenal sebagai sel CD4.

Perlu kamu tahu bahwa sel tersebut berperan penting bagi tubuh untuk melawan infeksi, virus, bakteri, dan jamur. HIV dapat menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh tertentu atau melalui penggunaan jarum suntik bersama.

Tanpa pengobatan yang tepat, HIV dapat merusak lebih banyak sel secara bertahap dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, yang mana dapat membuat tubuh tidak mampu untuk melawan infeksi. Jika HIV tidak ditangani, ini dapat menyebabkan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).

Tahapan stadium infeksi HIV

Infeksi HIV bisa menimbulkan gejala yang berbeda-beda, ini bergantung dari stadium infeksi HIV. Jika HIV tidak segera diobati, infeksi HIV dapat berkembang dalam tiga stadium atau tahapan, yakni infeksi akut, kronis, dan AIDS.

Penderita dapat tidak merasakan gejala sama sekali selama bertahun-tahun atau sampai kondisinya serius. Satu-satunya cara untuk mengetahui infeksi HIV adalah dengan melakukan tes.

Perawatan medis yang tepat dapat membantu mengontrol perkembangan stadium HIV, yang mana dapat mencegah atau memperlambat perkembangan gejala. Maka dari itu, melakukan pengobatan sesegera mungkin setelah diagnosis positif sangat penting dilakukan.

Berikut ini adalah stadium infeksi HIV.

1. Stadium 1: Infeksi akut

Ketika HIV masuk ke dalam tubuh, virus dapat berkembang dengan sangat cepat, yang menyebabkan tingkat virus dalam darah sangat tinggi. Pada saat ini, virus dapat mudah menular ke orang lain, melalui darah, air mani, cairan rektal, dan ASI.

Dalam kurun waktu 2-4 minggu setelah paparan virus, beberapa orang mengalami gejala seperti flu. Ini adalah respons alami tubuh terhadap infeksi. Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu.

Sementara itu, sebagian lainnya dapat tidak merasakan gejala sama sekali setelah paparan virus. Melansir dari laman Medical News Today, pada tahap awal infeksi, virus melakukan replikasi dengan menggunakan sel CD4 dan menyebar ke seluruh tubuh.

Adapun gejala mirip flu dari stadium akut infeksi HIV di antaranya adalah:

  • Demam
  • Nyeri otot atau sendi
  • Kelelahan
  • Berkeringat di malam hari
  • Timbulnya ruam pada kulit
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sakit tenggorokan
  • Sariawan
  • Mual atau muntah

Baca juga: Jangan Diabaikan! Ini Gejala Awal HIV yang Patut Diwaspadai

2. Stadium 2: Infeksi kronis (asimtomatik atau latensi klinis)

Pada tahap kedua infeksi HIV, virus masih aktif dan tetap bereplikasi, namun berkembang biak pada tingkat yang sangat rendah. Meskipun demikian, virus terus merusak sistem kekebalan tubuh. Stadium infeksi HIV ini seringkali tidak menimbulkan gejala.

Tanpa pengobatan, tahap ini dapat berlangsung selama 10-15 tahun, namun tahap ini juga dapat berkembang dengan cepat. Transmisi virus juga masih terjadi pada fase ini.

Pada akhir stadium dua, jumlah virus HIV dalam darah (viral load) meningkat, sedangkan jumlah sel CD4 menurun. Gejala dapat terjadi jika tingkat virus di dalam tubuh meningkat, yang mana dapat berlanjut ke stadium tiga.

Terapi antiretroviral dapat membantu untuk memperlambat atau menghentikan perkembangan HIV. Obat-obatan ini dapat membantu untuk mengurangi jumlah virus ke tingkat yang sangat rendah.

Seseorang yang mengonsumsi obat-obatan seperti yang telah diresepkan dapat tidak mengembangkan stadium infeksi HIV 3.

3. Stadium 3: AIDS

Stadium tiga atau AIDS adalah stadium paling lanjut dari infeksi HIV. Ini dapat terjadi ketika sistem kekebalan benar-benar rusak sehingga tidak mampu lagi untuk melawan infeksi.

Tanpa pengobatan, jumlah virus dalam tubuh dapat terus meningkat dan jumlah CD4 terus menurun. Jumlah virus yang tinggi juga sangat menular. Diagnosis AIDS dapat ditentukan ketika jumlah sel CD4 turun di bawah 200.

Gejala AIDS

Berikut ini adalah gejala dari stadium infeksi HIV tiga atau AIDS, seperti dilansir HIV.gov.

  • Penurunan berat badan yang berlangsung cepat
  • Demam
  • Berkeringat banyak di malam hari
  • Kelelahan ekstrem
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Diare kronis
  • Luka yang terjadi pada mulut atau area genital
  • Pneumonia
  • Terdapat bercak merah, coklat, atau keunguan di bawah kulit, hidung, atau kelopak mata.

Dengan pengobatan yang tepat, seseorang dapat pulih dari infeksi atau penyakit terkait HIV. Pengobatan juga membantu dalam hal mengendalikan infeksi HIV. Perawatan untuk infeksi oportunistik dapat meliputi antivirus, antibiotik, serta antijamur.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diakses pada 22 Januari 2021. About HIV 

HIV.gov (2020). Diakses pada 22 Januari 2021. How Can You Tell If You Have HIV? 

Medical News Today (2020). Diakses pada 22 Januari 2021. HIV timeline: What are the stages? 

Medical News Today (2020). Diakses pada 22 Januari 2021. What are the symptoms of HIV infection? 

World Health Organization. Diakses pada 22 Januari 2021. HIV data and statistics 

    register-docotr