Info Sehat

Penyebab Darah Kental: Faktor Penyebab dan Cara Mengatasinya

May 11, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Penyebab darah kental bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi medis tertentu. Darah kental harus ditangani dengan tepat untuk mencegah komplikasi yang dapat ditimbulkan.

Pada dasarnya, penggumpalan darah adalah proses penting yang mencegah perdarahan berlebih ketika pembuluh darah terluka. Ini juga bertujuan untuk menghentikan perdarahan. Ketika penggumpalan darah terjadi secara tidak normal, ini dikenal dengan kondisi hiperkoagulabilitas.

Hiperkoagulabilitas sendiri adalah suatu kondisi di mana darah lebih kental dan lengket dibandingkan dengan biasanya. Hiperkoagulabilitas dapat menyebabkan penggumpalan darah secara berlebih.

Baca juga: Minum Air Putih Bisa Atasi Kekentalan Darah pada COVID-19, Mitos atau Fakta?

Apa penyebab darah kental?

Perlu kamu ketahui bahwa terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko darah kental. Berikut ini adalah penyebab darah kental yang penting untuk diperhatikan:

  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat terapi hormon
  • Riwayat keluarga
  • Kondisi medis tertentu, seperti kanker, penyakit arteri perifer (PAD), penyakit autoimun, kondisi yang memengaruhi jantung, atau bahkan diabetes juga menjadi penyebab darah kental
  • Obesitas
  • Cedera atau trauma
  • Deep vein thrombosis (DVT)
  • Defisiensi protein C dan S, yakni protein yang berfungsi untuk mengontrol proses penggumpalan atau pembekuan darah
  • Faktor V Leiden, yakni mutasi dari salah satu faktor penggumpalan dalam darah. Mutasi ini meningkatkan risiko penggumpalan, terutama di pembuluh darah vena dalam
  • Mutasi prothrombin 20210, seseorang dengan kondisi ini memiliki terlalu banyak protein pembekuan atau penggumpalan darah yang dikenal sebagai Faktor II atau yang juga disebut sebagai prothrombin. Prothrombin sendiri adalah salah satu faktor yang bisa memungkinkan darah menggumpal dengan benar
  • Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik serta berolahraga

Apakah darah kental berbahaya?

Darah kental adalah kondisi yang perlu diwaspadai, terlebih lagi jika gumpalan darah terbentuk di kaki atau lengan, sebab gumpalan darah dapat berpindah ke bagian tubuh lain, tak terkecuali paru-paru.

Sementara itu, pada kasus hiperkoagulabilitas, juga dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah, baik pada pembuluh darah vena ataupun arteri.

Gumpalan darah yang terbentuk di pembuluh darah akan memengaruhi aliran darah ke area utama dalam tubuh. Demikian dikutip dari Healthline.

Jika aliran darah tidak mencukupi, ini dapat memengaruhi jaringan. Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah emboli paru, yakni gumpalan darah yang menyumbat satu atau lebih arteri pulmonalis di paru-paru.

Ketika hal tersebut terjadi, paru-paru tidak bisa mendapatkan darah yang mengandung oksigen. Selain itu, komplikasi lain yang perlu diperhatikan akibat darah kental adalah:

  • Stroke, jika gumpalan darah bergerak ke otak dan menyebabkan penyumbatan pada arteri yang berfungsi untuk mengirimkan darah mengandung oksigen ke otak
  • Serangan jantung, yang terjadi akibat gumpalan darah di arteri koroner
  • Cedera ginjal akut, akibat penyumbatan atau gumpalan darah di salah satu atau kedua pembuluh darah ginjal

Baca juga: Wajib Tahu, Ini Proses Pembekuan Darah yang Terjadi Ketika Kamu Terluka!

Pengobatan masalah darah kental

Pengobatan darah kental bergantung dari penyebab darah kental yang mendasarinya. Berikut ini adalah beberapa pilihan pengobatan untuk menangani darah kental:

1. Terapi antiplatelet dan antikoagulan

Terapi antiplatelet atau antikoagulan biasanya digunakan untuk menangani kondisi medis yang memengaruhi penggumpalan darah.

Terapi antiplatelet sendiri melibatkan pengobatan yang membantu mencegah sel darah yang bertanggung jawab untuk proses penggumpalan (trombosit). Contoh dari terapi antiplatelet adalah aspirin.

Sedangkan, terapi antikoagulan melibatkan obat untuk mencegah penggumpalan darah, seperti warfarin. Namun yang perlu diingat bahwa obat-obatan tersebut tidak boleh digunakan sembarangan dan harus diresepkan oleh dokter.

2. Stoking kompresi

Salah satu komplikasi dari deep vein thrombosis (DVT) adalah sindrom pasca trombotik (PTS). PTS dapat menyebabkan pembuluh darah yang rusak mengalami pembengkakan dan nyeri.

DVT sendiri adalah penggumpalan darah yang terjadi di salah satu atau lebih pembuluh darah vena dalam. Penggunaan stoking kompresi dapat membantu meringankan gejala PTS dengan cara membantu aliran darah mengalir dari kaki bagian bawah untuk kembali ke jantung.

3. Trombektomi

Pada beberpa kasus, prosedur operasi diperlukan untuk menghilangkan gumpalan darah dari vena atau arteri. Prosedur ini dikenal sebagai trombektomi.

Trombektomi diperlukan untuk menangani gumpalan darah yang sangat besar atau menyebabkan kerusakan pada jaringan di sekitarnya.

4. Penggunaan filter pada vena cava

Vena cava adalah pembuluh darah balik utama yang berada di rongga perut yang bertugas untuk mengangkut darah dari tubuh bagian bawah kembali ke jantung dan paru-paru. DVT yang terjadi terkadang dapat bergerak ke paru-paru melalui vena cava.

Penggunaan filter ke dalam vena cava dapat mencegah gumpalan darah melewati vena.

Itulah beberapa informasi mengenai penyebab darah kental dan cara mengatasinya. Untuk mencegah darah kental, sebaiknya jalani gaya hidup sehat dan penuhilah asupan cairan dalam tubuh, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

American Society of Hematology. Diakses pada 03 Mei 2021. Blood Clots 

Agency for Healthcare Research and Quality (2017). Diakses pada 03 Mei 2021. Your Guide to Preventing and Treating Blood Clots 

Healthline (2018). Diakses pada 03 Mei 2021. Thick Blood (Hypercoagulability) 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 03 Mei 2021. Blood clots 

Medical News Today (2017). Diakses pada 03 Mei 2021. All you need to know about thick blood 

Medical News Today (2019). Diakses pada 03 Mei 2021. Treatment and home management for blood clots 

 

    register-docotr