Covid-19

Minum Air Putih Bisa Atasi Kekentalan Darah pada COVID-19, Mitos atau Fakta?

February 11, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Selama ini kita tahu bahwa mengonsumsi air putih memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Bahkan, beberapa waktu lalu terdapat sebuah video yang menyebutkan bahwa mengonsumsi air putih bisa membantu untuk mengatasi kekentalan darah pada pasien COVID-19.

Bagaimana faktanya? Yuk simak ulasan lengkapnya!

COVID-19 dan pembekuan darah

Penambahan kasus baru COVID-19 hingga kini masih terus terjadi. COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Gejala COVID-19 bisa memengaruhi sistem pernapasan.

Meskipun demikian, infeksi virus ini juga bisa memengaruhi sistem pencernaan atau memengaruhi indra penciuman. Pada sebagian orang, efek samping dari COVID-19 dapat menyebabkan pembekuan darah.

Baca juga: Dapat Menyerang Sistem Pencernaan, Apakah Mencret Termasuk Gejala COVID-19?

Pembekuan darah dapat membantu menghentikan perdarahan ketika terluka. Akan tetapi, pembekuan darah dapat terbentuk tanpa adanya luka atau cedera yang mengakibatkannya.

Ini harus diwaspadai, sebab bekuan atau gumpalan darah tersebut dapat membatasi aliran darah di dalam pembuluh darah. Hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi seperti stroke atau serangan jantung.

Dikutip dari Healthline, pembekuan darah dengan COVID-19 paling sering ditemukan pada seseorang yang memiliki gejala parah yang mana memerlukan perawatan di rumah sakit.

Sebuah studi yang dilakukan terhadap 184 pasien yang berada di Intensive Care Unit (ICU) pada kasus COVID-19 parah menemukan bahwa sekitar 31 persen pasien mengalami komplikasi terkait pembekuan darah.

Mengapa COVID-19 bisa menyebabkan pembekuan darah?

Melansir laman Uofmhealth.org. sebuah studi mengungkapkan mengenai kemungkinan terjadinya pembekuan darah pada pasien COVID-19.

Antibodi autoimun yang beredar di dalam darah menyerang sel-sel tubuh, yang mana dapat memicu pembekuan di arteri, vena, serta pembuluh mikroskopis.

Dalam kasus COVID-19, pembekuan mikroskopis dapat membatasi aliran darah di paru-paru. Pada gilirannya, ini dapat mengganggu proses pertukaran oksigen.

Yogen Kanthi, M.D, asisten profesor di Michigan Medicine Frankel Cardiovascular Center mengatakan bahwa hal tersebut dapat membuat kita belajar bahwa autoantibodi bisa menjadi penyebab pembekuan dan pembengkakan yang membuat pasien mengalami kondisi yang lebih parah.

Komplikasi yang dapat disebabkan oleh pembekuan darah

Pembekuan darah merupakan kondisi yang perlu diwaspadai. Sebab, pembekuan darah dapat menyebabkan komplikasi yang berpotensi serius, di antaranya adalah:

Stroke

Pembekuan darah dapat memblokir pembuluh darah di otak, yang mana dapat mengganggu aliran darah. Jika gumpalan mengurangi aliran darah untuk sementara waktu, ini dapat menyebabkan transient ischemic attack (TIA) atau stroke ringan.

Emboli paru

Emboli paru dapat terjadi jika gumpalan darah mengalir ke paru-paru, yang mana dapat menghalangi aliran darah. Ini dapat menurunkan kadar oksigen serta memengaruhi fungsi jaringan paru-paru.

Serangan jantung

Serangan jantung dapat terjadi jika aliran darah ke jantung tersumbat. Nah, pembekuan darah dapat berisiko menyebabkan kondisi ini.

Pembekuan darah juga dapat membatasi aliran darah pada bagian tubuh lain, ini harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kerusakan yang serius. Saluran pencernaan dan ginjal juga dapat dipengaruhi oleh pembekuan darah.

Baca juga: Mengenal D-dimer dan Korelasinya dengan Pengentalan Darah Pasien COVID-19

Pendapat ahli tentang kekentalan darah pada pasien COVID-19

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Vito Anggarino Damay, melalui akun Instagram-nya menjelaskan bahwa dalam kasus COVID-19, kekentalan darah yang dimaksud adalah pembekuan darah.

Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa pada kasus COVID-19 sering terjadi pembekuan darah, salah satu penyebabnya yakni reaksi imunitas, jadi adanya pertanda peradangan.

Peradangan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan dari lapisan pembuluh darah serta aktifnya mekanisme pembekuan darah. Infeksi COVID-19 juga dapat menyebabkan terjadinya inflamasi atau peradangan. Peradangan dapat menyebabkan kerusakan pada sel.

Kerusakan pada sel tersebut dapat mengaktifkan sistem pengentalan atau pembekuan darah. Pembekuan darah yang terjadi bisa berpotensi menyumbat pembuluh darah vena, yakni pembuluh darah balik yang mengarah ke jantung serta pembuluh darah dari jantung ke paru-paru.

Benarkah minum air putih bisa atasi kekentalan darah pada pasien COVID-19?

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Vito Anggarino Damay, SpJP (K), Mkes, FIHA, FICA, FAsCC memberikan tanggapan bahwa hanya minum air putih tidak bisa mengatasi kekentalan darah pada kasus COVID-19.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa untuk mengencerkan darah tidak bisa dilakukan sembarangan, karena semuanya harus terukur dan dilakukan secara hati-hati. Di sisi lain, untuk mengencerkan darah membutuhkan obat yang dikenal sebagai antikoagulan.

“Antikoagulan ini yang disuntikan. Biasanya orang bilang suntikan di perut, karena disuntiknya memang di kulitnya. Jadi, inilah yang ditugaskan untuk bisa melarutkan kembali bekuan-bekuan darah yang berbahaya akibat dari peradangan infeksi SARS-CoV-2 atau pada pasien COVID-19,” jelasnya.

Itulah beberapa informasi mengenai konsumsi air putih dan pengaruhnya terhadap kekentalan darah pasien COVID-19. Sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19, selalu terapkan protokol kesehatan, ya.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar COVID-19? Silakan chat kami melalui Aplikasi Good Doctor. Mitra dokter kami siap membantumu dengan akses layanan 24/7. Jangan ragu untuk berkonsultasi, ya!

Reference

Healthline (2020). Diakses pada 10 Februari 2021. What to Know About COVID-19 and Blood Clots 

Uofmhealth.org (2020). Diakses pada 10 Februari 2021. New Cause of COVID-19 Blood Clots Identified 

Medcom.id (2021). Diakses pada 10 Februari 2021. Benarkah Air Putih Bisa Obati Kekentalan Darah Penderita Covid-19? 

Klok, F.A, M.J.H.A. Kruip (2020). Incidence of thrombotic complications in critically ill ICU patients with COVID-19. NCBI (diakses pada 10 Februari 2021)

    Berita Terkait
    register-docotr