Info Sehat

Mengenal Shift Work Sleep Disorder, Kondisi Kesehatan yang Menyerang Pekerja Kantoran

January 6, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Shift work sleep disorder atau SWSD terjadi pada individu yang bekerja dengan jam non-tradisional, seperti di luar jam kerja. SWSD dapat menyebabkan kesulitan untuk menyesuaikan dengan jadwal tidur atau bangun yang berbeda sehingga memiliki masalah pola tidur.

Keadaan ini akan ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan, kurang tidur yang menyegarkan, dan kantuk. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai shift work sleep disorder atau SWSD yuk simak penjelasan berikut.

Baca juga: Manfaat Bayam Merah untuk Kesehatan, Memperkuat Akar Rambut hingga Jaga Kesehatan Kulit!

Apa itu SWSD?

Dilansir dari NCBI, kerja shift dikaitkan dengan berbagai konsekuensi kesehatan yang negatif, mulai dari keluhan kognitif, penyakit kanker, serta penurunan kualitas hidup. Meskipun demikian, kerja shift akan tetap menjadi komponen penting dalam perekonomian modern.

Gangguan tidur kerja shift atau disebut juga dengan SWSD merupakan kondisi tidur yang dianggap gangguan ritme sirkadian. Pada dasarnya, hal ini berarti orang yang bekerja pada jam tidur normal dapat membuang ritme kantuk alami atau ritme sirkadian.

Diperkirakan sekitar 10 hingga 40 persen pekerja shift akan mengalami SWSD. Ritme sirkadian sendiri dapat memicu gejala yang membuat frustasi karena memengaruhi kantuk, kewaspadaan, suhu tubuh, tingkat hormon, dan kelaparan. 

Gejala umum shift work sleep disorder

Penderita SWSD bisa merasakan gejala dengan jelas karena kondisi tersebut kronis atau jangka panjang.

Beberapa gejala yang mungkin dirasakan, berupa kantuk berlebihan, kesulitan berkonsultasi, kekurangan energi, insomnia, tidur terasa tidak menyegarkan, depresi, dan hubungan dengan orang lain bermasalah.

Kurang tidur kronis bisa sangat berbahaya dan meningkatkan risiko tertidur saat mengemudi atau membuat kesalahan saat bekerja. Seseorang dengan SWSD juga akan sering melakukan kesalahan di tempat kerja.

Hal ini juga akan memengaruhi tubuh, termasuk mengganggu kesehatan jantung dan fungsi pencernaan. 

Laporan dari Sleepeducation.org diketahui bahwa terdapat risiko gangguan tidur, seperti sering infeksi, sering sakit, kadar kolesterol tinggi, penyalahgunaan obat, hingga kegemukan.

Oleh karena itu, gejala SWSD tidak boleh dianggap sepele karena dapat mengakibatkan kecelakaan baik di dalam maupun luar pekerjaan jika dibiarkan tanpa penanganan.

Jika kamu seorang pekerja shift yang mengalami gejala tersebut, ada baiknya untuk segera berbicara dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Bagaimana mengatasi shift work sleep disorder?

Dokter akan menggunakan kriteria diagnostik untuk menentukan apakah seseorang benar-benar menderita SWSD. Biasanya, dokter mungkin mengajukan serangkaian pertanyaan tentang pola dan gangguan tidur, serta riwayat kesehatan yang dimiliki.

SWSD dapat menyerupai gangguan tidur lainnya sehingga dokter mungkin terlebih dahulu mengesampingkan kondisi, seperti narkolepsi dan apnea tidur obstruktif. 

Dokter akan memonitor penderita untuk mengevaluasi hal-hal, seperti kualitas tidur, jumlah gangguan tidur, detak jantung, dan pernapasan.

Perubahan gaya hidup

Salah satu cara mengatasi shift work sleep disorder adalah dengan mengubah gaya hidup. Perubahan gaya hidup diketahui berperan besar dalam membantu mengelola gangguan tidur kerja shift.

Ada banyak perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala, yakni berupa:

  • Usahakan untuk menjaga jadwal tidur yang teratur, termasuk di hari libur
  • Kenakan kacamata hitam saat berangkat kerja untuk meminimalkan paparan sinar matahari
  • Batasi asupan kafein empat jam sebelum waktu tidur.
  • Pertahankan pola makan sehat yang kaya buah dan sayuran
  • Gunakan warna gelap untuk tidur guna membantu menciptakan lingkungan yang nyaman
  • Pakai penutup telinga atau gunakan derau putih untuk meredam suara saat tidur
  • Tidur siang 30 hingga 60 menit tepat sebelum giliran bekerja.

Konsumsi obat

Meskipun perubahan gaya hidup adalah komponen terpenting, namun perawatan bersama dokter juga diperlukan. Penderita SWSD disarankan untuk menggunakan obat penenang dan hipnotik, termasuk zolpidem atau Ambien dan eszopiclone atau Lunesta yang dapat diresepkan oleh dokter.

Modafinil atau Provigil disetujui oleh Food and Drug Administration A.S (FDA) sebagai obat yang mempromosikan bangun dengan potensi penyalahgunaan rendah. Obat ini terbukti dapat meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi rasa kantuk di pagi hari.

Dalam uji klinis, modafinil juga terbukti mengurangi gangguan memori jangka panjang dan meningkatkan perolehan memori. Beberapa prosedur medis yang mungkin bisa membantu masalah gangguan tidur, berupa:

Terapi cahaya terang

Jenis terapi ini menggunakan cahaya buatan yang dapat membantu ritme sirkadian tubuh menyesuaikan dengan transisi pada jam tidur dan bangun. Pastikan untuk mendiskusikan apa yang terbaik untuk kasus pribadi dengan dokter atau profesional perawatan kesehatan.

Konsumsi suplemen

Suplemen alami seperti melatonin mungkin merupakan pilihan yang lebih baik, terutama jika kamu membutuhkan beberapa jenis zat penginduksi tidur. Melatonin bersifat alami, tidak membuat ketagihan, dan dapat dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping.

Baca juga: Diare Saat Menyusui? Begini Cara Alami yang Aman untuk Mengatasinya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Very Well Health (2020), diakses 5 Januari 2021. What Is Shift Work Sleep Disorder?
  2. NCBI (2016), diakses 5 Januari 2021. Shift Work and Shift Work Sleep Disorder
  3. Cleveland Clinic (2017), diakses 5 Januari 2021. Shift Work Sleep Disorder: Management and Treatment
  4. Healthline (2019), diakses 5 Januari 2021. Shift Work Sleep Disorder
    register-docotr