Info Sehat

Mengenal Hustle Culture: Budaya Jam Kerja Ekstrem Tanpa Pikirkan Kondisi Tubuh

August 11, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Untuk menggapai mimpi dan cita-cita, kerja keras memang perlu dilakukan. Namun, memaksakan diri untuk terus bekerja tanpa memerhatikan kondisi tubuh bukanlah sesuatu yang baik. Jika itu terus dilakukan, bisa jadi kamu telah terjebak dalam situasi hustle culture.

Apa sebenarnya hustle culture itu? Apa ada dampaknya bagi kesehatan? Yuk, cari tahu jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Apa itu hustle culture?

Hustle culture adalah sebuah gaya hidup yang membuat seseorang merasa harus terus bekerja keras untuk mencapai kesuksesan. Hal itu mungkin terdengar baik. Namun, orang yang terjebak dalam gaya hidup tersebut biasanya cenderung meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat.

Beberapa kalangan menyamakan hustle culture sebagai fenomena yang marak dilakukan anak muda. Istilah hustle culture sendiri pertama kali muncul pada tahun 1970-an, dengan pelaku para milenial.

Dikutip dari laman University of Washington School of Medicine, di tengah pemberlakuan work from home saat pandemi, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya telah terjebak dalam pola hidup hustle culture. Pekerjaan bisa mengganggu waktu pribadi yang sebenarnya digunakan untuk beristirahat.

Apa penyebabnya?

Milenial adalah golongan yang sering terjebak dalam gaya hidup hustle culture. Ada satu konsep kehidupan yang dipercaya oleh banyak orang, yaitu melakukan apa saja selagi masih muda untuk menggapai mimpi. Hal tersebut menjadi salah satu faktor munculnya hustle culture.

Menurut penjelasan pakar kesehatan tidur klinis, Martin Reed, beberapa orang terus memeriksa e-mail saat sudah pulang ke rumah, alih-alih tidur dan bersantai setelah bekerja seharian. Tidak jarang pula yang membawa tugas kantor ke rumah dan mengerjakannya di atas tempat tidur.

Dampak jangka pendeknya, selain bisa bikin sulit tidur, hal tersebut dapat meningkatkan risiko kelelahan.

Bagaimana tanda-tandanya?

Tidak masalah seberapa lama kamu bekerja dalam sehari. Tapi, bekerja dengan total waktu 50 jam dalam satu pekan justru bisa menurunkan produktivitas. Seseorang akan menjadi kurang produktif dan lebih gampang sakit.

Disadari atau tidak, hustle culture akan memunculkan beberapa gejala pada tubuh, bukan hanya fisik tapi juga psikis. Selain kelelahan, orang yang terjebak dalam hustle culture cenderung menjauhkan diri secara emosional dari lingkungan sekitar.

Bukan hanya itu, sikapnya mungkin akan menjadi lebih reaktif terhadap sesuatu, termasuk mudah marah pada hal sepele. Sayangnya, ciri-ciri tersebut sering diabaikan. Bahkan, orang itu mungkin akan terdorong untuk mengerjakan tugas berikutnya.

Dampak buruk pada kesehatan

Ada banyak alasan mengapa kamu sebaiknya memprioritaskan keseimbangan dalam kehidupan bekerja. Salah satu yang terpenting adalah kesehatan tubuh. Memaksakan diri untuk terus bekerja hingga tak punya cukup waktu istirahat bukanlah sesuatu yang baik.

Selain kelelahan sebagai dampak jangka pendek, ada beberapa efek dalam jangka panjang yang bisa muncul karena hustle culture, yaitu tekanan darah tinggi, detak jantung tidak teratur, risiko terkena penyakit kardiovaskular, hingga gangguan mental seperti depresi.

Baca juga: Kelewat Nyaman, Sayangnya 6 Kebiasaan di Kantor Ini Bisa Merusak Kesehatan, Cek Apa Saja

Bagaimana cara mengatasinya?

Seperti yang telah disebutkan, hustle culture tidak hanya bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik, tapi juga psikis. Artinya, kamu perlu memerhatikan ritme dan durasi kerja seimbang agar tidak terjebak dalam gaya hidup tersebut.

Ada dua tips yang bisa kamu lakukan, yaitu:

Atur jam istirahat

Sepadat apa pun kegiatanmu, selalu luangkan waktu untuk istirahat. Kamu bisa menggunakannya untuk bersantai, olahraga ringan, atau sekadar mencari udara segar.

Merencanakan dan mengatur jam istirahat bisa mempermudah menjaga batas antara waktu kerja dan waktu luang untuk diri sendiri.

Ketika sudah malam, usahakan untuk beristirahat secara optimal dan tidak tergoda melakukan pekerjaan kantor.

Sayangi diri sendiri

Kamu mungkin memiliki jadwal yang padat dan meeting secara maraton tanpa henti. Tekanan kerja bertambah, yang pada akhirnya membuatmu menjadi stres. Untuk mencegah terjadinya efek tersebut, berlatihlah untuk memberi sedikit rasa sayang dan cinta pada diri sendiri.

Pada akhirnya, jika kita bisa menyayangi diri sendiri dan mendapatkan ketenangan, tubuh akan menjadi lebih sehat dan bahagia, termasuk saat menjalankan pekerjaan.

Nah, itulah ulasan tentang hustle culture dan dampaknya pada kesehatan yang perlu kamu tahu. Selain tidur yang cukup, imbangi juga dengan olahraga dan pola makan bergizi agar tubuh tetap bugar, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. UW Medicine, diakses 10 Agustus 2021, What is Hustle Culture and How Does it Impact Your Health?
  2. Universitas Airlangga, diakses 10 Agustus 2021, Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja Generasi Muda.
  3. Healthline, diakses 10 Agustus 2021, Why Are Millennials So Exhausted All the Time?

    register-docotr