Info Sehat

Kenali Perbedaan Pilek Alergi dan Pilek akibat Virus

August 13, 2021 | Dewi Nurfitriyana
feature image

[LMR-CH-20210721-33]

Apa kamu pernah mengalami pilek, bersin dan sakit tenggorokan tapi bingung apakah itu termasuk pilek alergi atau pilek akibat virus? 

Membedakan kedua kondisi tersebut memang cukup sulit, karena satu sama lain memiliki gejala yang sangat mirip1,2. Tetapi dengan memahami perbedaannya, kamu akan terbantu memilih langkah perawatan yang terbaik. 

Jadi teruskan membaca artikel di bawah, untuk mengetahui perbedaan antara pilek alergi dan pilek akibat virus.

Perbedaan pilek alergi dan pilek akibat virus

Pilek, flu dan alergi, semuanya berpengaruh pada sistem pernapasan yang dapat membuat kamu menjadi sulit bernapas. Namun setiap kondisi tersebut pada dasarnya memiliki gejala utama yang cukup berbeda. 

1. Pilek alergi

Menurut Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA)3, alergi terjadi karena reaksi berlebihan dari kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang disebut alergen atau pemicu alergi. Adapun beberapa pemicu alergi antara lain adalah:

  1. Alergen udara, seperti serbuk sari, bulu binatang, tungau debu, dan jamur
  2. Makanan tertentu, misalnya kacang tanah, gandum,ikan, kerang, telur, dan susu
  3. Sengatan serangga, seperti dari lebah atau tawon
  4. Obat-obatan, terutama yang mengandung penisilin
  5. Lateks atau zat lain yang jika disentuh dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit. 

Reaksi alergi tersebut dapat menyebabkan beberapa gejala berkembang, termasuk pilek, bersin, mata merah, tenggorokan gatal, atau batuk. 

Karena saat kamu menderita pilek alergi dan terpapar dengan pemicunya, sel-sel kekebalan di hidung dan saluran udara dapat bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang sebenarnya tidak berbahaya. 

Jaringan pernapasan yang halus pun kemudian membengkak, dan membuat hidung jadi tersumbat atau berair. Gejala pilek alergi biasanya berlangsung selama kamu terpapar pemicu alergi seperti yang disebutkan di atas4. Ini bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

2. Pilek akibat virus

Ada banyak virus yang bisa menyebabkan pilek, tapi menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC)5, virus yang paling umum mengakibatkan penyakit ini adalah rhinovirus. 

Ketika virus pilek pertama kali masuk ke dalam tubuh, itu akan mengiritasi lapisan hidung dan sinus (kantong berisi udara di sekitar wajah). Ini akan membuat hidung mulai mengeluarkan banyak lendir bening yang berfungsi menjebak dan mengeluarkan virus.

Kondisi pilek akibat virus biasanya memburuk selama hari kedua atau ketiga dan dapat berlangsung selama 2 minggu dalam beberapa kasus. Gejala yang muncul 6,7,8 di antaranya meliputi:

  1. Bersin
  2. Hidung tersumbat, atau berair
  3. Sakit tenggorokan
  4. Sakit kepala, dan
  5. Pegal-pegal.

Faktor risiko pilek alergi 

Tak banyak yang tahu bahwa pilek alergi adalah masalah kesehatan global. Dilansir dari Apallergy9, sebanyak 15 sampai 25 persen populasi dunia mengalami gangguan kesehatan yang satu ini.

Kelompok yang paling rentan terkena adalah anak-anak, remaja, serta orang dewasa muda dengan penyakit penyerta asma, sinusitis, konjungtivitis, dan polip hidung. 

Apabila dilihat dari sisi wilayah, maka angka kasus pilek alergi paling tinggi10 ada di Asia Pasifik. Sebanyak 27 persen di antaranya terjadi di Korea Selatan11 dan 32 persen di Uni Emirat Arab. Di Indonesia sendiri, penderita alergi bertambah 30 persen setiap tahunnya

Banyak faktor risiko yang menyebabkan hal ini terjadi. Pencemaran lingkungan akibat perkembangan ekonomi yang pesat adalah salah satunya. Selain itu beberapa faktor risiko lain yang bisa memicu tingginya pilek alergi di kawasan Asia Pasifik antara lain adalah:

  1. Riwayat kesehatan keluarga
  2. Adopsi hewan peliharaan
  3. Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol
  4. Kelompok etnis
  5. Tingkat stres
  6. Zat pemicu alergi, dan
  7. Polusi.

Jika tidak segera diatasi, pilek alergi dapat mengganggu kualitas hidup sehari-hari. Mulai dari menyebabkan gangguan tidur, kelelahan siang hari, susah fokus saat belajar, penurunan kinerja kerja dan produktivitas, sampai risiko paling parah adalah asma.

Tipe pilek alergi beserta gejalanya

Berdasarkan lama terjadinya, Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma12 mengklasifikasikan pilek alergi menjadi 2 kategori, yakni:

  1. Pilek alergi intermittent, berlangsung selama 4 hari dalam seminggu, atau kurang dari 4 minggu berturut-turut.
  2. Pilek alergi persistent, gejala terjadi selama lebih dari 4 hari dalam seminggu atau lebih dari 4 minggu berturut-turut.

Sedangkan berdasarkan berat gejalanya, pilek alergi dibedakan menjadi:

  1. Pilek alergi ringan, berarti gejala muncul tapi tidak sampai mengganggu kualitas tidur, atau aktivitas sehari-hari seperti sekolah, pekerjaan, maupun rekreasi.
  2. Pilek alergi sedang hingga berat, ditandai dengan gejala yang merepotkan sampai-sampai menyebabkan gangguan tidur, dan berdampak pada aktivitas sehari-hari, seperti olah-raga, rekreasi, sekolah sampai pekerjaan.

Langkah pengobatan pilek alergi yang direkomendasikan

Kamu dapat mengobati pilek alergi dengan beberapa jenis obat. Tapi umumnya yang pertama harus dicoba adalah antihistamin oral (loratadine)13,14. Ini umum dipakai untuk mengobati pilek, mata berair, dan bersin-bersin akibat alergi.

Pada orang dewasa dan anak-anak, antihistamin oral juga diketahui efektif meredakan gejala pilek alergi, termasuk bersin, hidung tersumbat, dan mata memerah. 

Pemberian anthihistamin sangat tergantung pada tingkat keparahan gejala yang terjadi. Untuk pilek alergi ringan hingga sedang, umum diatasi dengan penghambat H1 oral atau penghambat H1 intranasal dan/atau dekongestan atau LTRA. 

Sementara untuk pilek alergi berat, pengobatannya adalah INS, Penghambat H1, atau LTRA. Jika setelah 2 sampai 4 minggu jenis pengobatan ini masih gagal, maka pasien disarankan segera dirujuk ke dokter spesialis.

Penting diingat, bahwa kamu harus selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba pengobatan apapun untuk mengatasi pilek alergi. Terpenting, kamu juga harus menghindari pemicu alergi agar reaksi alerginya tidak muncul.

Tanyakan Tenaga Kesehatan untuk Bebaskan Alergi, Tanpa Kantuk: Sembuhkan gejala alergi dengan dosis sekali sehari, efektif bekerja cepat, efek samping minimal.

Reference
  1. American College of Allergy, Asthma, and Immunology. Runny Nose, Stuffy Nose, Sneezing. Diunduh dari org. diakses pada 30 Juni 2021
  2. Cold, Flu, and Allergy. Diunduh dari News in Health. Diakses pada 30 Juni 2021.
  3. Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA). Allergy Facts and Figures. Diunduh dari AAFA. Diakses pada 30 Juni 2021.
  4. Bousquet J, Khaltaev N, Cruz AA, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) 2008 Update (in collaboration with the World Health Organization, GA2LEN* and AllerGen**). Allergy. 2008; 63 (86): 8–160. 2. Skoner DP. Allergic rhinitis: definition, epidemiology, pathophysiology, detection, and diagnosis. J Allergy Clin Immunol. 2001;108(1):S2-8.
  5. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Common Cold. Diunduh dari CDC. Diakses pada 30 Juni 2021.
  6. Allergic Rhinitis. Diunduh dari Healthline. Diakses pada 30 Juni 2021.
  7. Medical News Today. What to do about a runny nose. Diunduh dari Medical News Today. Diakses pada 30 Juni 2021.
  8. Cleveland Clinic. Allergic Rhinitis. Diunduh dari Cleveland Clinic. Diakses pada 30 Juni 2021.
  9. Asia Pacific Allergy. The International Study of the Allergic Rhinitis Survey: outcomes from 4 geographical regions, 2018. Diunduh dari org. Diakses pada 30 Juni 2021
  10. The National Center for Biotechnology Information. Changing Prevalence of Allergic Diseases in the Asia-Pacific Region, 2013. Diunduh dari NCBI. Diakses pada 30 Juni 2021.
  11. World Allergy Organization Journal. Changing Prevalence of Allergic Diseases in the Asia-Pacific Region, 2013, diunduh dari WAO Journal diakses pada 30 Juni 2021.
  12. J Investig Allergol Clin Immunol, 2010. Rhinitis. Diunduh dari JIACI. Diakses pada 30 Juni 2021.
  13. Web MD. Loratadine Oral. Diunduh dari Web MD. Diakses pada 30 Juni 2021
  14. Web MD. Do I Need Antihistamines for Allergies?. Diunduh dari Web MD. Diakses pada 30 Juni 2021.

 

    register-docotr