Info Sehat

Atasi Diare dengan Oralit, Bagaimana Cara Membuatnya Sendiri di Rumah?

June 2, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Oralit merupakan ramuan turun-temurun yang sudah dikenal untuk mengatasi dan mencegah risiko dehidrasi saat diare. Tahukah kamu bagaimana cara membuat oralit sendiri di rumah?

Cairan elektrolit atau oral rehydration salts (ORS) ini merupakan ramuan yang terdiri dari kombinasi khusus dari garam kering yang dicampur dengan air.

Minuman ini pun dipercaya dapat membantu menggantikan cairan yang hilang karena diare. Untuk membuatnya, yuk simak caranya di bawah ini!

Baca juga: Moms, Ternyata Ini Lho 4 Penyebab Diare pada Bayi

Cara membuat oralit sendiri di rumah

Pengobatan dengan oralit merupakan cara yang murah, mudah, dan sederhana untuk mengatasi dehidrasi yang disebabkan oleh diare.

Ketika diare terjadi, cairan dan garam esensial hilang dari tubuh dan harus segera diganti. Oralit merupakan pemberian cairan melalui mulut untuk mencegah terjadinya atau memperbaiki dehidrasi akibat dari diare yang dapat membahayakan tubuh.

Diare akut biasanya terjadi beberapa hari. Glukosa yang terkandung dalam larutan oralit memungkinkan usus untuk menyerap cairan dan garam lebih efisien.

Dilansir Rehydration Project, dengan mengonsumsi oralit 90-95 persen yang menderita diare cair akut, apapun penyebabnya, membuat pasien tidak perlu melakukan terapi infus intravena pada semua kasus, kecuali kasus yang paling parah.

Berikut adalah cara mudah membuat ramuan oralit yang dapat kamu coba di rumah:

Bahan-bahan:

  • 6 sendok teh gula pasir
  • Setengah sendok teh garam
  • 1 liter air minum atau air matang

Cara membuat oralit:

  • Cuci tangan dengan sabun dan air sebelum membuat oralit
  • Pastikan gelas dan sendok serta wadah yang digunakan untuk membuat oralit benar-benar bersih. Untuk menjaga kebersihannya kamu dapat mencucinya kembali
  • Siapkan larutan dalam wadah bersih dan steril yang sudah diisi oleh 1 liter air dengan mencampurkan setengah sendok teh garam dan 6 sendok teh gula
  • Aduk semua campuran tersebut hingga semua isinya larut

Tips memberikan oralit pada anak

  • Sebelum memberikan oralit pada anak sebaiknya selalu mencuci tangan kamu dan si Kecil untuk menghilangkan kuman
  • Berikan larutan oralit sebanyak yang diperlukan, dengan jumlah kecil dan sesering mungkin
  • Berikan anak cairan lain secara bergantian, seperti ASI atau jus
  • Berikan anak makanan padat jika anak berusia empat bulan atau lebih
  • Jika anak masih membutuhkan oralit setelah 24 jam, buat larutan yang baru
  • Jika anak mengalami muntah, tunggu 10 menit dan berikan kembali oralit. Biasanya muntah akan berhenti
  • Jika diare semakin parah atau muntah terus terjadi, sebaiknya segeralah kunjungi dokter

Oralit memang dapat menjadi solusi yang praktis yang dapat dibuat sendiri di rumah. Namun, yang perlu diingat adalah oralit tidak menghentikan diare, akan tetapi oralit digunakan untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

Dengan meminum oralit cairan dalam tubuh dapat tercukupi dan diare akan sembuh dengan sendirinya. Tak hanya itu saja, oralit juga dapat menurunkan risiko bahaya lain yang disebabkan oleh diare.

Aturan dosis pemberian oralit

Agar oralit dapat bekerja secara efektif, sebaiknya perhatikanlah anjuran yang harus diberikan. Dosis oralit pada masing-masing individu tidaklah sama, hal ini dikarenakan dosis sangat begantung pada usia.

Dilansir Medecins Sans Frontieres, berikut adalah dosis oralit yang harus diperhatikan.

Rencana perawatan A

  • Anak-anak di bawah usia 24 bulan: 50 hingga 100 ml setelah buang air besar (sekitar 500 ml setiap hari)
  • Anak-anak berusia 2 hingga 10 tahun: 100 hingga 200 ml setelah buang air besar (sekitar 1.000 ml setiap hari)
  • Anak-anak berusia di atas 10 tahun dan orang dewasa: 200 hingga 400 ml setelah buang air besar (sekitar 2.000 ml setiap hari)

Rencana perawatan B

Rencana perawatan B ini dapat dilakukan pada anak-anak maupun orang dewasa. Rencana ini digunakan selama 4 jam pertama. Untuk rencana perawatan B lebih jelasnya kamu dapat menyimak tabel di bawah ini:

Dosis rencana perawatan B. Sumber foto: https://medicalguidelines.msf.org/

Langkah pencegahan diare

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mencegah dehidrasi akibat diare adalah dengan meminimalkan risiko diare itu sendiri. Dalam pencegahan diare, kamu bisa memerhatikan tentang menu apa saja yang dikonsumsi, seperti:

Jangan sering mengonsumsi makanan pedas

Makanan pedas memang identik dengan masakan khas Indonesia. Namun, terlalu sering mengonsumsinya bisa membuatmu diare hingga membutuhkan oralit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

Kapsaisin yang ada pada cabai bisa menyebabkan sakit perut hingga diare. Menurut sebuah penelitian, kapsaisin memang mempunyai sejumlah manfaat seperti meringankan gejala radang sendi. Namun, zat itu juga merupakan iritan yang kuat.

Artinya, saat kamu mengonsumsinya terlalu banyak, kapsaisin dapat mengiritasi lapisan lambung selama proses pencernaan berlangsung. Ketika dikonsumsi dalam jumlah besar, kapsaisin dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare dengan sensasi terbakar.

Jika kamu ingin tetap mengonsumsi makanan pedas, cobalah bahan alternatif lain yang lebih aman, misalnya paprika. Bahan itu cenderung lebih ringan dan tidak menyebabkan iritasi di lambung.

Batasi konsumsi susu dan produk turunannya

Percaya atau tidak, susu dan produk turunannya dapat memicu diare jika dikonsumsi terlalu banyak, lho. Jika kamu buang air besar dengan feses yang encer setelah minum susu atau mengonsumsi makanan dari produk susu, bisa jadi itu adalah tanda dari intoleransi laktosa.

Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa ia mempunyai intoleransi laktosa. Sebab, hal itu biasanya dapat berkembang saat dewasa. Intoleransi yang parah dapat memicu diare kronis dan bisa membuat tubuh mengalami kekurangan cairan hingga membutuhkan oralit.

Intoleransi laktosa sendiri merupakan kondisi saat tubuh tidak mempunyai cukup enzim untuk memecah gula yang ada pada produk susu. Dengan begitu, tubuh tidak mencernanya dan langsung menyalurkan ke usus. Setelah itu, diare tak dapat dihindarkan.

Ada banyak alternatif susu sapi yang bebas dari laktosa, seperti susu gandum, susu almond, susu kedelai, dan susu kacang mete.

Hindari kafein

Kafein dalam kopi adalah zat stimulan, dapat membuat seseorang terus waspada dan tidak mengantuk. Di waktu yang sama, zat itu bisa merangsang sistem pencernaan. Tidak sedikit orang yang langsung mulas dan ingin buang air besar sesaat setelah minum kopi.

International Foundation for Gastrointestinal Disorders (IFFGD) menjelaskan, untuk menghindari diare, sebaiknya kamu mengonsumsi kopi tidak lebih dari satu cangkir per hari. Konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi dalam sehari dipercaya dapat meningkatkan risiko diare.

Kondisinya dapat diperparah jika kamu minum kopi dengan tambahan seperti susu, krim, atau pengganti gula. Hal tersebut dapat meningkatkan efek pencahar pada kopi.

Bukan hanya kopi, kamu sebaiknya juga membatasi berbagai minuman lain yang mengandung kafein, seperti minuman bersoda, teh hitam, teh hijau, cokelat panas, dan minuman berenergi.

Baca juga: Sering Minum Kopi saat Perut Kosong? Waspadai 5 Efek Berikut!

Jauhi pemanis tambahan dan buatan

Satu hal yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa pemanis buatan dapat memicu terjadinya diare berkepanjangan. Pemanis buatan tersebut termasuk aspartam, sakarin, sucralose, aspartam, dan gula alkohol (manitol, sorbitol, dan xylitol).

Pemanis buatan dapat mengganggu sistem pencernaan. Jika diamati, beberapa produk makanan yang mengandung pemanis buatan biasanya mencantumkan peringatan diare dan efek pencahar pada kemasan.

Makanan yang biasanya mengandung pemanis buatan di antaranya adalah permen karet, soda, minuman diet, sereal rendah gula, krimer kopi, dan saus tomat. Bahkan, pasta gigi dan obat kumur juga tak luput dari kandungan tersebut.

Batasi konsumsi bawang-bawangan

Berbagai jenis bawang telah terbukti mempunyai khasiat ampuh dalam meredakan peradangan. Namun, bawang putih dan bawang bombay ternyata bisa menyebabkan diare, lho. Jika berlangsung parah, cairan tubuh bisa berkurang hingga membuatmu membutuhkan oralit.

Perlu kamu tahu, baik bawang putih, bawang merah, dan bawang bombay dapat mengiritasi lambung dan usus ketika telah dipecah oleh zat asam di sistem pencernaan. Belum lagi, ada senyawa fruktan pada bawang, yaitu karbohidrat yang sulit dicerna.

Tak hanya itu, bawang-bawangan juga mengandung serat tidak larut, membuatnya bergerak lebih cepat dalam saluran pencernaan. Tanpa proses pencernaan yang sempurna, makanan bisa menyebabkan diare.

Jangan terlalu sering makan brokoli dan kembang kol

Brokoli dan kembang kol adalah sayuran silangan. Meski kaya akan nutrisi dan serat nabati, keduanya dapat mempersulit saluran cerna untuk memprosesnya. Porsi sedikit mungkin tidak menyebabkan masalah.

Namun, dalam jumlah banyak, brokoli dan kembang kol bisa memicu sembelit, penumpukan gas, hingga diare. Jika kamu ingin mengonsumsi dua sayuran tersebut, imbangi dengan makanan lain yang tinggi serat. Hal itu dapat membantu meminimalkan risiko diare.

Hindari konsumsi makanan cepat saji

Makanan cepat saji atau yang lebih dikenal dengan istilah fastfood bisa menyebabkan diare. Ini karena makanan yang berminyak dan digoreng mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang tidak sehat.

Kondisi itu dapat memicu terjadinya gangguan pencernaan hingga meningkatkan risiko terkena diare. Bahkan, untuk orang yang sudah mengalami diare, mengonsumsi makanan cepat saji dapat memperburuk situasi.

Selain itu, makanan cepat saji juga minim nilai gizi, sehingga tubuh tidak mendapatkan banyak nutrisi darinya. Ini membuat tidak ada proses pemecahan di dalam lambung dan usus. Akibatnya, makanan itu cenderung lebih cepat memasuki saluran pembuangan dan memicu diare.

Beberapa makanan cepat saji yang kerap dikonsumsi oleh banyak orang adalah kentang dan ayam goreng. Alih-alih menggoreng, kamu bisa mengolahnya sendiri di rumah dengan cara yang lebih aman, yaitu dipanggang.

Baca juga: Sering Tak Disadari! Ini 5 Makanan yang Mengandung Lemak Jahat Membahayakan

Jauhi alkohol

Untuk mencegah dan meminimalkan risiko terjadinya diare, kamu perlu menghindari konsumsi alkohol. Minuman itu telah lama dikenal dengan kandungannya yang dapat merusak berbagai organ tubuh.

Orang yang mengonsumsi alkohol secara rutin dan dalam jumlah melebihi batas sangat rentan mengalami diare parah hingga berpotensi kehilangan banyak cairan tubuh.

Nah, sudah tahu bukan bagaimana cara membuat oralit sendiri di rumah? Untuk mengobati diare yang menyerang tubuh, kamu dapat mempraktikkan cara membuat oralit yang sudah di jelaskan di atas.

Selalu ingatlah untuk memperhatikan kebersihan serta dosis penggunaan oralit agar oralit dapat bekerja secara optimal. Lakukan juga langkah pencegahan dengan memerhatikan apa yang kamu makan, ya.

Jika diare tak kunjung sembuh, sebaiknya segeralah kunjungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Medecins Sans Frontieres. Diakses pada 27 Juni 2020. Oral Rehydration Salts (ORS)

Rehydration Project (2014). Diakses pada 27 Juni 2020. Oral Rehydration Solutions: Made at Home

Rehydration Project (2019). Diakses pada 27 Juni 2020. Solutions: The Most Effective, Least Expensive Way to Manage Diarrhoeal Dehydration 

Healthline, diakses 2 Juni 2021, What Common Foods Can Cause Diarrhea?

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 2 Juni 2021, Capsaicin.

International Foundation of Gastrointestinal Dissorder, diakses 2 Juni 2021, Common Causes of Chronic Diarrhea.

    register-docotr