Info Sehat

HIV dan AIDS Tidak Sama, Ini Perbedaannya yang Perlu Kamu Tahu!

November 30, 2021 | Muhammad H. | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Meski banyak orang sudah mengenal istilah HIV dan AIDS, namun tak sedikit yang masih bingung dan salah kaprah tentang perbedaan keduanya. Ya, HIV dan AIDS adalah dua hal yang tidak sama, meski saling berkaitan.

Lantas, apa sih bedanya HIV dan AIDS? Benarkah bisa menyebabkan kematian? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Memahami lebih dalam tentang HIV

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel darah putih (CD4). Saat berada di dalam tubuh, HIV melemahkan imun yang sebenarnya berfungsi melawan penyakit.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), begitu terinfeksi HIV, seseorang bisa mengembangkan gejalanya hingga seumur hidup. Ini karena sampai sekarang belum ditemukan obat yang benar-benar efektif untuk mengatasinya.

Namun, perawatan medis yang tepat bisa membantu mengendalikan virus dan meningkatkan kualitas hidup. Tak hanya itu, perawatan yang tepat juga dapat membantu pengidap HIV hidup lebih lama dan sehat.

Penularan HIV

HIV bisa menyebar dan menular ke orang lain melalui kontak langsung cairan tubuh tertentu, seperti darah, air mani, cairan dari anus dan vagina, hingga air susu ibu (ASI). Penggunaan jarum suntik bersama juga kerap menjadi medium penularan yang tak disadari.

HIV tidak menular lewat udara atau air, gigitan nyamuk atau serangga lain, air liur, air mata, keringat, berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet bersama, atau berbagi peralatan makan.

Gejala yang perlu diwaspadai

Pada umumnya, gejala HIV hampir mirip seperti flu, muncul dalam rentang waktu dua hingga empat pekan setelah terpapar. Namun, gejala bisa muncul di waktu lain tergantung kondisi pengidap dan tingkat keparahan.

Gejalanya bisa berupa demam, panas-dingin, muncul ruam, berkeringat di malam hari, nyeri otot, sakit tenggorokan, mudah lelah, pembengkakan kelenjar getah bening, dan luka di mulut. Meski begitu, banyak pengidap HIV kadang tidak mengalami gejala hingga tahapan lanjut.

Dari tiga tahapan yang ada, stadium kedua adalah yang bisa bertahan lama. Menurut sebuah publikasi di Universitas Airlangga, stadium kedua biasanya tak bergejala, tapi sangat menular dan bisa berlangsung hingga 10 tahun.

Baca juga: Pasien Esperanza, Jadi Pasien Kedua yang Pulih dari HIV tanpa Obat, Mungkihkah secara Medis?

Bagaimana dengan AIDS?

Acquired Immune Deficiency Syndrome, atau disingkat AIDS, adalah stadium akhir dari HIV setelah tahapan akut (stadium 1) dan kronis atau laten (stadium 2). Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh sudah rusak parah karena virus, tidak mampu lagi melawan infeksi.

Semua pengidap AIDS pasti terinfeksi HIV, namun pasien HIV belum tentu berakhir dengan AIDS. Artinya, jika pengidap HIV mendapat perawatan tepat, risiko mengalami AIDS bisa diminimalkan.

HIV akan berkembang menjadi AIDS ketika jumlah CD4 turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah.

AIDS adalah tahapan yang bisa membahayakan nyawa. Dikutip dari laman hiv.gov, tanpa pengobatan, penderita AIDS biasanya bertahan hidup sekitar tiga tahun.

Gejala yang mungkin terjadi

Virus yang sudah berhasil melemahkan sistem kekebalan bisa menimbulkan banyak gejala dengan cepat, di antaranya:

  • Penurunan berat badan ekstrem
  • Demam berulang
  • Keringat di malam hari lebih banyak
  • Kelelahan ekstrem
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di banyak anggota tubuh, seperti ketiak, selangkangan, atau leher
  • Diare lebih dari satu minggu
  • Muncul luka pada mulut, anus, atau alat kelamin
  • Peradangan pada paru-paru
  • Muncul bercak merah atau keunguan di bawah kulit, mulut, hidung, atau kelopak mata
  • Depresi, hilang memori, dan gangguan neurologis lainnya.

Pencegahan yang bisa dilakukan

Seperti yang telah disebutkan, HIV yang tidak mendapat pengobatan tepat bisa berubah menjadi AIDS. Kondisi AIDS sangat membahayakan nyawa. Maka, langkah pencegahan perlu dilakukan, yaitu dengan:

  • Gunakan kondom saat berhubungan seks
  • Minimalkan hubungan seks anal
  • Tidak bergonta-ganti pasangan seks
  • Tidak menggunakan narkoba
  • Hanya menggunakan peralatan injeksi yang steril
  • Rutin melakukan tes jika aktif secara seksual.

Nah, itulah perbedaan antara HIV dan AIDS yang perlu kamu ketahui. Lakukan pencegahan di atas untuk meminimalkan risikonya, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

Reference

  1. World Health Organization (WHO), diakses 29 November 2021, HIV/AIDS.
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 29 November 2021, HIV.
  3. HIVinfo.nih.gov, diakses 29 November 2021, HIV Prevention.
  4. HIV.gov, diakses 29 November 2021, How Can You Tell If You Have HIV?
  5. Universitas Airlangga, diakses 29 November 2021, Analisis Kecenderungan Survival Penderita HIV (+) dengan Terapi ARV Menggunakan Aplikasi Life Table.

    register-docotr