Covid-19

Bisa Picu Risiko Kematian, Apakah Badai Sitokin Dapat Dicegah?

August 31, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Pada pasien COVID-19, badai sitokin merupakan kondisi yang harus diwaspadai. Sebab, hal tersebut dapat meningkatkan risiko kematian. Langkah pencegahan perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya kondisi tersebut.

Lantas, apa ada cara yang bisa diterapkan untuk mencegah kondisi badai sitokin? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu badai sitokin?

Sindrom badai sitokin mengacu pada kondisi medis di mana sistem kekebalan tubuh memproduksi terlalu banyak sinyal inflamasi, hingga memicu efek buruk berupa kegagalan organ dan bahkan kematian.

Secara alami, sitokin akan dilepaskan ketika ada suatu infeksi, baik itu karena virus maupun bakteri. Sitokin lalu bertugas mengirim sinyal dan memberi tahu sistem kekebalan untuk melakukan perlawanan. Namun, respons sitokin yang berlebihan justru bisa merusak sel sehat itu sendiri.

Sifat virus SARS-CoV-2 yang hiperaktif bisa memicu sitokin untuk memberikan respons inflamasi yang berlebihan tersebut. Sehingga, tak sedikit pasien atau penyintas COVID-19 yang bisa mengalami kondisi badai sitokin.

Pada orang yang mengalami sindrom badai sitokin, kadar sitokin bisa meningkat di dalam darah, lalu berdampak pada organ yang dilewatinya. Inilah kemudian yang dapat memicu kondisi bernama kegagalan multiorgan.

Baca juga: Orang dengan Kondisi seperti Apa yang Paling Rentan Terkena Badai Sitokin?

Apakah badai sitokin bisa dicegah?

Hingga saat ini, belum ditemukan cara yang benar-benar efektif untuk mencegah terjadinya badai sitokin. Kondisi tersebut biasanya terjadi secara tiba-tiba tanpa diprediksi sebelumnya. Pada pasien COVID-19, badai sitokin bisa mengganggu fungsi paru, dapat meningkatkan risiko kematian.

Namun, beberapa peneliti masih terus melakukan kajian untuk menemukan cara dalam meminimalkan badai sitokin pada pasien COVID-19.

Potensi pencegahan badai sitokin

Pencegahan perlu dilakukan karena badai sitokin adalah kondisi yang bisa mengancam nyawa. Ada beberapa cara yang berpotensi dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya badai sitokin pada pasien COVID-19, di antaranya:

Obat penekan sitokin

Menurut pakar imunologi, Rebecca Tweedell, PhD, pemberian obat yang bisa menekan respons anti-inflamasi dapat dilakukan, khususnya yang menarget TNF-alpha dan IFN-gamma, bagian dari sitokin itu sendiri.

Penggunaan obat yang berfungsi menekan kinerja TNF-alpha dan IFN-gamma sudah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk mengatasi penyakit inflamasi.

Penelitian sudah dilakukan pada tikus, menunjukkan bahwa obat tersebut mengurangi risiko syok sepsis akibat badai sitokin.

Obat kortikosteroid

Kortikosteroid dapat bekerja sebagai agen anti-inflamasi melalui pengikatan pada reseptor sitoplasma, yang singkatnya bisa menurunkan regulasi gen inflamasi. Mekanisme tersebut diyakini dapat menekan terjadinya kondisi badai sitokin pada pasien COVID-19.

Selain itu, kortikosteroid juga bisa membantu mengendalikan gejala parah pada pasien COVID-19. Seperti diketahui, tingkat keparahan infeksi berkorelasi pada risiko terjadinya badai sitokin. Namun, penggunaan kortikosteroid hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Obat imunosupresan

Menurut penelitian baru-baru ini, penggunaan imunosupresan mungkin dapat meminimalkan risiko terjadinya kondisi badai sitokin. Imunosupresan sendiri adalah golongan obat yang bekerja dengan cara menekan atau menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Saat sistem kekebalan sudah menurun, maka respons sitokin terhadap peradangan juga ikut berkurang. Sehingga, kondisi badai sitokin mungkin bisa dicegah. Namun, penggunaan imunosupresan pada pasien COVID-19 masih menjadi perdebatan.

Ini karena pasien COVID-19 sebenarnya justru membutuhkan sistem kekebalan yang baik untuk melawan infeksi. Menekan respons imun dikhawatirkan bisa membuat virus bereplika lebih banyak dan membahayakan tubuh.

Obat antivirus

Menurut penelitian tahun 2020, obat golongan antivirus dapat digunakan untuk menghambat transmisi dan menghancurkan proses replikasi virus. Ini bisa mengurangi risiko kerusakan sel yang disebabkan oleh COVID-19.

Kombinasi dengan terapi imunoregulasi yang menghambat respons inflamasi diyakini dapat menahan badai sitokin yang dipicu oleh virus. Sudah ada uji klinis yang meneliti intervensi antivirus dalam pencegahan dan pengendalian kondisi badai sitokin pada pasien COVID-19.

Nah, itulah ulasan tentang badai sitokin dan beberapa cara yang berpotensi dapat mencegah terjadinya kondisi tersebut. Untuk meminimalkan risiko penularan, selalu terapkan protokol kesehatan di mana pun kamu berada, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. Verywell Health, diakses 31 Agustus 2021, What Is Cytokine Storm Syndrome.
  2. Frontiers International, diakses 31 Agustus 2021, Controlling Cytokine Storm Is Vital in COVID-19.
  3. Frontiers International, diakses 31 Agustus 2021, Calming the Storm: Natural Immunosuppressants as Adjuvants to Target the Cytokine Storm in COVID-19.
  4. St. Judes, diakses 31 Agustus 2021, How to calm the cytokine storm in COVID-19 and beyond.
  5. Research Gate, diakses 31 Agustus 2021, Is there any natural non-aggressive way to prevent the cytokine storm in the severe COVID-19 cases?

    register-docotr