Info Sehat

Waspadai Efek Samping Tramadol: Bisa Bikin Kejang hingga Halusinasi

March 6, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Obat golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID) biasanya cukup efektif dalam meredakan nyeri ringan. Namun, jika rasa sakit tak kunjung berkurang, dokter mungkin akan meresepkan analgesik berat seperti tramadol. Efek tramadol memang diklaim bisa meredakan nyeri akut.

Lantas, bagaimana tramadol bekerja meredakan rasa sakit tersebut? Apa saja efek yang mungkin terjadi pada tubuh? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu tramadol?

Tramadol adalah obat yang masuk dalam golongan analgesik atau penghilang rasa sakit. Dikutip dari NHS UK, tramadol merupakan obat untuk mengatasi nyeri berkepanjangan, biasanya digunakan saat painkiller tak mampu meredakan rasa sakit.

Tramadol tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, cairan tetes, maupun injeksi. Di banyak negara, obat ini diklasifikasikan sebagai narkotika. Begitu juga di Indonesia, peredarannya sangat diawasi dengan ketat untuk meminimalkan penyalahgunaan.

Tramadol bekerja langsung pada reseptor di otak yang berfungsi memberi respons yang berkaitan dengan munculnya nyeri. Obat tersebut memberikan stimulasi dengan menekan atau memblokir reseptor itu.

Tramadol tersedia dalam beberapa merek dagang, seperti Larapam, Mabron, Invodol, Maxitram, Tilodol, Tradorec, Tramquel, Zamadol, Zeridame, dan Zydol. Perlu diketahui bahwa obat tersebut hanya bisa didapat dengan resep dokter.

Baca juga: Mengenal Obat Dumolid, Tablet Penenang yang Kerap Disalahgunakan

Efek tramadol setelah diminum

Tramadol berbentuk kapsul, tablet, dan injeksi bekerja dengan cepat begitu masuk ke dalam tubuh. Hanya dibutuhkan waktu 30 hingga 60 menit agar obat tersebut bekerja sempurna.

Efek pertama yang biasanya ditimbulkan adalah berkurangnya rasa nyeri akut yang tak mempan diatasi oleh obat NSAID. Menurut sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, setelah diminum, zat yang ada pada obat itu langsung menargetkan reseptor di otak.

Reseptor yang dimaksud adalah asam gamma-aminobutirat (GAMA). Tramadol secara signifikan menghambat reseptor GABA agar tak memberikan respons yang berkaitan dengan nyeri atau rasa sakit.

Di sisi lain, menurut American Addiction Centers, meski bisa menghambat penyerapan kembali norepinefrin dan serotonin, tramadol juga dapat bekerja pada reseptor opioid di otak yang dapat meningkatkan kadar dopamin.

Efek tramadol inilah yang membuatnya kerap disalahgunakan beberapa orang untuk mendapatkan sensasi high.

Efek samping yang mungkin terjadi

Meski efektif dalam meredakan nyeri akut berkepanjangan, penggunaan tramadol tak sesuai dosis atau dalam jangka waktu lama bisa memunculkan berbagai efek samping pada tubuh, seperti:

Efek psikiatrik

Gejala psikiatrik muncul dari obat yang bekerja langsung pada reseptor di otak, bisa berupa gugup dan cemas. Beberapa efek tramadol tersebut terbilang cukup umum, dirasakan 10 hingga 14 persen orang yang mengonsumsinya.

Dalam kasus yang jarang, seseorang bisa mengalami efek seperti emosi tak stabil, halusinasi, dan mimpi buruk.

Efek gastrointestinal

Konsumsi yang tidak tepat atau penggunaan jangka panjang dari tramadol bisa menimbulkan efek pada organ gastrointestinal, seperti mual hingga sulit buang air besar. Dikutip dari Drugs, efek tramadol tersebut terjadi pada 40 hingga 46 persen orang yang meminumnya.

Tramadol juga bisa menyebabkan muntah, dispepsia, sakit perut, kembung, hingga yang terparah seperti usus buntu dan radang pankreas (pankreatitis).

Efek pada sistem saraf

Kejang bisa terjadi ketika tramadol dikonsumsi dengan dosis yang tinggi atau diminum bersama obat yang bisa berinteraksi. Kejang sendiri adalah kondisi saat ada gangguan aktivitas listrik di otak akibat penurunan fungsi dari sistem saraf.

Kondisi tersebut tak langsung muncul begitu saja, melainkan didahului oleh gejala pada sistem saraf seperti pusing, sakit kepala berat, kebingungan, hingga tremor.

Efek tramadol pada kardiovaskular

Salah satu efek tramadol yang jarang diketahui adalah penurunan fungsi organ kardiovaskular. Obat itu dapat membuat jantung berdegup kencang atau yang biasa disebut dengan palpitasi. Tanpa disadari, tramadol juga bisa meningkatkan risiko serangan jantung, lho.

Gejala kardiovaskular tersebut tak langsung muncul begitu saja. Biasanya, didahului dengan kondisi seperti perubahan tekanan darah, bisa naik (hipertensi) atau turun (hipotensi). Jika sudah disertai dengan nyeri dada, ada baiknya kamu segera memeriksakan diri ke dokter, ya.

Efek tramadol pada kulit

Tramadol bisa memberi efek pada kulit seperti pruritus atau gatal-gatal di banyak bagian tubuh. Kondisi itu terjadi pada 10 persen orang yang mengonsumsinya. Gatal-gatal juga dapat disertai dengan ruam, keringat, dan gangguan kulit lain seperti dermatitis.

Dalam kasus yang jarang terjadi, efek tramadol pada kulit bisa berupa selulitis (kemerahan) dan gangguan pada folikel rambut.

Nah, itulah beberapa efek tramadol yang bisa muncul pada tubuh. Untuk meminimalkan dampak buruk yang dapat ditimbulkan, selalu perhatikan takaran dan dosis yang telah diresepkan dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Drugs, diakses 22 Februari 2021, Tramadol Side Effects.
  2. NHS UK, diakses 22 Februari 2021, Tramadol.
  3. American Addiction Centers, diakses 22 Februari 2021, Does Tramadol Make You High?
  4. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 22 Februari 2021, The effects of tramadol and its metabolite on glycine, gamma-aminobutyric acidA, and N-methyl-D-aspartate receptors expressed in Xenopus oocytes.

    register-docotr