Info Sehat

Benarkah Terapi Air Kencing Bermanfaat bagi Tubuh? Ini Penjelasannya

July 21, 2021 | Arianti Khairina | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Apakah kamu pernah mendengar seseorang yang minum air kencingnya sendiri untuk menyembuhkan penyakit? Cara tersebut mungkin akan terdengar menjijikkan bagi sebagian orang. Tetapi faktanya banyak orang sudah mencoba metode terapi air kencing tersebut. 

Namun apakah dalam dunia kesehatan hal tersebut aman untuk dilakukan? Agar lebih jelas, simak penjelasannya berikut ini yuk. 

Tentang terapi air kencing 

Air kencing atau disebut juga urine telah menjadi obat tradisional selama berabad-abad. Melansir penjelasan dari laman Medical News Today, bangsa Romawi kuno, percaya bahwa air seni dapat membersihkan mulut dan memutihkan gigi.

Pada 1944, naturopath Inggris, John Armstrong mengklaim bahwa minum air seni adalah “obat yang sempurna.” Baru-baru ini, pendukung kesehatan alami telah mengklaim bahwa berbagai manfaat terkait dengan minum air seni, yaitu: 

  • Menyembuhkan luka di mulut
  • Meningkatkan penglihatan
  • Menggantikan nutrisi yang hilang
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Mendukung kesehatan tiroid.

Cara tradisional ini juga masih terus dipercaya hingga kini sebagai bentuk pengobatan alternatif. Umumnya, orang-orang yang menjalani terapi urine akan secara rutin mengonsumsi satu cangkir air seni mereka di pagi hari sebelum menyantap sarapan.

Beberapa orang menggunakan urine sebagai sumber air darurat. Misalnya, seseorang mungkin meminum air seninya sendiri setelah bencana alam, kapal karam, atau saat lain ketika mereka tidak memiliki akses ke sumber air bersih.

Penelitian ilmiah tentang terapi air kencing

Banyak praktik medis dan budaya kuno di tempat-tempat seperti Mesir, Cina, India, dan kekaisaran Aztec, menganggap minum air seni milik sendiri bisa dijadikan sebagai pengobatan atau obat untuk berbagai penyakit.

Seperti dilansir dari laman Winchester Hospital,  meskipun tidak ada bukti medis yang mendukung urine sebagai pengobatan yang efektif untuk salah satu dari penyakit ini, tetapi penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa beberapa komponen urine memiliki sifat obat. 

Terutama, urea yang merupakan komponen utama urine memiliki karakteristik antibakteri, antijamur, dan antivirus. Dan, perlu dicatat bahwa penelitian sedang dilakukan untuk menyelidiki potensi zat kemih lainnya untuk mengobati infertilitas dan bentuk kanker tertentu.

Baca juga: Jangan Sepelekan, Ini Penyebab Urine Berbusa yang Harus Diwaspadai

Apakah terapi urine berbahaya bagi kesehatan tubuh? 

Meskipun menghirup sampel urine sesekali mungkin tidak langsung berbahaya, tetapi jangan lupa bahwa urine dapat mengandung zat berbahaya pada mereka yang telah menggunakan obat-obatan legal atau telah terpapar residu kimia di lingkungan.

Dan juga apabila seseorang meminum air seninya sendiri sebagai pengganti air minum segar, proporsi kandungan air akan berkurang dengan cepat seiring dengan meningkatnya proporsi produk limbah berbahaya. 

Minum air seni, terutama secara terus-menerus, memang dapat menyebabkan beberapa risiko kesehatan seperti: 

1. Infeksi

Urine tidak steril ketika meninggalkan ginjal, dan harus melewati uretra dan bersentuhan dengan kulit saat meninggalkan tubuh. Bakteri hadir dalam urine, bahkan pada orang sehat tanpa infeksi. Meminum air seni orang lain dapat membuat seseorang terkena berbagai penyakit.

Meskipun urine mengandung antibodi, tetapi juga mengandung bakteri. Sebuah studi yang melibatkan 100 anak menemukan berbagai bakteri, termasuk strain yang resisten antibiotik, dalam urine mereka.

Bakteri tersebut antara lain Salmonella, Pseudomonas, Shigella, Escherichia coli, dan Staphylococcus.

Sementara bakteri tidak akan menyebabkan infeksi pada semua orang yang mengonsumsinya dari urine, namun ini meningkatkan risiko infeksi. Orang dengan sistem kekebalan yang lemah dan anak kecil mungkin sangat rentan mengalami kondisi ini. 

2. Dehidrasi

Karena urine bersifat diuretik, hal itu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami dehidrasi. Garam dalam urine cenderung mengurangi jumlah air yang dapat digunakan dalam tubuh.

Sementara beberapa orang telah mengonsumsi air seni mereka sendiri ketika tidak ada lagi yang bisa diminum, tidak ada bukti bahwa hal itu menyelamatkannya. 

Para ahli tidak merekomendasikan minum air seni saat tidak ada air bersih, karena mengandung garam dan produk limbah berbahaya. 

3. Ketidakseimbangan elektrolit

Karena urine mengandung garam dan elektrolit lain, meminumnya dapat mengubah kadar elektrolit seseorang. Seseorang yang sudah mengalami dehidrasi mungkin menghadapi ketidakseimbangan elektrolit yang berbahaya jika mereka minum air seni, terutama dalam jumlah banyak.

4. Risiko lainnya

Beberapa risiko lain dari minum air seni yaitu: 

  • Paparan bahan kimia berbahaya dalam urine, seperti sejumlah kecil obat yang bisa membuat seseorang alergi. 
  • Perawatan medis yang tertunda, jika seseorang percaya bahwa air seni dapat mengobati penyakitnya.
  • Iritasi dan luka bakar di mulut atau tenggorokan.

Menurut Medical News Today, minum air seni tidak akan meningkatkan kesehatan seseorang. Dalam beberapa kasus, cara tersebut justru bisa memperburuk masalah kesehatan.

Siapa pun yang mencari pengobatan alami harus berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan lain yang memiliki pengetahuan tentang masalah ini.

Ketika akses untuk mendapatkan air bersih sangat langka, penting untuk mencari sumber yang lebih sehat, seperti air hujan yang jernih, kondensasi, atau air dalam makanan, terutama makanan yang kaya air seperti buah-buahan dan sayuran.

Minum urine dapat memperburuk dehidrasi dan menimbulkan efek samping.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Medicalnewstoday.com (2019) diakses pada 21 Juli 2021. Does drinking urine have any real health benefits?
  2. Winchesterhospital.org (2021) diakses pada 21 Juli 2021. True or False: It’s Safe to Drink Your Urine
  3. Medicinenet.com (2021) diakses pada 21 Juli 2021. Urine Therapy
  4. Ncbi.nlm.nih.gov (2010) diakses pada 21 Juli 2021. The Golden Fountain – Is urine the miracle drug no one told you about?
    register-docotr