Info Sehat

Bahaya Menghirup Kapur Barus bagi Kesehatan

May 8, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Bahaya menghirup kapur barus biasanya dirasakan dalam jangka panjang karena paparan yang berkelanjutan. Efek samping ini dapat terjadi pada siapa saja, baik pria maupun wanita dari berbagai kalangan usia.

Karena itu, sekarang sudah banyak yang beralih menggunakan bahan alami dibandingkan dengan kapur barus. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bahaya menghirup kapur barus yuk simak penjelasan berikut.

Baca juga: Tenggorokan Kering Padahal Tidak Flu, Apa Penyebabnya?

Apa itu kapur barus?

Dilansir NCBI, kapur barus atau naftalena adalah hidrokarbon aromatik polisiklik yang biasa digunakan sebagai pengharum serbaguna. Kapur barus memiliki bau khas yang kuat sehingga dapat pula dijadikan sebagai pengusir serangga.

Naftalena merupakan komponen tar batubara yang paling melimpah di mana digunakan sebagai bahan bakar tanpa asap. Karena harganya yang murah, naftalena sering digunakan secara ilegal untuk dijual di pasaran namun diketahui berbahaya bagi manusia.

Program Toksikologi Nasional atau NTP dan Asosiasi Internasional untuk Penelitian Karsinogen atau IAR mengklasifikasikan naftalena sebagai karsinogen pada manusia karena toksisitasnya terutama dalam proses metabolisme.

Bahaya menghirup kapur barus yang mungkin terjadi

Efek kesehatan merugikan dari penggunaan kapur barus dapat terjadi jika bersentuhan langsung. Namun, kamu juga mungkin terpapar melalui pernapasan yang dapat menyebabkan mual, muntah, nyeri di perut, diare, kebingungan, berkeringat, demam, detak jantung cepat, hingga kematian.

Umumnya, efek buruk pada kesehatan tergantung pada beberapa faktor, termasuk jumlah dosis yang terpapar, cara pemaparan terjadi, durasi pemaparan, serta bentuk bahan kimianya.

Beberapa bahaya menghirup kapur barus lainnya yang perlu diketahui, yakni:

Gagal ginjal

Salah satu bahaya menghirup kapur barus dalam jangka panjang adalah gagal ginjal. Sekitar 3 hingga 5 hari setelah terpapar parah, darah mungkin akan ada di dalam urine sehingga berubah menjadi coklat tua. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kerusakan sel darah merah.

Dalam 10 tahun terakhir, beberapa laporan kasus menggambarkan penyalahgunaan kapur barus yang disengaja sebagai inhalan. Salah satu kasusnya melaporkan penyalahgunaan kapur barus pada saudara kembar berusia 18 tahun dan wanita berusia 54 tahun selama empat dekade. 

Faktanya, diketahui bahwa memiliki komplikasi medis yang serius, termasuk anemia dan gagal ginjal kronis. Laporan khusus ini menunjukkan bahwa orang dewasa berisiko mengalami komplikasi akibat penyalahgunaan kapur barus.

Bahaya menghirup kapur barus, salah satunya katarak

Katarak telah dilaporkan pada manusia yang terpapar secara akut melalui penghirupan. Perlu diketahui, mata yang terkena paparan kapur barus dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada kornea sehingga memicu pembentukan katarak.

Selain itu, katarak juga telah dilaporkan pada hewan setelah paparan oral akut. Tes yang melibatkan tikus, kelinci, dan marmut ini menunjukkan bahwa naftalena memiliki toksisitas akut sedang hingga tinggi akibat paparannya.

Kanker

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau IARC telah menyimpulkan bahwa terdapat cukup bukti pada hewan percobaan akibat paparan naftalena dalam waktu lama. Saat ini, naftalena diklasifikasikan sebagai karsinogen hewan pengerat.

Pada 1992 dan 2000, Program Toksikologi Nasional melakukan bioassay seluruh hewan yang menjelaskan peran naftalena dalam pembentukan tumor.

Hasilnya, adenoma alveolar atau bronkiolus paru jinak terdeteksi pada dosis yang kemungkinan disebabkan oleh efek sitotoksis. 

Efek yang diamati terjadi pada dosis lebih tinggi daripada yang diantisipasi dari penghirupan naftalena kronis dalam ruangan. Meski hasil ini telah diketahui menyebabkan kanker pada hewan, namun masih menjadi tantangan dalam menilai validitas eksternal data terhadap kanker manusia.

Kesehatan ibu hamil

Bukti yang tersedia tidak menunjukkan bahwa bahaya menghirup kapur barus akan terjadi selama kehamilan. Namun, paparan naftalena bisa menyebabkan ibu hamil menjadi tidak sehat dan memengaruhi kesehatan pada janinnya.

Perlu diketahui, anak-anak lebih sensitif terhadap efek naftalena dibandingkan orang dewasa. Karena itu, jika terpapar naftalena maka segera menjauhkan diri dari sumber dan segera dapatkan bantuan medis. 

Baca juga: Ciri-Ciri Kekurangan Sel Darah Merah yang Tidak Boleh Diabaikan

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. NCBI (2017), diakses 30 April 2021. Toxicity of Naphthalene and Benzene on Tribollium castaneum Herbst
  2. Public Health England (2017), diakses 30 April 2021. Naphthalene: general information
  3. NCBI (2013), diakses 30 April 2021. Naphthalene Mothballs: Emerging and Recurring Issues and their Relevance to Environmental Health
  4. Epa.gov, diakses 30 April 2021. Naphthalene
    register-docotr