Covid-19

Viral, Ramuan Air Kelapa dan Garam Bisa Obati COVID-19, Benarkah?

July 22, 2021 | Arianti Khairina | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Baru-baru ini banyak beredar informasi tentang racikan obat penyembuh COVID-19 yang tersebar luas melalui WhatsApp.

Disebutkan bahwa campuran air kelapa muda dengan jeruk nipis serta garam bisa menyembuhkan virus berbahaya ini. Namun apakah hal tersebut benar? Berikut penjelasannya. 

Fakta tentang racikan obat penyembuh COVID-19

Melansir dari laman COVID19, dalam narasinya, para penyebar pesan berantai itu mengatakan bahwa obat ini adalah anugerah Tuhan yang sangat manjur.

“Tolong bantu beritahu saudara-saudara kita yang terkena COVID-19. Ini adalah obat pemberian Tuhan yang mudah didapat yang sangat manjur. 1 air kelapa muda, 1 biji jeruk nipis, dan 1 sendok makan garam.”

“Aduk semuanya dan lalu minum airnya. Dijamin 1 jam kemudian virusnya hilang”, demikian isi pesan yang dikutip dari Turnbackhoaks, Minggu, 30 Mei.

Setelah melakukan beberapa pencarian, ternyata hal itu tidak benar. Menurut penjelasan dari Farmakolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Zullies Ikawati, Apt mengatakan bahwa hal ini belum terbukti secara klinis.

Dari penjelasannya tersebut, masyarakat juga sangat diminta untuk tidak mudah menerima informasi yang tidak memiliki bukti klinis. 

Dengan demikian, narasi yang beredar melalui WhatsApp tersebut dan mengatakan bahwa campuran air kelapa, jeruk nipis dan garam dapat menyembuhkan COVID-19 tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

Baca juga: Vitamin D Bisa Tingkatkan Imun saat Pandemi, Ini Daftar Sumber Makanannya!

Nutrisi dan hidrasi yang tepat sesuai anjuran World Health Organization (WHO)

Seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa masyarakat Indonesia diminta untuk tidak mudah menerima informasi yang belum memiliki bukti klinis. Lalu bagaimana cara menjaga imun tubuh selama pandemi COVID-19?

Berikut ini beberapa nutrisi serta hidrasi yang bisa kamu konsumsi sesuai anjuran WHO

1. Konsumsi makanan segar dan tidak diproses 

Makan buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan dan makanan dari sumber hewani misalnya daging, ikan, telur dan susu.

Setiap hari, makan: 2 cangkir buah (4 porsi), 2,5 cangkir sayuran (5 porsi), 180 g biji-bijian, dan 160 g daging dan kacang-kacangan (daging merah dapat dimakan 1−2 kali per minggu, dan unggas 2 3 kali seminggu).

Untuk camilan, pilihlah sayuran mentah dan buah segar daripada makanan yang tinggi gula, lemak, atau garam.

Jangan memasak sayuran dan buah terlalu lama karena dapat menyebabkan hilangnya kandungan vitamin penting. Saat menggunakan sayuran dan buah kalengan atau kering, pilih varietas tanpa tambahan garam atau gula.

2. Minum air putih yang cukup setiap hari

Air sangat penting untuk kehidupan. Ini mengangkut nutrisi dan senyawa dalam darah, mengatur suhu tubuh, membuang limbah, dan melumasi bantalan sendi. Minumlah 8-10 gelas air setiap hari.

Air putih adalah pilihan terbaik, tetapi kamu juga bisa mengonsumsi minuman lain, buah-buahan dan sayuran yang mengandung air, misalnya jus lemon (diencerkan dalam air dan tanpa pemanis), teh dan kopi. 

Namun berhati-hatilah untuk tidak mengonsumsi terlalu banyak kafein, dan hindari jus buah manis, sirup, konsentrat jus buah, minuman bersoda dan minuman ringan karena semuanya mengandung gula.

3. Makan lemak dan minyak dalam jumlah sedang 

Lebih baik mengonsumsi lemak tak jenuh misalnya ikan, alpukat, kacang-kacangan, minyak zaitun, kedelai, canola, bunga matahari dan minyak jagung, daripada lemak jenuh seperti daging berlemak, mentega, minyak kelapa, krim, keju, ghee dan lemak babi.

Pilih daging putih yang umumnya rendah lemak, daripada daging merah. Hindari juga daging olahan karena tinggi lemak dan garam. Jika memungkinkan, pilihlah susu dan produk susu versi rendah lemak atau rendah lemak.

Hindari lemak trans yang diproduksi secara industri. Ini sering ditemukan dalam makanan olahan, makanan cepat saji, makanan ringan, gorengan, pizza beku, pai, kue, margarin dan olesan.

4. Kurangi makan garam dan gula

Saat memasak dan menyiapkan makanan, batasi jumlah garam dan bumbu bernatrium tinggi. Batasi asupan garam harian hingga kurang dari 5 g (sekitar 1 sendok teh), dan gunakan garam beryodium.

Hindari makanan yang tinggi garam dan gula. Batasi asupan minuman ringan atau soda dan minuman lain yang tinggi gula misalnya jus buah, konsentrat jus buah dan sirup, susu rasa dan minuman yogurt.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr