Covid-19

Varian Delta Plus Mulai Masuk Indonesia, Bagaimana Gejala dan Seberapa Bahayanya?

July 29, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Protokol kesehatan harus lebih ketat dilakukan masyarakat untuk mencegah infeksi COVID-19. Pasalnya, varian baru dari virus COVID-19 yang cukup berbahaya sudah mulai masuk ke Indonesia.

Varian baru yang dimaksud adalah Delta Plus di mana diketahui memicu peningkatan kasus kematian COVID-19. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai varian Delta Plus ini, yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Perbedaan Wujud Paru-Paru Orang yang Sudah Divaksin COVID-19 dan Belum

Apa itu varian Delta Plus?

Dilansir dari Medical News Today, varian SARS-CoV-2 baru, Delta Plus yang dikenal juga sebagai B.1.617.2.1 atau AY.1 telah diidentifikasi di lebih dari 10 negara, termasuk Indonesia.

Varian Delta Plus merupakan turunan dari varian Delta dengan mutasi tambahan, K417N. Perbedaan dengan varian sebelumnya adalah Delta Plus diketahui lebih menular dan menyebabkan kematian cukup banyak di negara tempat pertama kali virus muncul, yakni India.

Untuk itu, para ahli memercayai bahwa varian baru COVID-19, Delta Plus telah meningkatkan transmisibilitas. Otoritas kesehatan kemudian juga memperingatkan jika varian tersebut mungkin memiliki peningkatkan kemampuan untuk menularkan virus.

Gejala virus COVID-19 varian baru Delta Plus

Banyak gejala varian Delta yang telah terlihat, seperti batuk, diare, demam, sakit kepala, ruam pada kulit, perubahan warna pada jari tangan dan kaki, nyeri dada, serta sesak napas.

Selain itu, terdapat pula gejala yang dikaitkan dengan varian Delta Plus, yakni sakit perut, mual, hingga hilangnya nafsu makan. Perlu diketahui, varian baru COVID-19 Delta Plus memiliki efek jangka panjang, termasuk nyeri sendi dan gangguan pendengaran.

Meski gejala yang dirasakan akibat terinfeksi virus COVID-19 varian baru cukup umum, namun penularannya sangat cepat sehingga harus segera melakukan perawatan bersama dokter.

Bagaimana bahaya dari varian Delta Plus?

Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa varian Delta saat ini mendominasi 85 persen penularan COVID-19 di Indonesia.

Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengategorikan Delta Plus sebagai varian yang menjadi perhatian.

Hal ini dikarenakan, virus Delta Plus memiliki peningkatan transmisibilitas ikatan yang lebih kuat dengan reseptor sel paru-paru dan potensi pengurangan respons antibodi monoklonal.

Dalam situs National Geographic, posisi K417 berada dalam wilayah protein lonjakan yang berinteraksi dengan protein reseptor ACE2.

Ketika protein lonjakan bertemu dengan ACE2, maka protein tersebut berubah dari keadaan terbuka menjadi tertutup untuk mengikat reseptor dan menginfeksi sel. Berdasarkan studi varian Beta dengan mutasi sama, K417N dapat membantu lonjakan mencapai status terbuka sepenuhnya.

Peningkatan pengikatan reseptor ACE2 dan keadaan lebih terbuka merupakan ciri-ciri varian yang sangat menular. Karena faktor itu, virus Delta Plus kemungkinan dapat menginfeksi sel dalam tubuh, termasuk yang ada di paru-paru, jantung, ginjal, dan usus. 

Apakah vaksin dapat mencegah varian Delta Plus?

Untuk varian Delta yang sudah ada sebelumnya, vaksin COVID-19 menunjukkan bukti dapat mencegah rawat inap dan penyakit parah. Vaksin Pfizer dan AstraZeneca sangat diketahui efektif untuk varian Delta, dengan efektivitas masing-masing 96 persen dan 92 persen setelah dosis kedua.

Perlu diingat, saat ini tidak ada cukup data tentang efektivitas vaksin terhadap varian Delta Plus. Namun, sejauh ini belum ada tanda-tanda jelas dari varian yang menginfeksi orang dengan status sudah divaksinasi.

Dewan Penelitian Medis India telah mengisolasi varian untuk menguji efektivitas vaksin dan menyatakan bahwa hasilnya akan siap dalam beberapa hari mendatang.

Penelitian lebih lanjut dan data dari orang dengan infeksi varian Delta Plus juga diperlukan untuk memeriksa karakteristik atau keparahan COVID-19.

Penerapan protokol kesehatan tetap harus tertib dilakukan sebagai bentuk pencegahan awal dari infeksi virus COVID-19.

Selama pandemi masih berlangsung, beberapa protokol kesehatan yang masih harus diterapkan adalah selalu menggunakan masker, rutin mencuci tangan, dan jaga jarak di tempat umum. Apabila terinfeksi, pastikan untuk segera melakukan perawatan bersama dokter atau isolasi secara mandiri.

Baca juga: Beredar Permen Jahe yang Diklaim Bisa ‘Melarutkan’ Virus COVID-19, Hoax atau Fakta?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. The Indian Express (2021), diakses 28 Juli 2021. Covid-19 Delta Plus variant: Important things you need to know
  2. National Geographic (2021), diakses 28 Juli 2021. How dangerous is the new Delta Plus variant? Here’s what we know.
  3. Medical News Today (2021), diakses 28 Juli 2021. Delta plus variant of SARS-CoV-2: How does it compare with the delta variant?
  4. MPNRC (2021), diakses 28 Juli 2021. Delta Plus Variant Symptoms, Cause, Precaution, Treatment
  5. CNBC (2021), diakses 28 Juli 2021. Beda Covid Varian Delta dengan Delta Plus
    register-docotr