Covid-19

Riset Menunjukkan Lansia Lebih Kecil Terkena COVID-19 untuk Kedua Kalinya

June 4, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Di masa pandemi COVID-19 ini kita dituntut untuk mengikuti informasi terbaru. Termasuk memahami istilah-istilah yang muncul, berkaitan dengan COVID-19. 

Misalkan saja memahami tes antibodi terkait COVID-19. Antibodi dibuat oleh tubuh untuk melawan infeksi. Tingkat antibodi ini bisa terlihat melalui tes antibodi, yaitu:

  • Antibodi IgM, yang terjadi di awal infeksi
  • Antibodi IgG, yang mungkin muncul setelahnya

Penelitian terkait antibodi dan COVID-19 berulang

Dilansir dari WebMd, kebanyakan orang memiliki antibodi IgG sekitar 14 hari setelah gejala awal dimulai. Antibodi tersebut akan menetap cukup lama di dalam tubuh walau infeksi telah hilang. 

Baru-baru ini dirilis sebuah penelitian yang mengungkap kaitan antara keberadaan antibodi IgG dan kemungkinan seseorang terpapar COVID-19 untuk kedua kalinya. 

Penelitian Vivaldi yang dilakukan oleh peneliti dari University of College London (UCL) Institute of Health Informatics ini, melakukan penelitian di 100 panti jompo di Inggris. 

Penelitian melibatkan penghuni beserta staf di panti, dengan waktu penelitian sejak Oktober 2020 hingga Februari 2021. 

Apa yang dilakukan dalam penelitian tersebut? 

Penelitian yang didanai oleh pemerintah Inggris itu melakukan tes antibodi kepada lebih dari 600 penghuni panti dan lebih dari 1000 staf panti jompo. 

Tes antibodi dilakukan dengan cara pengambilan sampel darah dari setiap peserta, untuk mengetahui tingkat antibodi IgG mereka. Tes antibodi ini dilakukan lebih awal, yaitu pada Juni 2020.

Setelahnya, dilakukan polymerase chain reaction (PCR) test setiap minggu untuk para staf dan setiap bulan untuk penghuni. Nantinya akan dilihat risiko paparan berulang dari orang-orang yang sudah pernah positif covid sebelumnya.

Temuan apa yang didapatkan?

Hasil penelitian yang diterbitkan menunjukkan penghuni yang sebelumnya sudah terpapar COVID-19 memiliki kemungkinan 85 persen lebih kecil untuk kembali positif covid. Sementara untuk staf, 60 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami covid berulang. 

Orang yang telah memiliki antibodi IgG dikaitkan dengan pengurangan risiko infeksi untuk kedua kalinya. Bisa disebutkan bahwa risiko menjadi kecil untuk para penghuni panti jompo beserta stafnya selama 10 bulan setelah infeksi pertama. 

“Ini benar-benar kabar baik bahwa infeksi akan melindungi secara alami dari infeksi berulang dalam periode tertentu. Risiko terinfeksi untuk kedua kalinya tampaknya sangat rendah,” kata Dr Maria Krutikov dari Welcome Trust Inggris, dilansir dari Daily Mail. 

Kabar ini juga melegakan karena penghuni panti jompo dikhawatirkan menjadi salah satu populasi yang rentan. Karena usia kelompok ini mungkin memiliki respons imun yang kurang kuat. 

“Temuan ini sangat penting karena kelompok rentan ini belum menjadi fokus banyak penelitian,” lanjut Krutikov. 

Risiko terpapar kembali tetap ada

Beberapa orang tadinya percaya bahwa setelah terkena COVID-19 dan sembuh, akan membuat mereka aman dari virus tersebut. Mereka percaya tidak akan tertular lagi. Tapi hal itu tidak benar karena seseorang mungkin untuk terserang kedua kalinya. 

Itu sebabnya harus dipahami, meski penghuni dan staf di panti jompo yang pernah COVID-19 memiliki risiko yang lebih kecil untuk terpapar untuk kedua kalinya, tapi kemungkinan itu tetap ada. 

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok lansia yang rentan ini dapat terlindungi hanya dengan mengandalkan antibodi alami dari tubuh mereka.

Dari penelitian juga diketahui, penghuni dan staf masih mungkin positif covid kembali setelah beberapa bulan. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah apakah perlindungan alami tersebut akan bertahan melawan varian virus baru yang terus bermunculan. 

Penelitian terkait perlindungan dari vaksinasi dan antibodi

Selain mengetahui kekuatan antibodi alami, vaksinasi juga dapat membantu mengurangi penularan SARS-CoV-2 di Inggris. Hingga saat ini, cakupan vaksinasi pada penduduk Inggris mendekati 100 persen. 

Selanjutnya penting untuk mengetahui tingkat perlindungan dari vaksin. Apakah vaksinasi dan antibodi alami memberikan tingkat perlindungan yang sebanding.

Hal ini disebut membutuhkan penelitian jangka panjang, yang akan kembali melibatkan penghuni panti jompo beserta stafnya. 

Bagaimanapun juga penelitian tentang COVID-19 dan perlindungan untuk kelompok yang rentan harus terus dilakukan. Karena hingga kini pandemi masih terjadi. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr