Covid-19

Perbedaan COVID-19 dan TBC: Ketahui Gejala, Cara Penularan, dan Obat untuk Mengatasinya!

May 20, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tuberkulosis (TBC) dan COVID-19 adalah dua penyakit yang sama-sama menyerang saluran pernapasan. Namun, tetap ada perbedaan COVID dan TBC yang membuat keduanya tidak sama, terutama dari gejala, cara penularan, dan pengobatan yang digunakan.

Lantas, apa perbedaan COVID dan TBC? Bagaimana mengenali masing-masing gejalanya? Serta, apa pengobatan yang digunakan untuk mengatasinya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Mungkinkah Virus Corona Menular Lewat Kentut? Ini Penjelasannya!

Sekilas tentang tuberkulosis dan COVID-19

Tuberkulosis adalah penyakit berupa infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Menurut data World Health Organization (WHO), tuberkulosis merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian teratas di seluruh dunia.

Pada umumnya, bakteri ini akan menyerang paru-paru terlebih dulu. Jika tak ditangani dengan tepat, bakteri bisa menyebar ke bagian tubuh dan jaringan lainnya melalui aliran darah.

Berbeda dengan tuberkulosis, COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Corona jenis SARS-CoV-2. Pada awal infeksinya, virus hanya menyerang sistem pernapasan bagian atas. Namun, seiring berjalannya waktu, virus dapat bergerak masuk dan menjangkau area yang lebih luas.

Hingga menjelang akhir Maret 2021, total kasusnya telah mencapai 124 juta jiwa di seluruh dunia, dengan tingkat kesembuhan 100 juta orang.

Baca juga: Bukan Cuma Batuk, Berikut Daftar Gejala TBC yang Perlu Kamu Waspadai!

Perbedaan COVID dan TBC dari cara penularan

Seseorang bisa tertular bakteri TBC hanya jika menghirup udara yang telah terkontaminasi oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dari droplet atau percikan mulut. Keberadaan ventilasi dan paparan sinar matahari bisa mengurangi konsentrasi paparan bakteri tersebut pada udara.

Sedangkan untuk COVID-19, penularannya bisa langsung dari percikan mulut pengidapnya. Sehingga, pembatasan jarak perlu dilakukan untuk menghindari paparan droplet yang keluar secara langsung dari sumbernya.

Kamu tidak bisa tertular TBC melalui jabat tangan, menyentuh dudukan toilet, dan memegang seprai yang digunakan bersama. Sedangkan untuk COVID-19, beberapa penelitian menyebutkan bahwa virus Corona bisa bertahan beberapa waktu pada permukaan benda.

Perbedaan COVID dan TBC dari gejalanya

Tuberkulosis dan COVID-19 memiliki gejala yang hampir mirip, tapi bisa dibedakan berdasarkan awal kemunculan dan lamanya bertahan. Kedua penyakit tersebut ditandai oleh gejala umum yang sama, seperti demam dan batuk.

Menurut penjelasan dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, pada pasien tuberkulosis, serangan atau onset akan muncul lebih dari 14 hari sejak infeksi pertama. Gejalanya meliputi:

  • Demam kurang dari 38° Celcius
  • Batuk berdahak
  • Bercak darah
  • Sesak napas memberat bertahap
  • Berat badan turun drastis
  • Berkeringat di malam hari

Sedangkan untuk COVID-19, gejala onset bisa muncul kurang dari 14 hari, seperti demam lebih dari 38° Celcius, batuk kering, sesak napas, nyeri sendi, pilek sakit kepala, serta hilangnya atau penurunan kemampuan penciuman dan pengecapan.

Baca juga: Kasus Corona Tanpa Gejala Banyak Ditemukan, Seperti Apa Ciri-cirinya?

Pengidap tuberkulosis yang terinfeksi COVID-19

Baik tuberkulosis dan COVID-19 sama-sama bisa menyerang siapa saja. Untuk pengidap tuberkulosis, hidup di tengah pandemi adalah sebuah tantangan tersendiri. Sebab, jika terinfeksi virus Corona, gejala yang dialami bisa lebih berat dan berkepanjangan.

Menurut sebuah publikasi pada Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, orang yang sedang mengidap tuberkulosis mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena COVID-19.

Dengan kata lain, tuberkulosis bisa menjadi penyakit bawaan (komorbid) yang memungkinkan seseorang lebih rentan terhadap infeksi virus Corona. Gejala yang dialami juga mungkin lebih berat, karena fungsi paru-paru pada pasien sudah terganggu.

Daya tahan yang lemah membuat tubuh tak cukup kuat dalam melawan masuknya virus Corona dari luar. Seseorang yang telah mengidap tuberkulosis lalu terinfeksi COVID-19 dikhawatirkan mempunyai risiko kematian lebih tinggi.

Oleh karena itu, penting untuk tetap melakukan pemeriksaan secara rutin bagi para pengidap tuberkulosis di tengah pandemi COVID-19. Pemerintah sendiri telah menegaskan tidak akan menghentikan layanan kepada pasien tuberkulosis di tengah wabah.

Perbedaan COVID dan TBC dalam pengobatannya

Dilihat dari penyebabnya, perbedaan COVID dan TBC juga bisa dilihat dari pengobatannya. Seperti yang telah disebutkan, COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, sedangkan TBC oleh bakteri. Berikut beberapa obat yang dipakai dalam penanganan keduanya:

Pengobatan untuk COVID-19

Hingga saat ini, para ilmuwan masih terus meneliti dan mencari formula obat yang tepat untuk mengatasi COVID-19. Bukan hanya antivirus, beberapa obat dari golongan kortikosteroid dan antibodi buatan juga dipakai dalam penanganan penyakit tersebut. Berikut daftar obatnya:

1. Remdesivir

Remdesivir adalah antivirus yang diberikan melalui infus intravena (IV) di rumah sakit. Obat ini dipakai untuk menangani pasien COVID-19 setelah Food and Drug Administration (FDA) memberikan persetujuan pada Oktober 2020. Obat ini diperuntukkan pasien 12 tahun ke atas.

Remdesivir masih terus diteliti terkait penggunaannya bersama obat lain dalam penanganan pasien COVID-19. Menurut satu penelitian, penggunaan remdesivir bersama baricitinib bisa membantu pasien COVID-19 pulih sekitar satu hari lebih cepat.

Selain itu, pasien yang mendapatkan obat tersebut juga memiliki peluang perbaikan gejala klinis hingga 30 persen. Namun, National Institutes of Health (NIH) saat ini hanya merekomendasikan penggunakaan baricitinib dan remdesivir jika kortikosteroid seperti deksametason tidak tersedia.

2. Deksametason

Obat berikutnya yang saat ini dipakai dalam penanganan pasien COVID-19 adalah deksametason. Obat ini masuk dalam golongan kortikosteroid, sudah dipakai sejak bertahun-tahun untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, termasuk autoimun dan reaksi alergi.

RECOVERY, sebuah uji klinis acak di Inggris, terus meneliti beberapa obat untuk penanganan pasien infeksi virus Corona, salah satunya adalah deksametasone. Para peneliti menemukan bahwa deksametason berdosis rendah berkontribusi dalam penurunan angka kematian.

Namun, saat ini, deksametason hanya digunakan untuk pasien COVID-19 yang mempunyai gejala berat. Obat ini sangat efektif untuk pasien yang menggunakan ventilator atau alat bantuan oksigen ekstra. Sedangkan untuk pasien bergejala ringan, deksametason tidak banyak membantu.

Selain itu, berdasarkan meta-analisis yang mengamatai temuan dari tujuh uji coba yang berbeda, tingkat kematian lebih rendah ditemukan pada pasien rawat inap yang mendapatkan dosis salah satu dari tiga kortikostiroid, yaitu deksametasone, hidrokortison, atau metilprednisolon.

3. Klorokuin

Klorokuin sebenarnya adalah obat yang digunakan untuk mengatasi malaria dan penyakit autoimun, sudah dipakai selama lebih dari 70 tahun. Penggunaan klorokuin sebagai obat COVID-19 sesudah adanya beberapa penelitian di awal pandemi.

Salah satu penelitian itu menyebutkan, klorokuin cukup efektif dalam melawan virus SARS-CoV-2. Namun, studi pada Februari 2021 menyimpulkan hasil lain, yaitu belum ada cukup bukti untuk menganggap bahwa klorokuin cukup efektif dalam penanganan pasien COVID-19.

4. Lopinavir dan ritonavir

Lopinavir dan ritonavir merupakan obat untuk mengatasi HIV. Hasil studi yang terbit di Journal of Korean Medical Science menyebutkan, seorang pria berusia 54 tahun di Korea mengalami penurunan konsentrasi virus SARS-CoV-2 di dalam tubuhnya setelah mendapat kombinasi dua obat tersebut.

Setelah itu, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kemungkinan ada manfaat yang signifikan dari penggunaan lopinavir dan ritonavir untuk mengatasi COVID-19, terutama jika dikombinasikan dengan obat lain.

5. Favilavir

Pada Februari 2021, Cina menyetujui penggunaan obat antivirus favilavir untuk mengatasi pasien bergejala klinis COVID-19. Favilavir, atau yang juga dikenal favipiravir, pada awalnya dikembangkan untuk mengobati peradangan di hidung dan tenggorokan.

Dalam uji klinis awal yang melibatkan 70 orang, didapatkan hasil bahwa obat tersebut cukup efektif dalam mengobati gejala COVID-19. Namun, menurut penelitian pada Januari 2021, efektivitas favilavir masih berada di bawah remsedivir.

6. Bamlanivimab

Bamlanivimab dirancang untuk memblokir virus SARS-CoV-2 memasuki dan menginfeksi sel manusia. Sebuah penelitian menyebutkan, pasien dengan gejala COVID-19 ringan hingga sedang yang mendapatkan bamlanivimab lebih kecil kemungkinannya untuk dirawat di rumah sakit.

Masih dari penelitian yang sama, penggunaan dosis 2.800 mg pada hari ke-11 diketahui dapat membantu membersihkan virus Corona lebih cepat. Namun, efeknya mungkin bisa lebih cepat dan optimal jika dikombinasikan dengan obat lain.

Pada 9 November 202, FDA mengeluarkan izin darurat penggunaan bamlanivimab untuk mengobati COVID-19, khusus untuk pasien berusia di atas 12 tahun yang bergejala ringan atau sedang.

7. Antibodi monoklonal (MAB)

Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan untuk membantu melawan infeksi. Bekerja dengan mengikat patogen asing seperti virus, lalu menghancurkannya. Antibodi monoklonal (MAB) merupakan antibodi yang dibuat di laboratorium.

Sebab, jika mengandalkan antibodi yang tercipta alami di dalam tubuh, butuh waktu bingga berminggu-minggu. Penggunaan MAB sendiri berpotensi membantu melawan infeksi lebih cepat.

FDA sudah mengeluarkan izin darurat penggunaan obat MAB untuk penanganan COVID-19 pada awal Oktober 2020.

8. Casirivimab dan imdevimab (REGN-COV2)

REGN-COV2 disebut sebagai ‘koktail antibodi’, karena terbuat dari kombinasi dua antibodi monoklonal, yaitu casirivimab dan imdevimab. Obat ini dilaporkan dapat mengurangi viral load dan meredakan gejala lebih cepat pada pasien COVID-19 yang tidak dirawat di rumah sakit.

Menurut sebuah laporan, dari 275 pasien COVID-19 yang mendapatkan dosis 2,4 dan 8 gr REGN-COV2 selama 6 hingga 8 hari, hasil menunjukkan ada peningkatan antibodi dan semakin banyak virus yang terbunuh di dalam tubuh.

Pada 21 November 2020, FDA menerbitkan izin darurat penggunaan casirivimab dan imdevimab sebagai pengobatan COVID-19, khusus untuk pasien berusia di atas 12 tahun yang bergejala ringan atau sedang. Sama seperti bamlanivimab, REGN-COV2 harus diberikan melalui infus.

Obat untuk tuberkulosis

Berbeda dengan COVID-19, obat untuk tuberkulosis dibedakan berdasarkan jenisnya, yaitu TB laten dan TB aktif. Ini juga berhubungan dengan aturan minum dan lama periode konsumsi obat. Karena disebabkan oleh bakteri, maka pengobatannya pakai antibiotik.

Pengobatan untuk TB laten

TB laten terjadi ketika ada bakteri pemicu TB di dalam tubuh, tapi tidak aktif. Artinya, pengidapnya tidak mengalami gejala apa pun. Bakteri pada pengidap TB laten juga tidak menular. Namun, kamu akan mendapatkan hasil positif dari tes darah dan kulit.

TB laten dapat berubah menjadi TB aktif pada 5 sampai 10 persen orang. Risikonya lebih tinggi bagi orang-orang yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah. Untuk pengobatannya, ada tiga pilihan yang kerap digunakan, yaitu:

  • Isoniazid (INH): Obat yang paling umum diresepkan oleh dokter untuk pasien TB laten, diminum setiap hari selama 9 bulan
  • Rifampisin: Obat ini dipilih ketika pasien mengalami efek samping dan kontraindikasi terhadap isoniazid. Rifampisin diminum setiap hari selama 4 bulan
  • Isoniazid dan rifapentine: Antibiotik yang diminum sekali dalam seminggu selama tiga bulan di bawah pengawasan dokter

Pengobatan untuk TB aktif

TB aktif adalah kondisi yang mengacu pada tuberkulosis itu sendiri, yaitu penyakit yang bergejala dan menular. Gejalanya bervariasi, tergantung tingkat keparahannya. Namun, gejala umum dari TB aktif meliputi penurunan berat badan, demam, panas dingin, dan mudah lelah.

Perlu diketahui, TB aktif dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan benar. Maka dari itu, pengidapnya harus mengonsumsi antibiotik selama 6 hingga 9 bulan. Ada empat obat yang biasanya diresepkan oleh dokter, yaitu etambutol, isoniazid, pyrazinamide, atau rifampisin.

Sebelum menetapkan antibiotik mana yang akan diresepkan, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih dulu untuk menentukan obat yang cocok.

Nah, itulah ulasan tentang perbedaan COVID dan TBC, baik dari gejala, cara penularan, dan pengobatannya. Penting untuk selalu menerapkan protokol kesehatan demi meminimalkan risiko penularan.

Jika merasakan salah satu gejala di atas, jangan ragu untuk hubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk memahami lebih jelas perbedaan COVID dan TBC, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. Komite Penanganan COVID-19 Nasional, diakses 23 Maret 2021, Waspada Tuberculosis di Tengah Pandemi, Ini Perbedaan dengan COVID-19.
  2. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 Maret 2021, Association between tuberculosis and COVID‐19 severity and mortality: A rapid systematic review and meta‐analysis.
  3. World Health Organization (WHO), diakses 23 Maret 2021, Tuberculosis.
  4. Worldometer, diakses 23 Maret 2021, Coronavirus Cases.
  5. Healthline, diakses 23 Maret 2021, Tuberculosis.
  6. Stop TB Indonesia, diakses 23 Maret 2021, Tuberkulosis & COVID-19.
  7. Nature, diakses 23 Maret 2021, COVID-19 rarely spreads through surfaces. So why are we still deep cleaning?.
  8. Healthline, diakses 20 Mei 2021, Types of Tuberculosis.
  9. Healthline, diakses 20 Mei 2021, Current Treatments for COVID-19.
  10. WebMD, diakses 20 Mei 2021, What’s the Treatment for Tuberculosis?
  11. Good RX, diakses 20 Mei 2021, The Latest Research on COVID-19 Treatments and Medications in the Pipeline.
  12. Food and Drug Administration (FDA), diakses 20 Mei 2021, FDA Approves First Treatment for COVID-19.
  13. Food and Drug Administration (FDA), diakses 20 Mei 2021, Coronavirus (COVID-19) Update: FDA Authorizes Monoclonal Antibodies for Treatment of COVID-19.
  14. New England Journal of Medicine, diakses 20 Mei 2021, Baricitinib plus Remdesivir for Hospitalized Adults with Covid-19.
  15. New England Journal of Medicine, diakses 20 Mei 2021, Dexamethasone in Hospitalized Patients with Covid-19.
  16. National Institutes of Health (NIH), diakses 20 Mei 2021, Kinase Inhibitors: Baricitinib and Other Janus Kinase Inhibitors, and Bruton’s Tyrosine Kinase Inhibitors.
  17. JAMA Network, diakses 20 Mei 2021, Association Between Administration of Systemic Corticosteroids and Mortality Among Critically Ill Patients With COVID-19.
  18. Nature, diakses 20 Mei 2021, Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro.
  19. Cochrane Library, diakses 20 Mei 2021, Chloroquine or hydroxychloroquine for prevention and treatment of COVID‐19.
  20. Journal of Korean Medical Science, diakses 20 Mei 2021, Case of the Index Patient Who Caused Tertiary Transmission of Coronavirus Disease 2019 in Korea: the Application of Lopinavir/Ritonavir for the Treatment of COVID-19 Pneumonia Monitored by Quantitative RT-PCR.
  21. UPI, diakses 20 Mei 2021, China approves antiviral favilavir to treat coronavirus.
  22. ACS Publication, diakses 20 Mei 2021, Modeling the Binding Mechanism of Remdesivir, Favilavir, and Ribavirin to SARS-CoV-2 RNA-Dependent RNA Polymerase.
  23. Regeneron, diakses 20 Mei 2021, REGENERON’S REGN-COV2 ANTIBODY COCKTAIL REDUCED VIRAL LEVELS AND IMPROVED SYMPTOMS IN NON-HOSPITALIZED COVID-19 PATIENTS.
  24. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 20 Mei 2021, SARS-CoV-2 Neutralizing Antibody LY-CoV555 in Outpatients with Covid-19.

    register-docotr