Covid-19

Penelitian: Vaksin Sinovac Berhasil Tekan Kematian hingga 90 Persen di Brasil

June 4, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Pemberian vaksin COVID-19 masih gencar dilakukan sampai saat ini. Terdapat banyak jenis vaksin yang tersedia dan kemanjuran berbeda-beda, termasuk di Brasil yang diketahui berhasil menekan angka kematian.

Dalam hal ini, kemudian dilakukan penelitian untuk mengetahui kebenaran dari keefektifan vaksin tersebut. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai vaksin Sinovac yang diberikan di Brasil yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Muncul Varian Baru Virus COVID-19, Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Efikasi Vaksin?

Benarkah vaksin Sinovac bisa menekan angka kematian di Brasil?

Dilansir dari Hindustan Times, vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech Ltd diketahui efektif dalam mengendalikan COVID-19 di sebuah kota kecil di Brasil. Studi inokulasi massal dilakukan setelah 75 persen orang dewasa diberi suntikan vaksin COVID-19 dosis kedua.

Studi ini dipimpin oleh Institut Butantan, yang memproduksi CoronaVac milik Sinovac di Brasil. CoronaVac menunjukkan kemanjuran yang mengesankan dalam mencegah varian SARS-CoV-2 yang ditemukan di Brasil.

Hal ini diketahui dari data yang menunjukkan bahwa kematian dan rawat inap yang disebabkan virus corona di kota Serrana, wilayah Ribeirão Preto masing-masing turun 95 persen dan 86 persen setelah hampir 60 persen penduduknya divaksinasi.

Populasi Serrana yang diinokulasi dengan CoronaVac juga menunjukkan penurunan yang signifikan sebesar 80 persen dalam kasus bergejala. Karena itu, pemberian vaksin ini terbukti sangat efektif dan bermanfaat untuk kehidupan lebih lanjut.

Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan

Studi klinis efektivitas Project S, merupakan studi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana dikoordinasikan oleh Butantan Institute, pusat penelitian ilmiah yang didanai negara dan mitra Sinovac di Brasil.

Selama depalam minggu, antara Februari dan April sekitar 27.000 penduduk kota menerima dua dosis CoronaVac dengan jeda 28 hari antara dosis pertama dan kedua.

Ini mewakili cakupan sekitar 95 persen dari populasi penduduk dewasa menurut sensus kesehatan yang dilakukan oleh Butantan.

Secara total, kota kecil di Brasil, Serrana memiliki populasi sekitar 45.000 yang berarti tingkat vaksinasi selama studi Project S mendekati 60 persen. Hasilnya datang dengan perbandingan data setelah vaksinasi semua kelompok selesai dan trimester dievaluasi.

Kesimpulan penting lainnya dari penelitian ini yakni insiden COVID-19 di Serrana dibandingkan dengan kota-kota terdekat. Serrana diketahui memiliki sekitar 10.000 penduduk bekerja di Ribeirão Preto setiap harinya.

Kota Ribeirão Preto dan kota-kota lainnya di kawasan ini menunjukkan tingkat kasus COVID-19 yang tinggi. Namun, Serrana berhasil mempertahankan angka kasus COVID-19 yang rendah dibandingkan dengan kota-kota tersebut berkat pemberian vaksin kepada penduduknya.

Fakta tentang vaksin Sinovac

Perusahaan swasta China Sinovac mengembangkan vaksin virus corona. Vaksin ini disetujui untuk digunakan di China dan diizinkan untuk penggunaan darurat. Terdapat beberapa fakta penting mengenai vaksin Sinovac ini, yaitu sebagai berikut:

Khasiat vaksin

Dalam uji coba di Brasil, penelitian menemukan khasiat terhadap infeksi dengan atau tanpa gejala sebesar 50,65 persen. Dalam uji coba di Turki, peneliti menemukan khasiat dari vaksin ini sebesar 91,25 persen terhadap infeksi COVID-19 dengan gejala.

Vaksin terbuat dari virus corona

CoronaVac bekerja dengan mengajarkan sistem kekebalan tubuh untuk membuat antibodi terhadap virus corona SARS-CoV-2. Antibodi ini akan menempel pada protein virus atau disebut protein lonjakan yang menempel di permukaannya.

Untuk membuat CoronaVac, para peneliti Sinovac memulai dengan mengambil sampel virus corona dari pasien di China, Inggris, Italia, Spanyol, dan Swiss. Satu sampel dari China pada akhirnya menjadi dasar dalam pembuatan vaksin Sinovac.

Cara kerja vaksin

Para peneliti menumbuhkan stok besar virus corona dalam sel ginjal monyet. Kemudian, peneliti menyiram virus dengan bahan kimia yang disebut dengan beta-propiolactone.

Senyawa ini akan menonaktifkan virus corona dengan mengikat gen. Virus corona yang tidak aktif menjadi sulit untuk bereplikasi. Namun, protein dalam virus termasuk spike akan tetap utuh.

Para peneliti kemudian mengeluarkan virus yang tidak aktif dan mencampurkannya dengan sejumlah kecil senyawa berbasis aluminium bernama adjuvant. Adjuvant ini merangsang sistem kekebalan untuk meningkatkan responnya terhadap vaksin.

Baca juga:  Ini Dia Sederet Bahaya Varian Ganas B1617 Asal India

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
register-docotr