Covid-19

Kebotakan jadi Faktor Risiko Infeksi COVID-19 Parah? Ini Penjelasannya!

May 9, 2021 | Richaldo Hariandja | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Berbagai faktor risiko terhadap penyakit COVID-19 terus dikaji. Beberapa faktor risiko menyasar hanya pada salah satu jenis kelamin saja, salah satunya adalah kondisi kebotakan yang umum dialami oleh pria.

Beberapa penelitian menyebut pria yang mengalami kebotakan rentan menderita infeksi COVID-19 yang lebih parah. Hal ini dipengaruhi oleh androgen yang kerap melatarbelakangi kebotakan pria.

Baca juga: Kebotakan Dini Dapat Terjadi pada Pria di Usia Muda, Apa Penyebabnya?

Apa itu androgen?

Androgen adalah sekelompok hormon seksual yang membentuk karakteristik pria. Hormon seksual paling utama pada pria adalah testosteron, yang diproduksi di testis.

Androgen sendiri memainkan peranan penting dalam fungsi reproduksi dan seksualitas pria. Kelompok hormon ini bertanggung jawab terhadap pembentukan karakteristik seksual sekunder pada pria, antara lain:

  • Pertumbuhan rambut di wajah dan badan
  • Perubahan suara
  • Memengaruhi perkembangan tulang, otot dan metabolisme

Androgen dan kebotakan

Androgenetic alopecia merupakan kondisi umum yang terjadi saat pria ataupun wanita mengalami kerontokan rambut. Pada pria, kondisi ini disebut juga dengan pola kebotakan pria. 

Karena polanya secara umum sama, rambut bagian atas kepala menipis dengan sisi-sisinya menghilan dan membentuk huruf ‘M’.

Bentuk kebotakan yang terjadi ini erat kaitannya dengan salah satu hormon androgen, yaitu dihydrotestosterone (DHT). DHT sendiri terbuat dari testosteron yang dipengaruhi oleh enzim 5-alpha reductase dan lebih kuat 5 kali daripada testosteron.

Kebotakan terjadi karena aksi dari DHT dan sensitivitas folikel rambut. Hal ini dipengaruhi oleh reseptor androgen yang fungsinya untuk merespons DHT dan androgen lainnya. 

Kebotakan dan COVID-19

Penelitian terbaru melakukan kajian terhadap 65 pria yang mengalami infeksi COVID-19 di Amerika Serikat. Di sana, pasien yang memiliki tingkat sensitivitas androgen yang tinggi mengalami gejala COVID-19 yang parah dalam waktu 60 hari saat dirawat di rumah sakit.

Dalam hal ini sensitivitas androgen dihitung berdasarkan zat kimia yang bernama CAG. Salah satu peneliti, Dr Andy Goren, menyebut level CAG ini dapat dipakai untuk mengetahui apakah pria yang terkena COVID-19 berisiko masuk ke ICU.

Pasalnya, dalam penelitian disebutkan kalau pria yang memiliki CAG tinggi rata-rata menghabiskan 47 hari di rumah sakit dan 70,6 persennya masuk ke ICU. 

Sementara yang memiliki level CAG rendah hanya menghabiskan 25 hari saja di rumah sakit dengan hanya 45,2 persen yang masuk ke ICU.

Kenapa kebotakan bisa membuat pria menderita COVID-19 parah?

Korelasi antara kebotakan dan gejala COVID-19 yang parah bukan hanya ditemukan oleh penelitian ini saja, tapi beberapa penelitian sebelumnya pun menyuarakan hal yang sama. Kesimpulannya, virus corona bereaksi terhadap androgen.

Dalam hal ini androgen menjadi pintu masuk untuk lebih mendorong kemampuan virus corona menyerang sel tubuh manusia. Karena itu, thesun.co.uk menyebut hal ini bisa jadi jawaban kenapa banyak pria yang meninggal karena COVID-19 ketimbang wanita.

Dipengaruhi usia

Melihat hal ini, pria tentu harus waspada. Pasalnya, sekitar 50 persen pria di atas 50 tahun mengalami kebotakan dengan tingkat yang berbeda-beda. Kebotakan juga dipengaruhi oleh usia, karena seiring pertambahan usia, maka tingkat kebotakan pun akan bertambah.

Hal ini juga disebutkan dalam penelitian di Spanyol yang juga mengkaji korelasi kebotakan dan tingkat keparahan COVID-19. Peneliti menyebut kalau usia menjadi faktor yang menunjukkan aktivitas dari androgen.

Peneliti berkesimpulan baik androgen dan usia menjadi faktor risiko tingkat keparahan COVID-19 yang perlu diwaspadai.

Gabrin sign

Penelitian yang dilakukan di Spanyol ini pun memperkenalkan istilah baru ‘Gabrin sign’ yang dipakai untuk mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi gejala COVID-19 yang parah berdasarkan tingkat kebotakan atau aktivitas androgen mereka.

Istilah ini diambil sebagai bentuk apresiasi terhadap fisikawan asal Amerika Serikat, Dr Frank Gabrin yang meninggal karena COVID-19 akut yang parah. Dr Gabrin sendiri dikatakan menderita androgenetic alopecia dan penyintas kanker testis bilateral.

Demikianlah berbagai penjelasan tentang COVID-19 dan kebotakan yang untuk saat ini disebut berkaitan. Selalu jaga kesehatan diri kamu di masa pandemi, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. Thesun.co.uk, diakses 08 Mei 2021. Bald men are twice as likely to suffer severe Covid, experts warn
  2. National library of medicine, diakses 08 Mei 2021. Male balding is a major risk factor for severe COVID-19
  3. National library of medicine, diakses 08 Mei 2021. Androgenetic alopecia present in the majority of patients hospitalized with COVID-19: The “Gabrin sign”
  4. Medlineplus.gov, diakses 08 Mei 2021. Androgenetic alopecia
  5. Healthline, diakses 08 Mei 2021. Hair Loss and Testosterone
  6. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/androgen-deficiency-in-men
    register-docotr