Covid-19

Fakta di Balik Anak-Anak Bisa Jadi Silent Carrier Penyebaran COVID-19

December 15, 2020 | Anisya Fitrianti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Tahukah kamu saat ini para peneliti menemukan bahwa anak-anak ternyata dapat menjadi silent carrier penyebaran COVID-19 di masyarakat? 

Terlebih setelah di beberapa negara sekolah dan kegiatan belajar-mengajar tatap muka kembali dilakukan angka penyebaran ditemukan meningkat.

Bahkan sebuah penelitian, menunjukkan lebih dari sepertiga anak yang terinfeksi COVID-19 tidak menunjukkan gejala apapun. Hal ini membuat anak-anak lebih mudah menularkan virus ini pada orang lain tanpa disadari.

Lantas sebenarnya bagaimana proses penyebaran COVID-19 oleh anak? Adakah cara untuk melindungi anak agar terpapar atau menularkan virus? Ketahui informasi selengkapnya di bawah ini. 

Anak-anak memiliki viral load yang tinggi

Dari riset Journal of Pediatrics, dari 192 anak dengan rentang usia 0-22 tahun, 49 anak dinyatakan positif terinfeksi SARS-CoV-2. Sementara sebanyak 18 anak lainnya mengalami onset virus yang lebih lama. 

Para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak cenderung memiliki viral load atau jumlah virus yang tinggi di saluran pernapasannya. Bahkan jumlah virus tersebut diketahui lebih tinggi dibandingkan dengan viral load orang dewasa dengan perawatan intensif akibat infeksi COVID-19.

Para peneliti juga mengingatkan, ketika viral load seseorang semakin tinggi, risiko penularannya akan semakin tinggi dan semakin mudah.

Jumlah virus dalam tubuh anak tidak bergantung pada gejala yang dimiliki. Anak dengan atau tanpa gejala, sama-sama bisa memiliki jumlah virus yang tinggi. Inilah alasan anak-anak disebut dapat menjadi silent carrier dari virus penyebab COVID-19.

Baca juga: Waspadai Sindrom Inflamasi Multisistem (MIS-C) pada Anak yang Pernah Terinfeksi COVID-19

Berisiko meningkatkan angka penyebaran virus

Anak-anak memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk sakit parah setelah terpapar COVID-19. Namun, tingginya viral load pada anak akan dengan mudah meningkatkan angka penyebaran virus.

Para peneliti mencatat bahwa anak-anak yang terpapar COVID-19, baik tanpa gejala atau dengan gejala, berisiko tinggi membawa virus. Bahkan menyebarkan infeksi baik di kawasan sekolah maupun rumah.

Hal ini tentu menjadi perhatian khusus terutama keluarga dengan sosial ekonomi rendah serta memiliki anggota keluarga lansia yang tinggal di dalam satu rumah. 

Pasalnya, menurut riset Mass General Hospital for Children, Boston, Amerika, 51 persen anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 akut diketahui berasal dari keluarga dengan penghasilan rendah.

Kondisi tersebut tentu akan mempermudah dan memperparah penyebaran virus di masyarakat. 

Baca juga: Begini Saran WHO Soal Pemakaian Masker untuk Anak saat Pandemi COVID-19

Cara melindungi anak agar tidak tertular atau menyebarkan COVID-19

Dilansir dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC Amerika Serikat, ada beberapa langkah bagi orangtua supaya anak tidak tertular maupun menularkan virus penyebab COVID-19.

Berikut langkah-langkah pencegahannya:

  • Pastikan anak sering mencuci tangan. Untuk mencegah paparan serta penyebaran COVID-19, anak harus mencuci tangan dengan sabun dan air bersih selama 20 detik. Bila sabun dan air tidak tersedia, pastikan anak menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol setidaknya 60 persen.
  • Ajarkan anak untuk menerapkan etika batuk dan bersin. Seperti menutup hidung dan mulut dengan tisu saat bersin atau batuk, membuang tisu ke tempat sampah terdekat, dan mencuci tangan setelah membuangnya.
  • Hindari kontak dekat. Anak harus menjaga jarak aman setidaknya 1,8 meter dari orang lain yang tidak tinggal bersama. Termasuk saat ada kunjungan keluarga atau teman.
  • Anak harus memakai masker. Anak-anak berusia 2 tahun ke atas harus memakai masker. Pastikan anak memakai masker dengan benar saat berada di tempat umum dan saat berada di sekitar orang yang tidak tinggal bersama. 
  • Menghindari bermain dengan anak lain di dalam ruangan. Saat anak memiliki jadwal untuk bermain atau playdate, pastikan anak melakukannya di ruangan terbuka (outdoor) dan menjaga jarak aman dengan anak lain. Bila perlu, lakukan playdate secara virtual, dengan begitu risiko paparan virus jauh lebih rendah. 
  • Rutin melakukan desinfeksi. Bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh setiap hari, seperti gagang pintu, saklar lampu, meja, toilet dan sebagainya. 
  • Rutin mencuci mainan anak. Mainan anak juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Cucilah mainan anak sesuai dengan petunjuk yang tertera. 
  • Menunda perjalanan jarak jauh. Bepergian dapat meningkatkan peluang anak terpapar atau menularkan virus. Untuk itu, tinggal di rumah adalah cara terbaik untuk melindungi anak.

Para peneliti juga menyarankan agar sekolah tidak hanya mengandalkan pemantauan suhu tubuh untuk mengidentifikasi COVID-19 di lingkungan sekolah.

Skrining yang rutin dan berkelanjutan pada para siswa dan staf sekolah direkomendasikan untuk mengendalikan penyebaran virus secara signifikan.

Sekolah juga bertanggung jawab untuk menekankan jaga jarak aman, penggunaan masker dan mencuci tangan. Selain itu, mengombinasikan pembelajaran jarak jauh dengan pembelajaran langsung agar kegiatan belajar yang dilakukan anak bisa berlangsung dengan aman.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk download aplikasi Good Doctor di sini .

Reference
    register-docotr