Covid-19

Efikasi Vaksin Pfizer Turun setelah 6 Bulan, Perlukah Booster?

July 30, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Vaksin Pfizer merupakan salah satu vaksin yang memiliki efikasi tinggi. Akan tetapi, baru-baru ini tingkat efikasi vaksin Pfizer dikatakan menurun setelah 6 bulan. Lantas, bagaimana fakta selengkapnya? Dan perlukan booster?

Nah, untuk mengetahui informasi selengkapnya simak penjelasannya di bawah ini.

Baca juga: Simak, Ini Perbedaan Gejala COVID-19 pada Orang yang Sudah Divaksin dan Belum

Sekilas mengenai vaksin Pfizer

Vaksin Pfizer-BioNTech adalah salah satu vaksin COVID-19.

Perlu kamu ketahui bahwa Pfizer Inc. adalah salah satu perusahaan biofarmasi terbesar di dunia. Sementara itu, BioNTech merupakan perusahaan bioteknologi Jerman. Keduanya, menciptakan vaksin ini.

Vaksin Pfizer bekerja dengan cara memperkenalkan molekul ke sel atau yang dikenal sebagai messenger RNA (mRNA). Nah, molekul tersebut mengajarkan sel untuk membuat protein dari virus penyebab COVID-19, yakni SARS-CoV-2.

Kemudian, tubuh akan mendeteksi protein tersebut dan memicu respons imun. Dengan demikian, hal tersebut menciptakan antibodi, serta kekebalan yang bertahan lebih lama untuk melawan infeksi SARS-CoV-2 di masa mendatang.

Efikasi vaksin Pfizer menurun menjadi 84 persen

Vaksin Pfizer terus menunjukkan perlindungan yang kuat terhadap penyakit serius dan rawat inap selama 6 bulan. Namun, perlindungan keseluruhan terhadap virus tampaknya menurun setelah setengah tahun.

Menurut CEO Pfizer, Albert Bourla, efikasi vaksin Pfizer terus menurun dari waktu ke waktu menjadi sekitar 84 persen setelah empat hingga enam bulan pasca-mendapatkan dosis kedua. Hal tersebut berdasarkan studi baru yang didanai oleh perusahaan.

Studi tersebut menemukan efikasi vaksin paling kuat berada pada angka 96,2 persen hanya bertahan satu minggu hingga dua bulan setelah menerima dosis kedua. Rata-rata penurunan efikasi terjadi sekitar 6 persen setiap dua bulan.

“Kami melihat data dari Israel bahwa ada penurunan antibodi dan itu mulai berdampak pada 100 persen rawat inap,” ungkap Bourla.

Baca juga: Varian Delta Plus Mulai Masuk Indonesia, Bagaimana Gejala dan Seberapa Bahayanya?

Perlukah booster?

Terkait dengan hal tersebut, salah satu yang kini menjadi pertanyaan adalah apakah diperlukan booster atau tidak. Bourla meyakini bahwa dosis ketiga atau booster akan memberikan respons imun ke tingkat yang cukup untuk melindungi dari varian Delta.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa secara resmi Pfizer berencana untuk menyerahkan data ke regulator Amerika Serikat (AS) mengenai manfaat vaksin booster atau dosis ketiga. Adapun penyerahan data rencananya akan dilakukan pada pertengahan Agustus.

Penting untuk diketahui bahwa berdasarkan data terbaru dari Pfizer, dosis ketiga atau booster dari vaksin mampu meningkatkan tingkat antibodi penetralisir terhadap varian Delta lebih dari 5 kali lipat.

Hal ini dibandingkan dengan tingkat setelah dosis kedua pada kelompok yang berusia 18-55 tahun.

Di samping itu, respons imun dosis ketiga juga tampak lebih kuat, yakni lebih dari 11 kali lebih tinggi dibandingkan dengan suntikan kedua di antara orang-orang yang berusia 65-85 tahun.

Peningkatan perlindungan lebih tinggi terhadap varian Delta setelah dosis ketiga

Terkait dengan temuan tersebut, perusahaan mencatat hal tersebut bisa berarti peningkatan sebesar 100 kali lipat dalam perlindungan terhadap varian Delta setelah pemberian dosis ketiga. Adapun temuan tersebut diuraikan dalam sebuah laporan Pfizer.

Sebagai informasi, data yang terkumpul melibatkan beberapa partisipan. Untuk kelompok yang berusia 18-55 tahun, ini melibatkan 11 orang. Sementara itu, pada kelompok berusia 65-85 tahun melibatkan 12 orang.

Menurut presiden dari Worldwide Research, Development and Medical Organization Pfizer, Mikael Dolsten, MD, data awal tersebut sangat menggembirakan. Sebab, seperti yang sudah diketahui bahwa varian Delta saat ini terus menyebar.

Meskipun demikian, World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini masih belum merekomendasikan suntikan booster. Sebab, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Direktur imunisasi, vaksin, dan biologi WHO, Dr. Kate O’Brien, mengatakan bahwa hingga saat ini masih belum ada informasi yang cukup untuk memberikan sebuah rekomendasi.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai efikasi vaksin Pfizer. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, jangan lupa selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya.

Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait dengan COVID-19, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Detik.com (2021). Diakses pada 29 Juli 2021. Efikasi Vaksin Pfizer Turun Setelah 6 Bulan, Butuh Booster 

Medical News Today (2021). Diakses pada 29 Juli 2021. The Pfizer vaccine for coronavirus 

MedRXiV (2021). Diakses pada 29 Juli 2021. Six Month Safety and Efficacy of the BNT162b2 mRNA COVID-19 Vaccine 

U.S. News (2021). Diakses pada 29 Juli 2021. Pfizer Vaccine Protection Declines After Six Months, Boosters Protect Against Delta Variant

Webmd (2021). Diakses pada 29 Juli 2021. Pfizer Vaccine Protection Wanes After 6 Months Study Finds 

 

    register-docotr