Covid-19

Cegukan Disebut-sebut sebagai Gejala Baru COVID-19, Bagaimana Faktanya?

January 7, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Penambahan kasus baru COVID-19 hingga kini masih terus terjadi. Gejala baru dari virus corona pun terus bermunculan. Bahkan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa cegukan merupakan salah satu gejala baru COVID-19.

Benarkah bahwa cegukan kini menjadi salah satu gejala COVID-19? Simak penjelasannya berikut ini!

Baca juga: Mengenal Parosmia: Gejala Baru COVID-19

Penelitian mengenai cegukan sebagai gejala baru COVID-19

Baru-baru ini beberapa studi kasus menunjukkan bahwa cegukan yang terjadi secara terus-menerus mungkin merupakan gejala COVID-19 yang langka atau tidak biasa.

Dalam studi kasus tahun 2020, seorang pria yang berusia 64 tahun diketahui mengalami cegukan terus-menerus sebagai satu-satunya gejala COVID-19. Pria tersebut mengunjungi klinik rawat jalan setelah mengalami cegukan selama 72 jam.

Baik tes darah maupun tes pencitraan paru-paru telah dilakukan. Bukti mengenai infeksi paru-paru serta sel darah putih rendah pun telah diungkap. Di sisi lain, pengujian lanjutan untuk COVID-19 melalui tes RT-PCR menunjukkan bahwa pasien tersebut positif COVID-19.

Kasus lainnya

Kasus COVID-19 yang disertai dengan cegukan pada pria berusia 64 tahun tersebut ternyata bukanlah merupakan kasus pertama. Pada studi kasus lain di tahun yang sama, seorang pria berusia 62 tahun pun mengalami cegukan sebagai gejala COVID-19.

Dalam kasus ini, seorang pria memiliki riwayat medis diabetes, hipertensi, serta penyakit jantung koroner. Pria tersebut mendatangi IGD dengan keluhan utama penurunan berat badan serta cegukan. Cegukan yang ia alami berlangsung selama 4 hari.

Pemeriksaan lebih lanjut pun mengungkapkan temuan serupa pada kondisi paru-paru. Jumlah sel darah putih serta trombosit juga rendah. Di sisi lain, tes COVID-19 juga dilakukan dan telah dikonfirmasi sebagai diagnosis positif.

Meskipun demikian, cegukan sebagai gejala COVID-19 merupakan kondisi yang langka.

Gejala utama virus corona

Mengutip dari laman Express, National Health Service (NHS) sendiri telah mengungkapkan tiga gejala utama, ini termasuk:

  • Suhu tubuh tinggi
  • Batuk terus-menerus. Batuk terjadi lebih dari 1 jam atau mengalami 3 atau lebih episode batuk dalam kurun waktu 24 jam
  • Kehilangan atau perubahan pada indra penciuman serta perasa

Di sisi lain, terdapat beberapa gejala lainnya yang perlu diperhatikan, ini termasuk:

  • Nyeri pada otot atau tubuh
  • Sesak napas
  • Kesulitan untuk bernapas
  • Diare

Gejala COVID-19 dapat muncul dalam kurun waktu 2-14 hari setelah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Gejala dapat berkisar dari asimtomatik (tidak ada gejala sama sekali) hingga gejala parah. Demikian dilansir Healthline.

Baca juga: Alasan Anak-anak Tak Masuk Daftar Prioritas Penerima Vaksin COVID-19

Serba-serbi cegukan

Melansir dari laman Mayo Clinic, cegukan adalah kontraksi diafragma yang tidak disengaja. Diafragma adalah otot yang terletak di bawah paru-paru, yang memisahkan rongga dada dan perut serta berperan penting dalam proses pernapasan.

Pada tiap kontraksi yang terjadi, ini diikuti dengan penutupan pita suara yang terjadi secara tiba-tiba, sehingga menghasilkan suara cegukan yang khas.

Cegukan sendiri bisa dipicu oleh beberapa faktor, ini termasuk:

  • Stres
  • Perasaan yang kuat, seperti kegembiraan yang terjadi secara tiba-tiba
  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman berkarbonasi
  • Makan dalam porsi besar
  • Perubahan suhu secara tiba-tiba

Apa yang membedakan cegukan sebagai gejala COVID-19 dengan cegukan biasa?

Pada umumnya, cegukan berlangsung selama beberapa detik atau menit dan biasanya dapat hilang dengan sendirinya. Namun pada kasus yang jarang terjadi, cegukan dapat berlangsung selama lebih dari 48 jam. Ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kondisi medis tertentu.

Cegukan yang terjadi secara terus-menerus dan berlangsung selama lebih dari 48 jam perlu diperhatikan. NHS sendiri menyarankan untuk segera menemui dokter jika cegukan bertahan lebih dari 48 jam atau cegukan sering muncul kembali.

Bagaimana cara mencegah penyebaran COVID-19?

Sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19, penerapan protokol kesehatan pun harus selalu dipatuhi. Berikut adalah pedoman dari Centers for Disease Control dan Prevention (CDC) sebagai langkah untuk melindungi diri sendiri serta mencegah penyebaran COVID-19:

  • Mengenakan masker
  • Menjaga jarak minimal 1,5-2 meter ketika berada di tempat umum atau ketika berada di sekitar orang yang tidak tinggal serumah
  • Sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik
  • Menerapkan etika batuk dan bersin

Itulah beberapa informasi mengenai cegukan sebagai gejala baru COVID-19. Sebagai upaya pemutusan mata rantai COVID-19, selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diakses pada 06 Januari 2020. How to Protect Yourself & Others 

Express (2021). Diakses pada 06 Januari 2021. Covid new strain: Persistent hiccups could be a symptom of the new coronavirus 

Healthline (2020). Diakses pada 06 Januari 2021. Could Your Hiccups Be a Sign of the New Coronavirus? 

Mayo Clinic (2017). Diakses pada 06 Januari 2021. Hiccups

NHS (2020). Diakses pada 06 Januari 2021. Hiccups 

Zahran Mohamed (2020). Diakses pada 06 Januari 2021. Persistent Hiccups as atypical presentation of COVID-19: a Case Report. Research Square (diakses pada 06 Januari 2021)

Prince, Garrett, MD dan Michelle Sergel (2020). Persistent hiccups as an atypical presenting complaint of COVID-19. NCBI (diakses pada 06 Januari 2021)

 

    register-docotr