Covid-19

Benarkah WFH di Saat Pandemi COVID-19 Meningkatkan Risiko Kematian Dini?

June 1, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) adalah pilihan yang diambil banyak perusahaan untuk tetap bisa produktif di tengah pandemi COVID-19.

Di satu sisi, WFH adalah solusi baik di tengah pandemi. Tapi di sisi lain, WFH menimbulkan kekhawatiran lain terkait kondisi terlalu banyak pekerjaan. 

Bekerja dari rumah dan pola kerja yang buruk

Menurut Times of India, bekerja dari rumah, walau nyaman tetapi dapat membuat seseorang bekerja lebih lama dari seharusnya. Belum lagi hilangnya batas waktu untuk bekerja dan kehidupan pribadi. Terkadang beban pekerjaan juga menjadi lebih besar.

Akhirnya terjadi kondisi terlalu banyak pekerjaan. Di mana kondisi ini dikaitkan dengan bahaya kesehatan. Kesehatan dapat menurun, terkena penyakit serius bahkan bisa menyebabkan kematian. 

Overworking di tengah pandemi COVID-19

Bekerja dari rumah menjadi hal yang lumrah di masa pandemi. Di mana kondisi itu mengaburkan batas antara rumah dan pekerjaan.

Meski begitu, tidak banyak pilihan yang bisa diambil perusahaan, mengingat pandemi membuat pengusaha harus mengurangi kebutuhan operasional untuk menghemat uang. 

Tapi ternyata bekerja dari rumah membuat seseorang lebih lama bekerja. Waktu kerja yang panjang itu ternyata dapat menyebabkan kondisi yang serius. Salah satunya dapat meningkatkan risiko serangan stroke atau penyakit jantung

“Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan risiko stroke atau penyakit jantung. Pemerintah, pemberi kerja, dan pekerja perlu bekerja sama untuk menyetujui batasan untuk melindungi kesehatan pekerja,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO). 

Bekerja dari rumah dan kondisi kesehatan serius

Seperti yang sudah disebutkan di atas, jika bekerja dari rumah dapat meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Bahkan dapat menyebabkan kematian dini. 

WHO pun mengungkapkan bahwa jam kerja yang panjang, menyebabkan 745 ribu kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik pada 2016 lalu. 

Jumlah tersebut meningkat hingga 29 persen sejak tahun 2000. Kondisi ini dikaitkan dengan jam kerja yang panjang saat WFH. 

WHO juga mengungkapkan bahwa sebuah studi menyimpulkan bekerja 55 jam atau lebih per minggu dikaitkan dengan perkiraan risiko stroke yang lebih tinggi sekitar 35 persen.

Selain itu, bekerja 55 jam atau lebih per minggu juga dikaitkan dengan kematian akibat penyakit jantung iskemik.

Angka kematian akibat jantung iskemik pada orang yang bekerja 55 jam atau lebih per minggu lebih tinggi 17 persen dibanding dengan orang yang hanya bekerja 35 hingga 40 jam per minggu. 

Bekerja dari rumah dan tindakan melindungi kesehatan pekerja

Dengan data yang telah dijelaskan di atas, WHO berharap ada gerakan yang lebih peduli dengan kondisi kesehatan para pekerja. 

“Sudah saatnya kita semua, pemerintah, pengusaha, dan karyawan menyadari fakta bahwa jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kematian dini,” Dr Maria Neira, Direktur, Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan WHO.

WHO kemudian mengeluarkan anjuran tindakan yang bisa dijadikan tindakan melindungi kesehatan pekerja, yaitu:

  • Pemerintah dapat memperkenalkan, menerapkan dan menegakkan hukum, peraturan dan kebijakan yang melarang lembur wajib dan memastikan batas maksimum waktu kerja
  • Perjanjian bipartit atau kerja bersama antara pengusaha dan asosiasi pekerja dapat mengatur waktu kerja yang lebih fleksibel, sekaligus menyepakati jumlah jam kerja maksimum
  • Karyawan dapat berbagi jam kerja untuk memastikan bahwa jumlah waktu kerja tidak sampai 55 jam atau lebih dalam seminggu.  

Risiko kesehatan lain terkait panjangnya jam kerja

Stroke dan penyakit jantung adalah dua penyakit yang menjadi perhatian terkait bekerja berlebihan, karena keduanya dapat menyebabkan kematian dini. Tetapi di luar itu, bekerja berlebihan juga dapat meningkatkan risiko kesehatan lainnya, di antaranya:

  • Risiko diabetes: Dilansir dari WebMD, wanita yang bekerja 45 jam atau lebih dalam seminggu memiliki risiko 63 persen lebih tinggi terkena diabetes tipe 2, dibandingkan dengan wanita yang bekerja antara 35 hingga 40 jam.
  • Irama jantung abnormal: Bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu, dibandingkan dengan 35 atau 40, memiliki peluang 1,4 kali lebih besar untuk memiliki irama jantung abnormal.

Sementara itu, bekerja dalam waktu panjang yang disadari, seperti yang dilakukan para workaholic, seringkali memengaruhi kondisi mental seseorang. 

Workaholic cenderung mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), obsessive-compulsive disorder (OCD), anxiety, dan depresi.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr