Covid-19

Apa Efeknya Jika Mengidap DBD dan COVID-19 Bersamaan?

August 19, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Tak hanya berjuang melawan pandemi COVID-19, kekhawatiran lain mulai berkembang tentang demam berdarah. Perlu diketahui, demam berdarah biasanya akan meningkat selama musim hujan.

Lalu, bagaimana jika seseorang mengidap COVID-19 dan demam berdarah dengue atau DBD secara bersamaan. Nah, untuk mengetahui dampak akibat mengidap DBD dan COVID-19 bersamaan, yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Mungkinkah Vaksin COVID-19 Diberikan Melalui Hidung?

Bisakah mengidap DBD dan COVID-19 secara bersamaan?

Seseorang bisa mengidap demam berdarah dan COVID-19 secara bersamaan. Namun dilansir NCBI, demam berdarah dan COVID-19 sulit dibedakan karena memiliki fitur klinis dan laboratorium yang sama.

Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa DBD dan COVID-19 memiliki gejala yang tumpang tindih. Beberapa penulis bahkan menggambarkan kasus yang salah didiagnosis sebagai demam berdarah, di mana kemudian dikonfirmasi sebagai COVID-19. 

Perlu diketahui, baik COVID-19 maupun demam berdarah memiliki gejala, seperti demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri pada tubuh. Namun, musim demam berdarah mungkin dapat memperburuk situasi COVID-19 karena kedua virus akan saling melengkapi.

Apa dampak akibat mengidap DBD dan COVID-19 bersamaan?

Selama pandemi COVID-19, begitu musim demam berdarah dimulai maka infeksi dapat menyebar secara agresif karena tingginya prevalensi nyamuk. Ahli virus Amity University di Kolkata, Dhrubjyoti Chattopadhyay mengatakan bahwa efeknya akan sangat kritis.

Hal ini dikarenakan gejala utama antara demam berdarah dan COVID-19 akan tumpang tindih sehingga infeksi simultan menjadi jauh lebih fatal. Selain itu, sistem kekebalan yang melemah juga bisa membantu gejala lainnya menjadi lebih parah atau fatal.

Meski kedua virus menginfeksi melalui jalur dan jenis sel yang berbeda, namun efek tumpang tindih pada fisiologis serta respons imunologis tetap terjadi. Kondisi tersebut kemungkinan besar akan membuat setiap penyakit lebih buruk daripada hanya satu infeksi yang terjadi.

Adakah pengobatan jika menderita kedua penyakit ini?

Baik demam berdarah dan COVID-19 membutuhkan pengobatan simtomatik di mana dalam beberapa aspek pengobatannya agak kontradiktif dan rumit.

Pada COVID-19, biasanya dokter akan menyuntikkan obat heparin secara subkutan yang pada akhirnya mencapai aliran darah.

Suntikan ini dilakukan untuk mencegah emboli pada pasien yang dapat berakibat fatal. Emboli sendiri merupakan penyumbatan arteri secara tiba-tiba yang dapat menghalangi aliran oksigen di mana menjadi penyebab beberapa pasien mengalami komplikasi bahkan setelah operasi.

Di sisi lain, infus trombosit sangat diperlukan dalam kasus demam berdarah. Karena itu, suntikan heparin tidak dapat dilakukan jika pasien COVID-19 juga mengidap penyakit demam berdarah bersamaan.

Biasanya, jika pasien menderita COVID-19 dan demam berdarah secara bersamaan, maka pengobatan tergantung pada penyakit mana yang lebih dominan. Penanganan paling tepat adalah dengan pengobatan simtomatik atau meredakan gejala umum pada penyakit yang diderita.

Apa saja pencegahan yang bisa dilakukan?

Cara terbaik untuk menghindari infeksi COVID-19 dan demam berdarah secara bersamaan adalah melakukan tindak pencegahan. Untuk COVID-19, kamu bisa menerapkan protokol kesehatan pada umumnya, seperti mengenakan masker, rutin mencuci tangan, dan jaga jarak.

Sementara itu, jika penyakit demam berdarah sudah mewabah maka terdapat pula pencegahan yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan dan hindari tempat dengan genangan air karena nyamuk dapat berkembang biak.

Jika gejala umum COVID-19 atau demam berdarah sudah mulai dirasakan, maka segera periksakan dengan dokter. Biasanya, dokter akan melakukan diagnosis lebih lanjut untuk mengetahui apakah infeksi yang diderita disebabkan oleh virus corona atau nyamuk Aedes aegypti.

Segera melakukan pemeriksaan merupakan salah satu bentuk pencegahan dini. Selain itu, pencegahan lainnya juga dapat membantu menghindari risiko keparahan gejala akibat terlambat menangani penyakit.

Baca juga: Wajib Tahu, Ini Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kesehatan Mental Remaja

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
register-docotr