Covid-19

6 Hal soal Avifavir, Obat COVID-19 yang Telah Disetujui BPOM

April 6, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Wabah corona memang belum berakhir. Namun berbagai kabar baik mulai berdatangan, dan salah satunya adalah surat izin penggunaan darurat terhadap obat COVID-19 Avifavir.

Dilansir dari Kompas, Direktur Marketing PT Pratapa Nirmala (Fahrenheit) John, memastikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan izin penggunaan darurat terhadap obat COVID-19 Avifavir.

John mengatakan, pihaknya menerima surat tersebut pada 17 Maret 2021. Lalu, seperti apa obat yang diproduksi oleh Rusia ini?

Baca juga: 3 Alasan Lansia Tidak Diprioritaskan Mendapat Vaksin COVID-19

1. Apa itu Avifavir?

Dilansir dari Universitas Gadjah Mada, Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik UGM, Prof. Apt. Zullis Ikawati, Ph.D., menyampaikan bahwa ini merupakan obat COVID-19 buatan Rusia yang berbahan dasar favipiravir.

Favipiravir sendiri merupakan obat anti virus untuk mencegah influenza yang telah dikembangkan Jepang sejak tahun 2004 silam.

2. Penggunaan Avifavir selama masa pandemi COVID-19

Selama wabah corona terjadi, obat ini telah dipakai dalam panduan terapi COVID-19 di Indonesia. Obat ini juga merupakan drug repurposing, yang bermakna obat ini sudah beredar dan digunakan untuk indikasi baru yaitu terapi COVID-19.

 “Jadi, Avifavir ini bukanlah obat baru. Sebelumnya sudah ada favipiravir yang dikembangkan Jepang sebagai obat antiinfluenza, tetapi masa patennya sudah habis. Setelah itu, banyak industri farmasi di beberapa negara dunia seperti India, China, juga Rusia memproduksinya dengan brand name yang berbeda dan digunakan untuk COVID”

Papar Prof. Apt. Zullis Ikawati, pada Senin (29/3).

3. Uji coba Avifavir

Dilansir dari Gulfnews, ada beberapa uji coba yang dilakukan di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Italia, Jepang, dan India.

Percobaan tersebut umumnya dilakukan untuk melihat berbagai hal seperti, efek obat terhadap demam, batuk, oksigenasi, waktu pemulihan dan waktu yang dihabiskan di rumah sakit, serta seberapa cepat sistem pernapasan bersih dari virus.

Sampai dengan saat ini, uji coba Avifavir masih berada di tahap terakhir yang melibatkan 330 pasien dan sedang berlangsung di 35 pusat kesehatan di seluruh Rusia.

Baca juga: Fakta di Balik Hoax Vaksin Sinovac Bisa Memperbesar Alat Kelamin

4. Hasil uji coba pendahuluan

Dilansir dari European Pharmaceutical Review, data perantara dari uji klinis Avifavir menunjukkan bahwa obat ini memiliki kemanjuran tinggi yang tinggi dalam mengobati pasien dengan virus corona.

Berikut adalah informasi lebih rincinya:

  • Setelah 10 hari uji coba, waktu rata-rata untuk menghilangkan COVID-19 dengan Avifavir adalah empat hari, dibandingkan dengan sembilan hari dengan terapi standar.
  • Setelah empat hari, 65 persen penerima Avifavir dites negatif untuk COVID-19, dalam 10 hari jumlah ini meningkat menjadi 90 persen.
  • Khasiat obat tersebut 80 persen, menurut penelitian tersebut
  • Setelah 10 hari uji coba dengan avifavir, pasien melaporkan tidak ada efek samping baru.
  • Tahap terakhir dari uji klinis avifavir yang melibatkan 330 pasien sedang berlangsung di 35 pusat kesehatan di seluruh Rusia.

Uji coba pendahuluan juga menunjukkan bahwa obat ini dapat mempersingkat waktu pemulihan untuk pasien dengan COVID-19.

Data dari uji klinis obat sebelumnya di China memperlihatkan bahwa 65 persen dari 40 pasien dinyatakan negatif virus corona setelah lima hari pengobatan.

5. Cara kerja obat

Avifiravir bekerja dengan memblokir kemampuan virus untuk bereplikasi di dalam sel. Pada akhirnya ini akan menghambat produksi RNA virus yang mencegah virus menggandakan diri di dalam tubuh manusia.

Namun penting untuk dicatat bahwa ada beberapa masalah keamanan yang telah ditunjukkan dalam penelitian obat ini pada hewan. Misalnya efeknya terhadap perkembangan janin.

Ini artinya Avifavir tidak dapat diberikan kepada wanita hamil, dan beberapa dokter mengatakan mereka tidak akan merekomendasikannya untuk anak-anak atau remaja.

6. Peredaran Avifavir

Avifavir hanya diperuntukkan pada pasien COVID-19 dengan gejala sedang sampai berat sesuai panduan terapi. Pemberiannya juga tidak bisa diperoleh secara bebas dan hanya dapat diperoleh atas resep dokter.

Masyarakat umum diminta untuk tidak coba-coba mencari obat ini, karena ketersediaannya terbatas dan hanya didistribusikan di sejumlah rumah sakit rujukan COVID-19. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Gulf News, Avifavir, first COVID-19 drug from Russia: What you need to know, diakses pada 5 April 2021

European Pharmacetical Review, 60,000 doses of avifavir, a COVID-19 treatment, to be delivered in June diakses pada 5 April 2021

Universitas Gadjah Mada, Mengenal Avifavir Sebagai Obat Covid-19 diakses pada 5 April 2021

Kompas, Avifavir, Obat Covid untuk Pasien Gejala Ringan-Sedang, Usia di Atas 18 Tahun diakses pada 5 April 2021

    register-docotr