Covid-19

2 Kali Dosis Vaksin COVID-19 Memberikan Perlindungan Seumur Hidup, Benarkah?

June 29, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Vaksinasi adalah cara teraman untuk mendapatkan kekebalan terhadap virus corona. Namun berapa banyak dosis yang diperlukan untuk mencapai imunitas terbaik terhadap virus ini, masih menjadi misteri.

Sejauh ini dua dosis vaksin COVID-19 masih dianggap pilihan terbaik untuk mewujudkannya. Tapi apa benar hal tersebut bisa memberikan perlindungan seumur hidup?

Baca juga: Penelitian Terbaru: Vaksinasi COVID-19 pada Ibu Hamil Berikan Antibodi untuk Janin

Studi terbaru tentang ketahanan imunitas penyintas COVID-19

Dilansir dari Healthline, baru-baru ini dua buah studi menemukan bahwa kekebalan yang disebabkan infeksi virus corona dapat bertahan berbulan-bulan, atau bahkan lebih lama dari itu.

Studi juga menyebutkan bahwa vaksinasi dapat memperpanjang durasi kekebalan tersebut. Kesimpulan ini diperoleh setelah meneliti sejumlah orang yang terpapar virus corona kira-kira setahun sebelumnya.

Studi pertama menunjukkan bahwa sel-sel kekebalan yang terletak di sumsum tulang menyimpan “memori” virus corona, dan mampu membuat antibodi pelindung untuk mencegah infeksi ulang.

Studi lainnya juga mengemukakan hal yang serupa. Disebutkan bahwa sel-sel kekebalan ini dapat matang dan menguat selama sekitar satu tahun setelah infeksi.

Pengaruh vaksinasi pada imunitas penyintas COVID-19

Temuan penting lain dari kedua studi tersebut, adalah banyak orang yang pulih dari COVID-19 dan kemudian menerima vaksin mRNA (seperti vaksin Moderna atau Pfizer-BioNTech) mungkin tidak memerlukan suntikan booster untuk memperkuat imunitasnya.

Ini karena saat mereka divaksin, tubuhnya akan menghasilkan antibodi dan sel B memori, yang berfungsi melindungi tubuh dari berbagai jenis virus corona. Sel B merupakan jenis sel darah putih yang bertanggung jawab atas kekebalan tubuh.

Sel ini berasal dan matang di sumsum tulang, kemudian bermigrasi ke limpa dan kelenjar getah bening. Selanjutnya sel B menjadi aktif sebagai respons terhadap antigen, virus, atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Cara kerja sel B menghancurkan virus corona

Dr. Miriam Smith, kepada Healthline menjelaskan bahwa sel B memiliki reseptor di permukaannya yang dapat mengikat patogen ini.

Dengan bantuan dari sel T, komponen lain dari sistem kekebalan, sel B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma untuk menghasilkan antibodi yang menjebak virus atau bakteri dan memungkinkan sel lain untuk menghancurkannya.

Smith juga mengatakan bahwa setelah infeksi, sel B “memori” akan tetap ada. Jadi jika virus atau bakteri yang sama menyerang lagi, sistem kekebalan tubuh akan “mengingat” dan mengaktifkan fungsinya kembali untuk melawan serangan virus tersebut.

Penyintas corona tetap perlu divaksin

Meski telah memiliki kekebalan alami terhadap virus corona, namun sepanjang yang diketahui itu hanya akan berumur tidak lebih dari 11 bulan. Jadi kamu tidak dapat mengandalkan infeksi sebelumnya untuk mencapai kekebalan seumur hidup.

Kamu masih berpotensi mengalami infeksi ulang, dan ini tidak selalu berarti kasus penyakit yang lebih ringan. Oleh karena itu, tindakan pencegahan termasuk pemberian vaksinasi tetap penting untuk dilakukan.

Vaksinasi pada penyintas COVID-19 juga tetap diperlukan karena antibodi yang dihasilkan infeksi berbeda dengan antibodi yang didapatkan dari imunisasi.

Pemberian jumlah suntikan vaksin di masa depan

Jika mayoritas penyintas COVID-19 yang diimunisasi dengan vaksin mRNA tidak perlu suntikan booster untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya terhadap virus.

Hal yang sama tidak berlaku bagi orang yang divaksinasi tanpa terinfeksi sebelumnya. Dalam kasus seperti ini, kamu kemungkinan akan tetap memerlukan suntikan dosis kedua untuk menghasilkan respons kekebalan yang cukup kuat.

Dilansir dari The Conversation, ini karena pada vaksinasi pertama tubuh akan mengajarkan sistem kekebalan ‘segala hal tentang’ virus corona yang kelak perlu dicarinya.

Kemudian, setelah sistem kekebalan memiliki waktu untuk merespons pemberian dosis pertama, ia akan ditantang lagi dengan paparan virus yang kedua. Oleh karena itu, sebagian besar vaksin COVID-19 memerlukan dosis lebih lanjut agar menciptakan kekebalan tubuh yang optimal.

Pemberian dosis vaksin kedua juga dilakukan dengan pertimbangan imunitas dapat berkurang seiring waktu. Atau seperti halnya vaksin flu, virus penyebab corona juga dapat mengalami perubahan sehingga vaksin asli tidak lagi memberikan perlindungan dengan baik.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Nature, diakses pada 29 Juni 2021

Healthline, diakses pada 29 Juni 2021

The Conversation, diakses pada 29 Juni 2021

    register-docotr